Killa The Phia kembali meluncurkan karya rilisan baru. Namun kali ini sedikit berbeda. Belum lama ini, mereka meluncurkan lagu bertajuk “Hitam”, dimana unit cadas asal Banda Aceh ini berkolaborasi dengan Rapa’i Pase Raja Buwah, sebuah grup musik etnik dari Provinsi Aceh.
Disamping itu, proyek ini juga merupakan bagian dari sebuah program akselarasi kreatif musik dari Direktorat Musik Deputi Kreativitas Media Kementrian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif.
Sebuah program yang diadakan sebagai bentuk komitmen nyata pemerintah, dalam hal ini Kementrian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif untuk memberi dukungan kepada para musisi lokal untuk terus hidup dari karya-karyanya dan membangun ekonomi kreatif dari daerah.
Pihak Killa The Phia mengungkapkan kepada MUSIKERAS, bahwa sepanjang yang mereka tahu, program itu bertujuan melihat langsung potensi-potensi yang ada di daerah-daerah seluruh Indonesia. Salah satunya Aceh.
“Setelah melakukan scanning maka terpilih Killa The Phia sebagai perwakilan dari Aceh yang mana mengusung tema musik kolaborasi dengan rapai pase. Killa The Phia dianggap sesuai dengan kriteria karena mengangkat unsur budaya daerah sebagai karakter daerahnya sendiri,” urai mereka menjelaskan.
“Hitam” tidak hanya disuguhkan dalam format rekaman audio, melainkan juga dalam bentuk visualisasi video musik. Produksinya dipercayakan kepada Saban Raya Production House yang juga berasal dari Provinsi Aceh.
Video tersebut digarap 100 persen oleh talenta lokal asli Aceh sehingga menjadi sebuah momentum bahwa dari tanah di ujung Sumatra, pemuda-pemuda masih menanam karya agar nanti bumi Nusantara dapat tumbuh jadi bangsa yang raya dari karya-karya hebatnya kembali.
Konsepnya sendiri mengusung semi teatrikal dengan membawa pesan kepada siapa saja untuk selalu membuka ruang kepada setiap anak, setiap perempuan untuk menikmati kebahagiaan, tanpa penindasan dan tanpa kekerasan.
“Single ‘Hitam’ merepresentasikan perlindungan terhadap anak, dimana hal ini sering luput dari pandangan orang-orang. Kami berusaha menggaungkan bahwasanya perempuan dan anak harus dilindungi, khususnya anak adalah sebagai kunci penerus bangsa.”
Tema serta pesan mulia di lagunya itu lantas dipertegas lewat peluncuran resmi yang sengaja dilakukan pada 23 Juli 2025 lalu, bertepatan dengan Hari Anak Nasional (HAN).

Mendewasakan Karakter
Proses produksi lagu “Hitam”, bisa dibilang berlangsung cukup singkat. Dalam waktu lima hari, vokalis Rizki Rahmadhani (Madon), gitaris Reza Arismunandar dan Farhan Anwar Fuadi (Aan), bassis Khairun Nidhalil Wathany (Sinjo), dramer Muhammad Syahrul Ramadhan (Alol) dan Dian Pratama Putra (synthesizer/gitar) berhasil merampungkan proses rekaman, mixing dan mastering.
Sementara untuk pembuatan video musiknya, termasuk tahapan editing, hanya membutuhkan waktu sekitar tujuh hari. Semuanya dilakukan di Banda Aceh.
Pencapaian jempolan di rilisan “Hitam” ini, tentu saja dalam penggarapan musiknya, dimana Killa The Phia menggabungkan kegarangan metal yang menjadi urat nadi mereka dengan unsur etnik rapai pase.
“(Lagu ini) Menjadi genderang peringatan bahwasanya melindungi anak-anak bangsa adalah tugas bersama tanpa mengenal perbedaan. Harmonisasi dan komposisi musik memadukan unsur heavy metal dengan etnik rapai pase menjadi ciri khas tersendiri,” tutur pihak band lagi, meyakinkan misinya.
Tahun depan, Killa The Phia telah mengantongi sejumlah rencana. Di antaranya perilisan album mini (EP) atau album penuh. Tentunya, sebelumnya akan didahului peluncurkan beberapa lagu rilisan tunggal.
Lalu pada 2027 mendatang, akan ada pula rencana perilisan album yang berkonsep lebih fresh, dengan karakter berbeda namun tetap dalam genre yang sama.
“Kami menyebutnya ‘mendewasakan karakter’,” seru Killa The Phia memberi bocoran.
Killa The Phia yang dibentuk pada 8 Agustus 2008 silam, sejauh ini telah mengeluarkan sebuah EP bertajuk “Now The Time” (2015). Selain tampil di berbagai hajatan musik bergengsi di Indonesia, band ini juga sempat mewakili Indonesia di pentas Wacken Open Air Festival 2024 yang berlangsung pada 31 Juli sampai 3 Agustus 2024 di Jerman. (mdy/MK01)