Kini, LINGKAR CENDALA Beralih ke Doom/Post-Metal

Usai mengubah format personel, sekaligus paham dan konsep musiknya, kini Lingkar Cendala mengesahkannya lewat peluncuran lagu “Catasthrope”.
lingkar cendala

“Catasthrope” merupakan karya rekaman pembuka menuju perilisan album penuh Lingkar Cendala, yang ditargetkan bisa dirilis tahun depan.

Kali ini, unit doom/post-metal asal Karawang, Jawa Barat ini memadukan pendekatan penulisan lirik yang tajam dengan gaya musik yang kelam. Semua aura kelam tersebut diberi penyeimbang dengan unsur vokal syahdu yang diisi oleh suara vokalis Amelia Putri, yang cenderung bergaya folk.

Untuk seterusnya, “Catasthrope” akan menjadi wajah dan lembaran baru bagi Lingkar Cendala, yang awalnya berangkat dari memainkan garage punk. 

Apa yang menjadi kepuasan sekaligus tantangan mereka dalam memainkan konsep yang diterapkan sekarang?

“Tentunya pendewasaan bermusik,” seru pihak band kepada MUSIKERAS diplomatis.

“(Kami) Lebih fokus untuk setiap tempo yang berubah-ubah dalam setiap lagu, karena banyak unsur mathrock dan jazz buat ketukan dramnya. Kami ngejaga biar pakem ‘doom metal’-nya kerasa dari riff-riff gitarnya. Kami bisa eksplor apa yang kami pengen buat setiap komposisi lagunya. Jomplang jauh dari musik yang kami mainin sebelumnya, yang pure rock n roll, punk dan urakan.” 

Saat penggarapan “Catasthrope”, formasi Erick Ardiansyah aka Desta Ericksen (gitar/vokal latar), Briansyah (bass), Rifqi Azfa (gitar), Ramadhan Tama (dram) dan Amelia Putri sedikit banyak terinspirasi musik-musik dari Black Sabbath (Inggris), Sigmun (Bandung) serta beberapa band yang memainkan doom, post hardcore dan post metal lainnya macam Krobak (Ukraina), Gambardella (Spanyol), Touché Amoré (AS), Electric Wizard (Inggris), WISP (Inggris) dan Church of Misery (Jepang).

Namun, walaupun secara musikal atau genre terjadi perubahan yang sangat drastis, namun di departemen lirik masih mencirikan Lingkar Cendala yang kritis terhadap kehidupan sosial. 

Single ini merupakan laporan pandangan mata terhadap kondisi sosial di Indonesia saat ini, dimana kebobrokan sistem dari segala arah terjadi. Penulisannya pun terinspirasi dari berbagai kejadian di Indonesia, salah satunya era ’98 yang sedikit distopia yang sayangnya terjadi kembali di tahun 2024 ini,” tutur Desta Ericksen mengulas temanya.

lingkar cendala

Dan ternyata, ujar Desta lagi melanjutkan, disamping nepotisme, korupsi dan kolusi tak benar-benar lenyap dari Indonesia. Lalu kondisi alam juga memperparah nuansa depresif negeri ini, yaitu banjir, polusi dan kerusakan alam.

“Catasthrope” sendiri diaransemen, direkam dan diproduseri oleh Desta Ericksen dengan memaksimalkan fasilitas rekaman rumahan. Lalu semua proses mixing dan mastering diserahkan kepada Septian Satriani dari Unseen Records, yang kebetulan juga mantan dramer Lingkar Cendala.

Ketika dibentuk oleh Desta dan Briansyah pada 2020 lalu, Lingkar Cendala memulai kiprahnya dengan memainkan musik rock n roll dan merilis lagu debut berjudul “Langkah Kidal”. Lalu pada 10 Maret 2023 melepas karya album mini (EP) berjudul “Manifesto Alegori Cendala”.

Dengan formasi terkini, Lingkar Cendala telah memulai proses penggarapan album penuh. Dan sejauh ini, sudah berhasil merekam demo berisi enam lagu.

“Karena referensi musik yang sama, memudahkan kami untuk setiap garapan per lagunya,” ujar Lingkar Cendala meyakinkan. 

Lagu “Catastrophe” sendiri sudah tersaji di di berbagai platform digital sejak 24 Oktober 2024 lalu. (mdy/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
hazar
Read More

HAZAR: Bukan Sekadar ‘Menghajar Keras’

Menandai pergantian tahun, Hazar letupkan rilisan album debut bertajuk “Minor Dramatic”, yang sarat gaya hardcore dengan irisan metal dan punk.