Prison Of Blues is on fire! Jika tak ada kendala, pada Oktober 2025 mendatang, unit psychobilly asal Temanggung, Jawa Tengah ini bakal kembali melanglang daratan Eropa untuk menggelar tur konser.
Sejumlah persiapan telah mereka lakukan. Salah satunya dengan merilis amunisi baru, berupa album studio keempat mereka, yang bertajuk “Born To Be Killers”, yang diedarkan via Greenland Indonesia sebagai produser eksekutif, dan Musicblast.id untuk distribusi digitalnya.
Selain dalam format digital, “Born To Be Killers” juga akan diproduksi dalam format cakram padat (CD) dan piringan hitam (vinyl).
Karena menurut band ini, audiens mereka di Eropa menganggap sebuah karya harus diabadikan dalam format fisik. “Yang mereka cari adalah album fisik, selain tshirt,” ujar Bayu Randu Aji Widodo, kepada MUSIKERAS, gitaris sekaligus produser album terbaru Prison Of Blues.
Sejauh ini, band yang juga digerakkan vokalis dan gitaris Pribadi Adi Prabowo (Bowo), dramer Endy ‘Barock’ Barqah, gitaris Thofan ‘Murdox’ Hendrawan dan Mahadhana Dira Priyahita (Dhana) untuk contrabass telah mencatat empat kali tur internasional yang berlangsung pada 2016, 2017, 2018 dan 2024 lalu.
Dan kini, sebagai bagian dari promo album terbarunya, Prison Of Blues dijadwalkan kembali menjalani tur Eropa. Mereka telah mencanangkan singgah di 17 jadwal pertunjukan, yang akan berlangsung di empat negara. Di antaranya tampil di beberapa festival psychobilly paling bergengsi.
Sebelumnya, mereka sukses menggetarkan panggung Psychobilly Meeting Festival di Barcelona, Spanyol pada 2-9 Juli 2024 lalu, serta tampil memukau di depan publik London, Jerman dan Belanda.
Punk Horor
Paham psychobilly sendiri memang tidak terlalu populer di Indonesia. Tapi di Eropa, berkembang pesat. Karakter musiknya kurang lebih merupakan kombinasi ‘keceriaan’ rockabilly dengan energi tinggi punk rock dan garage rock.
Disinyalir awal kemunculannya di kota New York, AS pada era 1970-an, namun lantas berkembang pesat di Inggris, lalu menyebar ke Eropa.
Salah satu ciri khas psychobilly adalah adanya terapan permainan bass tegak (upright bass) yang kerap dimainkan dengan gaya perkusif dan menampar. Sementara keseluruhan musiknya dimainkan dalam tempo cepat dan agresif, dengan garukan ritmik gitar yang kerap berdistorsi.
Keseluruhan getaran itu lantas dilengkapi dengan tema lirik yang gelap, yang didominasi unsur-unsur horor, yang terinspirasi kisah-kisah gelap dari kejadian nyata serta tokoh hantu di Eropa.
Itulah mengapa Prison Of Blues selama ini lebih banyak fokus menyasar pasar Eropa dalam memperkenalkan karya musiknya. “Karena genre ini belum banyak dikenal di Indonesia,” ujar Bowo lagi, menegaskan.
Hingga suatu saat, rekan-rekan mereka di Eropa, khususnya dari sesama penganut psychobilly menyarankan untuk mengedukasi tentang aliran musik tersebut di Indonesia.
Salah satunya seruan dari Mark ‘Sparky’ Phillips, pentolan grup psychobilly legendaris asal Wales, Demented Are Go.
“Kalian harus menyebarkan (psychobilly) ini di Asia. Khususnya di Indonesia,” ucap Bowo menirukan seruan Sparky.
“Jadi kami ingin mulai membuka jalan dan mengedukasi soal psychobilly di negeri sendiri. Makanya tema lirik di album kami mengangkat horor lokal.”
Elemen horor lokal Nusantara yang digaungkan benar-benar merupakan ‘kearifan lokal’ seperti pocong, kuntilanak, kisah santet, hingga legenda pasar setan dan mitos-mitos gelap lainnya.
