Pemuda Berbakti yang terbentuk di Kota Magetan, Jawa Timur pada 25 Agustus 2021 ini menyebut musiknya sebagai gabungan dari kebiasaan sehari-hari, obrolan penuh keresahan, dan energi jalanan yang mereka temui di setiap pergerakan.
Dalam proses bermusik dan menciptakan lagu, Pemuda Berbakti banyak menyerap referensi dari band-band mancanegara seperti Red Fang dan Clutch (AS), Black Sabbath dan Motörhead (Inggris) serta pejuang lokal, Jangar (Bali) yang banyak mempengaruhi karakter suara mereka—garang, berat, namun tetap membumi.
“Namun untuk mengikuti zaman, kami lebih memodernisasi dari segi sound, namun tetap dibungkus dengan ‘raw’,” seru kubu band ini kepada MUSIKERAS, mempertegas konsepnya.
Kehadiran Pemuda Berbakti sendiri merupakan bentuk partisipasi dalam meramaikan khazanah permusikan duniawi. Meski masih tergolong muda, band ini sejatinya terbentuk dari pergaulan di warung kopi, dimana tawa, debat, keresahan, dan ide liar bertemu dalam satu meja.
Dari situlah, band yang diperkuat formasi vokalis Gilang Sagita Putra (Sagita), gitaris Kenny March, bassis Purnomo Sidiq (Mamen) serta dramer Kelik Baktiyar ini lahir tanpa perencanaan muluk-muluk—hanya keinginan untuk bersuara dan bersenang-senang bersama.
Nama Pemuda Berbakti sendiri muncul tanpa kesengajaan, hanya celetukan spontan yang kemudian melekat. Meski awalnya tidak memiliki makna tertentu, nama itu akhirnya membawa harapan tersendiri: bahwa mereka akan tetap menjadi ‘pemuda’—dalam semangat, energi, dan keberanian—serta selalu berbakti kepada orang tua dan kepada Indonesia Raya yang merdeka.
Metalcore?
Di EP “Raja Di Jalan” yang dilepas sejak 2 Januari 2026, berisi lima lagu dimana sebagian besar liriknya terinspirasi dari aktivitas dan kegelisahan sehari-hari para personelnya.
Tahapan perencanaan produksi EP itu sendiri telah dimulai sejak 2024 lalu. Namun baru benar-benar terlaksana secara teknis sekitar bulan ketiga tahun lalu.
“Karena sudah dipersiapkan sangat matang. Untuk prosesnya sekitar dua bulan, termasuk take, mixing, mastering. Tempat produksi kami di Rumah Karya Sahaja yang ada di Madiun.”
Dari lima lagu yang disodorkan, Pemuda Berbakti menggarisbawahi komposisi “Raja Di Jalan” dan “Deforestasi” yang melontarkan kritik keras terhadap pembakaran hutan dan penggusuran lahan warga yang tidak sesuai prosedur.
Menurut mereka, lagu ini menjadi wadah kemarahan sekaligus kepedulian mereka terhadap kerusakan lingkungan dan ketidakadilan sosial yang terus terjadi.
Tapi dari segi musikal, para personel Pemuda Berbakti sepakat menunjuk lagu “Raja Di Jalan” sebagai komposisi yang paling menantang penggarapannya rekamannya.
“Karena ketika proses produksi, banyak sekali improvisasi mendadak. Karena dari kami ingin membungkus dengan nuansa yang lebih gelap, yang dari situ kami memasukkan riff lead model metalcore,” cetus mereka.
O ya, seluruh penulisan lirik serta komposisi lagu yang termuat di EP tersebut digarap oleh mendiang gitaris Agung Wahyudi Utomo.

Knalpot Distorsi
Keseluruhan EP, Pemuda Berbakti memilih paham garage rock sebagai benang merah musiknya, lantaran dirasa paling cocok untuk mereka. Karakter sub-genre rock yang cukup berakar pada keseharian para personel band ini.
Apalagi, salah satu personel Pemuda Berbakti terbilang aktif dalam komunitas motor kustom, dan dari ruang pergaulan itulah referensi musik mereka banyak berubah arah.
Di sana, musik-musik berkarakter berat, kotor, dan berisi seperti stoner rock, doom, dan garage rock hampir selalu menjadi soundtrack tidak resmi di setiap kegiatan ngopi, nongkrong, bengkelan hingga perjalanan malam.
“Entah bagaimana, ada irisan kuat antara kultur motor kustom dengan genre-genre tersebut—seolah mesin bergetar, knalpot berisik, dan distorsi gitar memang diciptakan dari rahim yang sama.”
“Kami sendiri tidak tahu pasti kenapa keduanya terasa begitu selaras, namun semakin sering kami mendengarnya, semakin masuk pula musik itu ke dalam telinga dan kepala kami.”
Pada akhirnya, lanjut mereka, referensi itu tumbuh menjadi kenyamanan. Suara mentah dan energi liar dari garage rock terasa paling pas untuk menggambarkan diri mereka, cara hidup serta gaya bercerita dalam bermusik.
Selain itu, walaupun tiap personel memiliki latar referensi yang berbeda—mulai dari punk rock, reggae, hingga hardcore— namun peleburan ketiganya justru menciptakan identitas khas yang kemudian mereka sepakati sebagai warna utama Pemuda Berbakti. (mdy/MK01)
Susunan lagu di “Raja Di Jalan”:
- Raja Di Jalan
- Pluralisme
- Deforestasi
- Berbahaya
- Toleransi