Drop Inside memperlihatkan kedewasaan mereka dalam mengolah amarah dan keresahan menjadi karya yang menggugah, lewat album mini (EP) terbarunya, “Eutopia”.
Unit metalcore asal Tangerang ini memuntahkan lima lagu penuh energi, kritik sosial, serta refleksi emosional di album tersebut, yang bertajuk “Meddler”, “Redam Amarah”, “Retorika Kapitalistik”, “Terpuruk” dan “Geram”.
Tak hanya hadir dengan warna khas yang keras dan tajam, “Eutopia” juga mempersembahkan kolaborasi spesial dengan beberapa musisi sahabat band ini.
Lagu “Retorika Kapitalistik” menampilkan Saipul ‘Tebsky’ Anwar (vokalis Kilometer HC) yang memperkuat nuansa hardcore penuh perlawanan. Pada “Terpuruk”, kehadiran Ivan Kurnia (HIRN) memberikan kedalaman emosional dan atmosfer gelap yang menyayat.
Sementara di “Geram”, Drop Inside menggaet Ibe Tobe yang berkontribusi memberikan energi tambahan yang menjadikan lagu tersebut semakin eksplosif.
Kata ‘eutopia’ yang dijadikan judul diambil dari bahasa Yunani, merupakan gabungan kata ‘eu’ (baik) dan ‘topos’ (tempat). Konsep ini menjadi antitesis dari ‘dystopia’ yang penuh kehancuran.
Band yang digerakkan formasi vokalis Muhamad Yusuf, gitaris Pupung Puardi, bassis Yudi Azizi dan dramer Egi Saputra ini ingin menekankan bahwa meski lirik-lirik di album ini lahir dari amarah, kekecewaan, dan rasa terpuruk, semuanya pada akhirnya bermuara pada harapan.

Retorika Kapitalistik
Secara keseluruhan, diungkapkan Drop Inside kepada MUSIKERAS, proses penggarapan menghabiskan waktu sekitar 4–5 bulan. Band ini merekamnya di Hizie Music Studio, tempat dimana mereka merasa paling nyaman untuk bereksperimen sekaligus menjaga kekuatan karakter sound Drop Inside.
Hasil rekaman lantas dilanjutkan ke proses mixing dan mastering yang dipercayakan kepada gitaris mereka sendiri, Pupung Puardi.
Konsep musik yang diterapkan di sekujur “Eutopia”, ditegaskan pihak band, masih berakar pada karakter khas mereka. Namun kali ini, para personel Drop Inside memperkaya konsepnya dengan sentuhan synth string dan ambience yang dibantu oleh Aditsuro.
“Selain itu, ada sedikit pengaruh dari band-band ternama seperti Polaris, Alpha Wolf, dan sejenisnya, tetapi kami olah sedemikian rupa sehingga tidak terdengar meniru. Justru yang kami tonjolkan adalah ciri khas aransemen dan dinamika Drop Inside sendiri, sehingga hasil akhirnya tetap terasa otentik dan punya identitas yang jelas.”
Beberapa referensi yang mereka dengarkan itu, bagi Drop Inside hanyalah bahan pelengkap. Fokus utama tetap pada karakter musik Drop Inside sendiri.
“Buat mereka yang sudah mengikuti kami sejak awal, pasti akan langsung mengenali part-part khas kami yang selalu muncul di setiap lagu, meskipun kami membungkusnya dengan sentuhan baru.”
Ada beberapa tantangan yang dihadapi para personel Drop Inside saat mengeksekusi produksi rekaman EP “Eutopia”.
Yang pertama, saat merekam lagu “Retorika Kapitalistik”, dimana komposisinya menuntut pergantian tempo serta perubahan groove yang cukup rumit, sehingga membutuh konsentrasi tinggi saat rekaman – khususnya di dram dan gitar – agar tetap rapih.
Begitu juga di lini vokal, yang menuntut kekuatan suara serta artikulasi yang kuat karena liriknya padat dan penuh tekanan.
“Tantangan lain sekaligus kebanggaan adalah saat kami berkolaborasi dengan Tebsky, vokalis Kilometer HC. Kehadiran beliau memberi energi berbeda dan jadi suatu kehormatan bagi kami, karena kolaborasi ini semakin memperkuat karakter agresif lagu tersebut.”
Sejak 19 September 2025 lalu, EP “Eutopia” sudah bisa dilantangkan via berbagai platform digital. Termasuk di kanal Bandcamp.
Melalui musiknya, band bentukan 2016 silam ini ingin mengajak pendengarnya untuk tidak hanya merasakan intensitas suara, tapi juga harapan yang lahir dari dalamnya. (mdy/MK01)