Usai memperdengarkan kehadirannya di pentas rock Tanah Air lewat dua lagu rilisan tunggal berjudul “Terbutakan” (2022) dan “Angkara” (2023), kini unit modern rock asal Yogyakarta ini kembali melepas karya baru. Kali ini bertajuk “Sang Pembenar” yang memuat kritikan Minoris terhadap sebuah sistem demokrasi dengan cara yang juga demokratis.
Lirik lagu itu, didasari pengalaman pribadi gitaris Minoris, Daniel Ezra Raditya yang menyoroti perilaku netizen, yang ingin selalu dianggap benar dan mudah menghakimi. Dan saat ini, menurutnya, banyak terjadi orang yang menyalahgunakan hak bersuaranya sekadar untuk menyerang orang lain. Pola pikir netizen atau orang-orang yang sangat mudah menghakimi dan merasa diri ‘paling’ benar.
“Seperti pandangan dan keresahan Ezra yang sudah diutarakan. Saya lebih melihat sebuah kondisi yang terjadi tidak hanya di dunia maya, tetapi menjamur ke berbagai kalangan. Sebuah budaya baru yang lahir dari akibat penyalahgunaan hak bersuara atau yang biasa kita kenal sebagai ‘demokrasi’. Saya turut risih melihat fenomena dimana orang orang suka sekali menghakimi, memfitnah, bahkan menuntut tanpa adanya pengertian atau melihat dari sudut pandang sosok yang mereka hujani hujatan. Saya pikir sebagai manusia yang menanam serta percaya akan demokrasi, salah satunya seharusnya bisa lebih bijak dalam bertutur kata dan harus bisa mempertanggungjawabkan apa yang mereka utarakan. Tidak malah menjadi pengecut dan para biadab yang hanya berani lempar batu sembunyi tangan,” seru vokalis Rizki Patra mengulas inti di balik pesan lagu “Sang Pembenar”.
Di lagu ini, Minoris yang juga diperkuat gitaris Rinto Marselino, dramer Nanda Putranto serta bassis Nur Aurarahman Azzuri Akbar tidak mengeksekusi keseluruhan lagunya sendiri. Mereka juga berkolaborasi dengan Billy, vokalis grup rock dari Yogyakarta, Lawrider. Billy menyumbangkan suara serta isi pikiranya dalam penulisan lirik, khususnya di bagian interlude berupa isian vokal rap. Dengan suaranya yang khas, Billy memberikan warna penegas serta kesan kemarahan terhadap musik Minoris.
Kepada MUSIKERAS, band bentukan Oktober 2021 lalu ini mengungkapkan bahwa proses kreatif yang mereka jalani saat meracik “Sang Pembenar” terbilang sedikit unik dan berbeda dibanding dua lagu mereka terdahulu. Karena rilisan ketiga ini rupanya sudah diciptakan sebelum “Angkara” dirilis. Ada beberapa versi atau perubahan secara aransemen hingga lirik, sampai akhirnya dirilis.
“Sebenarnya judul awal yaitu ‘Netizen Waras’, lalu Patra mengusulkan perubahan judul menjadi ‘Sang Pembenar’ dengan maksud agar menjadi lebih luas secara diksi. Dengan adanya tambahan ide berupa rap session dari Patra akhirnya menghadirkan beberapa hal baru dalam proses pembentukan ulang badan lagu,” urai pihak band merinci.
Keseluruhan proses produksi “Sang Pembenar”, terhitung mulai dari tahapan pra produksi hingga rampung mnghabiskan waktu selama kurang lebih sebulan.
“Ada tantangan baru dalam segi kreatif, dimana kami harus membuat riff dan beat yang sesuai dengan dinamika yang diinginkan, dengan diawali melodi yang terbilang tenang hingga menjadi keras dan dramatis di ending. Ditambah pula dengan adanya part baru di dalam lagu yang berisikan rap. Lagu ini semi diaransemen ulang agar dapat menunjang vibe yang diinginkan. Terdapat fun fact dalam lagu ini, yaitu mengalami tiga kali pergantian tempo!”
Keras dan manis, lanjut Minoris lagi, mungkin merupakan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan musik “Sang Pembenar”. Dari sisi musik, lagu tersebut direkam dengan gitar yang hi-gain, menerapkan penalaan rendah (low tuning), serta pemilihan sound gitar dan bass yang menurut para personel Minoris seperti ‘marah-marah’.
“Kami ingin menggambarkan suasana keras serta diberi bumbu lirik yang kritis, terutama di bagian rap yang ditulis oleh Patra dan Billy. Dari segi vokal, kami juga menerapkan teknik bernyanyi yang sedikit berbeda dari lagu sebelumnya. Selain dari sisi keras itu, kami juga membalut lagu ini dengan beberapa (elemen) synth, pad dan orkestra untuk menambah kesan manis dan megah di lagu ini. Dapat didengarkan di awal dan akhir lagu.”
Saat peracikan komposisi serta aransemen “Sang Pembenar”, para personel Minoris mengakui menyerap cukup banyak referensi. Antara lain terinspirasi unsur musik dari band-band lokal seperti Dewa19, Captain Jack, Zima serta band asal Inggris, Nothing but Thieves.
“Mungkin itu yang paling dapat dirasa dan didengar dari lagu ini. Untuk penulisan lirik sendiri, rata-rata ditulis oleh Ezra dan Patra, dan mereka memiliki karakterisasi kuat versi mereka masing-masing, yang nantinya selalu diterapkan bersama. Ezra memiliki gaya penulisan yang lebih to the point dan sederhana seperti Dewa19 dan Zima, sedangkan Patra memiliki karakterisasi yang lebih subliminal dan metaphorical dalam gaya penulisannya. Perpaduan dari dua hal ini yang membuat lirik-lirik Minoris menjadi cukup memiliki karakter.”
Saat ini, Minoris juga sudah mulai menyiapkan rilisan keempat, sambil menyiapkan video musik untuk lagu “Sang Pembenar”. Juga ada rencana untuk penggarapan album mini (EP) yang sebenarnya sudah mereka rencanakan rilis tahun ini.
“Tapi terdapat beberapa kesepakatan dari personel Minoris sendiri untuk fokus menyebarkan beberapa karya yang telah kami rilis, maupun yang belum, dari panggung ke panggung untuk saat ini. Tetapi semoga saja dengan keadaan serta keberuntungan yang cukup EP atau bahkan album bisa dikejar lebih cepat.”
“Sang Pembenar” yang direkam di Trilogy Audio Works, Yogyakarta sudah beredar di berbagai platform digital sejak 22 Maret 2024. (aug/MK02)