Semua itu dibalut dalam lirik dan atmosfer yang mengakar pada memori kolektif masyarakat Indonesia, menciptakan pengalaman musikal yang bukan hanya menghantui, tapi juga menghidupkan sisi gelap budaya lokal.
“Di album ini, saatnya kami memberi panggung untuk pocong, kuntilanak, dan cerita-cerita horor lokal yang nggak kalah menyeramkan,” ujar Bayu Randu memperjelas.
Selain itu, bagi band ini, “Born To Be Killers” bukan hanya selebrasi horor lokal, namun juga merupakan misi untuk memperkenalkan psychobilly pada pendengar musik Indonesia yang haus akan sesuatu yang berbeda, berani, dan liar.

Disantet Mertua
Album “Born To Be Killers” sendiri berisi 15 lagu yang direkam secara live, yang menyuguhkan ledakan energi panggung khas Prison of Blues.
Kenapa harus direkam secara live? Selain untuk penghematan biaya, urai Bayu, juga untuk menangkap energi para personel yang lebih jujur dan liar.
Dengan metode itu, proses rekaman beberapa lagu pun menjadi unik. Salah satu contohnya, saat rekaman lagu “Devil’s Inside” yang menghadirkan kolaborator Zahedi Riza ‘Eet’ Sjahranie (gitaris Edane) yang menyumbangkan permainan solonya yang beringas.
“Jadi kami yang mengikuti tempo isian mas Eet, karena rekaman gitarnya sudah sejak lama,” tutur Bowo mengklarifikasi.
Maklum, karena pengerjaan materi lagu-lagu di album ini memang sudah berlangsung cukup lama. Tepatnya sejak masa pandemi.
Bagi Eet sendiri, mengisi permainan solo gitarnya di lagu Prison Of Blues adalah pengalaman baru, karena awalnya juga tidak punya referensi mengenai aliran psychobilly ini. “Tapi ternyata bisa juga dikawinkan dengan heavy metal,” cetus mantan gitaris Godbless tersebut.
Ya, selain keterlibatan Eet, album “Born To Be Killers” ini memang menghadirkan cukup banyak musisi tamu. Di lagu berjudul “Pocong (Disantet Mertua)”, mereka mengajak dari Ari Tri Sosianto (Padi Reborn) dan Rangga Zacky (eks Funky Kopral).
Selebihnya, juga ada Dellu Uyee di lagu “Zombie di Ruang Tamu”, KMNG (Serigala Malam) di lagu “Tersesat”, Dimitri Hauck (Cenobites-Netherland) dan Ramon Sitoci (eks Mad Sin, Belanda) di lagu “Painkiller”, Capt. DelToro (Southern Beach Terror) di lagu “Ghost Wave”, Grace Lehurliana di lagu “Graveyard Shadows”, Ninis dan Juki Ki Sanak Harmonica di lagu “One Night With The Devil” dan Astryd Tyas di lagu “Kuntilanak”.
Pesta Kuburan
Prison Of Blues terbentuk pada 2007 silam, sebagai band yang mengibarkan lagu-lagu punk rock. Namun didasari keinginan untuk menampilkan sesuatu yang berbeda, mereka pun beralih ke pola psychobilly, dengan acuan inspirasi dari band-band seperti Mad Sin, Rezurex hingga The Meteors.
Pada 2009, band ini memperdengarkan lagu rilisan tunggal debutnya berjudul “Who Killed Your Friend?”. Setelah itu menyusul lagu “Jealousy” yang disertakan dalam album kompilasi “Sound Of Tobacco 2” (2011).
Setahun kemudian, Prison Of Blues merilis album mini (EP) pertamanya, “Trick Or Threat” (2012). Setelah sempat menyumbangkan lagunya di album kompilasi rilisan majalah Jerman, Dynamite Magazine pada Mei 2013, Prison Of Blues lalu merilis album penuh bertajuk “Graveyard Party” (25 Desember 2016).
Sejauh ini, Prison Of Blues sudah terlibat di 11 rilisan album kompilasi di Eropa dan Amerika. (mdy/MK01)