MAD IN SILENCE: “Lullaby” yang Eksperimental

Bagaimana jika sebuah lagu pengantar tidur justru mengarahkan ke ruang paling gelap dari sebuah pengkhianatan? Mad In Silence menuangkannya di rilisan terbaru.
mad in silence
MAD IN SILENCE

Mad In Silence menyebut “Lullaby”, lagu rilisan tunggal terbaru dari unit cadas asal Bandung, Jawa Barat ini jauh dari kesan menenangkan.

Lagu rilisan tunggal keduanya itu merupakan sebuah katarsis emosional yang intens, agresif namun ditutup dengan sebuah refleksi yang sangat mendalam.

Secara garis besar, “Lullaby” menceritakan tentang runtuhnya kepercayaan akibat kebohongan yang terus-menerus.

Di sini, Mad In Silence yang dihuni vokalis Akbar Sonjaya (Son), bassis Rangga G.B (Alveyrion), gitaris Arya Gilang Prasetya dan Bimo Anindya serta dramer Rizal Satria (Ijal) membawa pendengarnya menyusuri labirin frustrasi seseorang yang terjebak dalam kepura-puraan.

Hingga berada di titik nadir: melakukan sabotase diri atau ‘kematian emosional’ pada momen spesifik yang diabadikan dalam lirik “Ten thirty-five i was killing by myself….”.

Namun, daya tarik utama sekaligus kisah unik di balik “Lullaby” terletak pada bagian ‘outro poetry’.

Di tengah arsitektur musik oplosan post-hardcore dan metalcore yang penuh amarah dan bantingan breakdown yang destruktif, Mad In Silence justru menutup lagu tersebut dengan sebuah penerimaan yang tenang dan filosofis.

Mereka menyisipkan adaptasi narasi yang terinspirasi dari Surah Al-Baqarah ayat 216; ‘Sometime you hate a thing but that’s good for you….’.

Ini menjadi manuver emosional yang kuat, sebuah konklusi bahwa rasa sakit, kehilangan dan hancurnya harapan palsu di masa lalu, pada akhirnya adalah obat terbaik yang menuntun mereka untuk bisa kembali ‘tidur dengan tenang’.

“Lullaby” bukan sekadar tentang patah hati atau kemarahan. Melainkan sebuah perayaan tentang bagaimana seseorang menemukan kedamaian justru setelah mereka kehilangan segalanya.

mad in silence

Tricky, Teaterikal

Dibungkus dengan eksplorasi paham post-hardcore dan metalcore, Mad In Silence menggarap komposisi “Lullaby” dengan sentuhan emo eksperimental yang melibatkan baluran nada disnonan (dissonance) serta atmosferik di struktur komposisinya.

“Struktur lagu yang nggak bisa ditebak buat orang yang baru dengerin ‘Lullaby’, dirangkum sedemikian rupa biar pendengar juga langsung feel in,” tutur band ini kepada MUSIKERAS mengungkap keunikan racikan lagunya.

Mereka mengaku sengaja menggabungkan ambience elektronik yang dingin, sepi dan ‘ngawang’, yang lantas mendadak dihajar oleh distorsi gitar yang kasar dan terdengar agak ‘sumbang’ atau disonan.

“Di ‘Lullaby’, vokalnya lebih teatrikal. Lu bakal denger dari yang tadinya cuma bisik-bisik sedih, ngomong putus asa, sampai tiba-tiba teriak histeris yang bener-bener ngelepas emosi. Di akhir lagu juga kalian bakal dibikin kaget juga sih. Wajib dengerin full part. Sumpah!”

Dalam peracikannya, para personel Mad In Silence kerap melakukan perubahan dan revisi dalam perjalanan produksinya.

Mereka berusaha mencari titik optimal (sweet spot) di antara permainan yang ‘kotor’ dan ‘rapi’. Tapi mereka menyebut proses itu sangat ‘tricky’, lantaran mengejar peracikan bunyi yang mentah namun sekaligus terdengar modern.

“Sumpah itu susah banget,” cetus mereka. “Kami pengen sound-nya kedengeran raw, mentah dan kotor ala band skramz jadul, tapi di sisi lain aransemennya modern dan kompleks. Jujur sih susah juga meskipun tetep keliatan modern.”

Pada saat memasuki tahapan mixing, mereka menyadari kehilangan nyawa lagunya jika dipoles terlalu rapi, dan malah menjadi terdengar seperti metalcore pabrikan.

“Tapi kalau terlalu kotor, lagunya malah jadi kayak kresek-kresek gimana gitu. Pusing juga hahaha!”

Di sisi lain, vokalis mereka juga benar-benar disiksa di lagu ini. Karena “Lullaby” menuntut perubahan emosi yang sangat cepat. Dari awalnya terdengar bisik-bisik hingga menjadi teriakan histeris.

Untuk referensi pengarahan vokal, mereka menyerap inspirasi dari band-band skramz atau post-hardcore klasik macam The Used era awal serta La Dispute.

Inspirasi lain dalam penggarapan “Lullaby”, juga didapatkan Mad In Silence dari mendengarkan beberapa referensi, di antaranya seperti Loathe atau Architects era album-album awal, hingga Knocked Loose.

“Kami suka cara ngegabungin distorsi gitar yang super berat dan down-tuned sama vibe yang ngawang-ngawang. Jadi dapet tuh referensi gimana caranya bikin lagu yang bisa bikin headbang tapi sekaligus bikin merinding.”

Setelah “Lullaby” yang kini sudah tersedia di berbagai gerai musik digital (termasuk di laman Bandcamp), Mad In Silence juga telah menyiapkan beberapa materi lagu berikutnya, yang bakal dikemas dalam sebuah album mini (EP).

Rencana perilisannya belum ditentukan, namun diproyeksikan bisa diwujudkan dalam rentang akhir September, November atau paling lambat Desember 2026 mendatang. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts