Prison Of Blues akhirnya tuntaskan turnya, menyambangi enam negara Eropa sekaligus, serta beberapa kota di Indonesia. Di kawasan Eropa, unit psychobilly punk ini menjejakkan kaki di negara Jerman, Ceko, Belgia, Hungaria, Austria dan Belanda.
Sebuah pencapaian tersendiri bagi band dengan paham musik yang tergolong minoritas ini.
“Untuk tur Eropa ini, untuk kelimakalinya kami memenuhi undangan salah satu festival psychobilly terbesar dunia, yang diadakan di Oberhausen-Jerman,” ujar Bayu Randu, gitaris dan juga produser dari Prison Of Blues.
Prison of Blues menjalani tur Eropa sepanjang 3-31 Oktober, dan titik terakhir sukses memukau penggemar mereka di Festival “Psychobilly Earthquake 2025”.
Sebelumnya, band asal Temanggung, Jawa Tengah bentukan 2007 silam ini sudah menjadi langganan memenuhi undangan festival psychobilly terbesar. Salah satunya “Psychobilly Meeting” yang berlangsung pada 2016, 2017, 2018 dan 2024.
“Ada hal yang unik dan selalu membuat kami selalu ingin kembali ke festival ini di Eropa, yaitu fanbase kami yang di Eropa. Ini unik karena kami sendiri di Indonesia masih kurang diminati, mungkin karena genre-nya nggak ada yang memainkan di Indonesia sekarang,” urai Endy ‘Barock’ Barqah, sang dramer.
Tapi lucunya, lanjut Endy lagi, banyak yang mengira bahwa di Indonesia, Prison of Blues adalah band besar. “Setelah kami ceritakan tentang tidak adanya skena psychobilly di Indonesia, baru mereka kaget, hahaha!”

Hantu Indonesia
Dalam tur ini, Prison of Blues juga mengajak kolaborator untuk vokal, yaitu Jaka Restiyatno atau yang lebih dikenal dengan nama panggung, Dellu Uyee.
“Saya baru pertama ikut di tur Eropa bareng POB, jujur kaget banget. Band ini di sini besar dan sangat banyak penggemarnya, sampai ada yang bela-belain (datang) dari California, Spanyol, Italia nonton POB,” ujar Dellu ungkap kekagumannya.
Selama beberapa kali menjalani tur di Eropa, band yang juga diperkuat vokalis dan gitaris Pribadi Adi Prabowo (Bowo), dramer Endy ‘Barock’ Barqah, gitaris Thofan ‘Murdox’ Hendrawan dan Mahadhana Dira Priyahita (Dhana) untuk contrabass ini menimba pengalaman tentang bagaimana sistem royalti di Eropa berjalan.
“Tiap titik di sini, sebelum main kami harus isi form dari GEMA, CMO atau semacam LMK (lembaga manajemen kolektif) Eropa. Isi detail lagu yang akan dibawakan lengkap dengan pencipta lagunya. Sangat tertib, bahkan kami bawakan lagu artis besar seperti Motorhead atau Queen pun tidak perlu repot dan takut ijin-ijin,” seru Dhana dan Thofan.
O ya, dalam tur yang melahap 28 titik di Indonesia dan 12 titik di Eropa ini, Prison of Blues juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Indonesia serta juga dari beberapa sponsor swasta.
Hingga saat ini, Prison of Blues telah menghasilkan 11 album kompilasi yang dirilis di Eropa dan Amerika, serta empat album solo. Menurut mereka, tur 50 titik Indonesia-Eropa yang telah dirampungkan, juga merupakan tur promo album terbarunya, “Born To Be Killers”.

(Lebih detail tentang album tersebut bisa dibaca di tautan artikel MUSIKERAS ini)
“Di album keempat kami ini, seperti biasa kami membawa misi promosi untuk Indonesia. Selain bawa atribusi kain Indonesia, kami juga secara khusus mempromosikan hantu-hantu Indonesia, seperti pocong, kuntilanak, santet, dan lain-lain,” ujar Bowo, pendiri band ini.
Dengarkan materi album “Born To Be Killers” di tautan platform digital ini. Sementara untuk video musik salah satu lagunya, “Zombie di Ruang Tamu” (feat. Dellu Uyee) juga tersedia di kanal YouTube. (mdy/MK01)