Arsip 2001 memuntahkan lima trek karya rekaman yang agresif tersebut, yang menangkap esensi musik ‘kasar’ mereka yang liar, eksploratif dan dinamis dengan semangat garage-punk.
Istilah ‘transfusi’ sendiri merupakan representasi dari ekspresi seseorang yang ‘jemu’ dan tertahan dengan keadaan, kemudian meledak-ledak tak terkendali. Dorongan energi yang spontan dengan lirik yang eksplisit mendefinisikan semangat musik Arsip 2001.
Pada trek “Meracau”, Arsip 2001 menghadirkan esensi eksperimen dengan berkolaborasi dengan Judo yang mengisi instrumen cello. Secara teknis, Arsip 2001 mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa lagu itu jugalah yang paling menantang proses rekamannya.
“Tantangan teknisnya yang pertama, kami harus ke Yogyakarta buat brief sekaligus menemani proses rekaman (dengan Judo). Kedua, kami merekam cello ini home recording dengan alat seadanya. Jadi ketika rekaman ada kekhawatiran kualitas sound yang dihasilkan,” tutur mereka mengakui.
Lalu tantangan yang ketiga, mereka juga lumayan kuatir akan hasil rekaman cello yang akan digabung dengan hasil rekaman mereka yang lain bakal terdengar ‘belang’ dan sulit untuk diolah di proses mixing.
“Tapi untungnya dengan dukungan teman-teman, semuanya berjalan lancar dan segala struggle bisa kami lewati dengan baik. Meski kami belum puas 100% dengan hasilnya, at least kami udah mendekati dengan standar apa yang kami mau.”
Materi lagu-lagu di EP “Transfusi” sendiri didominasi oleh karya yang ditulis oleh vokalis Muhammad Ikhlas Sauli sekitar 2018 silam. Namun, dalam perjalanannya, materi-materi tersebut mengalami transformasi dengan aransemen tiap personel.
Keseluruhan materi mulai direkam Sauli bersama bassis Alip Evaldi, gitaris Rizki Tri Haryanto serta dramer Hamdan Martaadji di NM Studio, Tangerang pada 1 Mei 2024. Kecuali untuk cello yang rekamannya dilakukan di Jarwo Studio, Bantul.

“Energi yang muncul secara spontan, tergesa-gesa nyari instrumen buat mengeluarkan semua racun yang udah lama kependam dan tertunda, sesuatu yang udah bersarang lama, terus bertumbuh dan meledak, menciptakan bising yang nyengat telinga,” begitu Sauli menyebut pemicu lahirnya EP “Transfusi”.
Proses penggarapan rekaman EP “Transfusi” keseluruhan hanya menghabiskan waktu cuma sekitar tiga bulan, plus sesi overdub yang dieksekusi di salah satu rumah rekan band.
Dari sisi peracikan suara, keempat personel Arsip 2001 bermodalkan beberapa referensi yang cukup berbeda satu sama lain. Namun mereka lantas setuju untuk mengarahkan rekamannya menjadi se-‘raw’ mungkin.
“Secara teknis, kami mau buat sound-nya gak terlalu terdengar ‘sempurna’. Jadi masih mau mengedepankan tipe sound yang agak busuk. Setelah ngobrol-ngobrol dengan beberapa teman, kami setuju pada satu kesimpulan bahwa materi kami direkam secara proper, baru nanti pada saat proses mixing–mastering akan kami ‘rusak’ sesuai kebutuhan.”
Konsep serta formula yang mereka terapkan tersebut, sekaligus menjadi ciri yang membedakan Arsip 2001 dengan band-band sejenis. Paling tidak, mereka punya keberanian memutuskan untuk bereksperimen dalam bermusik.
“Kami juga berusaha sejujur mungkin buat menyajikan musik-musik yang kami bawakan supaya nggak terdengar ingin menjadi siapa-siapa,” tegasnya.
Arsip 2001 terbentuk di Rawa Kambing, Tangerang pada 2021 lalu, dan menetapkan paham musiknya di jalur garage-punk. Sedikit banyak, mereka terinspirasi dari band lintas genre seperti The Damned, Tarrkam, The Kuda hingga King Gizzard & The Lizard Wizard.
EP “Transfusi” sudah dilampiaskan ke berbagai platform digital sejak 6 Januari 2025 lalu. (mdy/MK01)