Bangkar hadirkan sejumlah perubahan di album penuh terbarunya, atau yang kedua, berjudul “Speed Bastard”.
Perubahan pertama, tentunya di susunan formasi band yang sempat menghambat penggarapan album tersebut. Proses yang sebenarnya telah dimulai sejak peluncuran lagu rilisan tunggal, “Detonasi” pada 20 Oktober 2024 lalu.
“Sempat ada penundaan perilisan karena terjadi beberapa perubahan di internal band, seperti pergantian personel dan juga manajemen,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS.
Saat penggarapan “Speed Bastard”, formasi Bangkar hanya diperkuat tiga musisi, yakni bassis Arditya Prasetyo (Dix), gitaris Arya Pradana serta vokalis barunya, Ale Sampurna. Tanpa penabuh dram.
Lalu perubahan kedua, adalah pengembangan secara musikal serta visual yang mereka tegaskan ingin menerapkan konsep berbeda dibanding album sebelumnya, “Suara Malam” yang dirilis pada 23 Januari 2022 silam.
Perubahan-perubahan itu menjadi tantangan tersendiri bagi Bangkar untuk tetap semangat berkarya dan merilis album ini secara berdikari, dimana seluruh personel terlibat langsung dalam mengurus berbagai hal. Mulai dari proses pembuatan musik hingga pembuatan konten-konten digital.
“Walaupun penuh tantangan, justru proses tersebut menjadi pengalaman yang berharga bagi kami.”
Kontrol Penuh
Setelah memperdengarkan beberapa lagu rilisan tunggal sebelumnya, Bangkar yang dibentuk pada 2018 silam ini pun merangkum energi dan arah musikal mereka ke dalam album “Speed Bastard”.
Kemasan rekaman beramunisikan 11 trek tersebut merepresentasikan karakter khas band rock ini, yang memadukan riff khas yang digabungkan dari referensi masing-masing personel, plus tema musikal dan lirik yang lebih variatif.
“Seluruh proses produksi hingga distribusi album ini kami lakukan secara mandiri, sebagai bentuk semangat independen serta kontrol penuh atas visi musikal kami,” urai band ini meyakinkan.
Melalui “Speed Bastard”, Bangkar mengklaim menghadirkan karya yang lebih solid, sekaligus membawa semangat untuk terus berkarya dan berkembang dalam perjalanan musikal mereka.
“Kami memang berusaha menghadirkan perkembangan dari segi aransemen, lirik maupun kualitas produksinya. Namun, kami tidak memaksakan diri untuk selalu mengikuti tren yang sedang berkembang.”
Bagi Dix, Arya dan Ale, kebebasan dalam berkarya jauh lebih penting, sehingga mereka bisa tetap menikmati dan merasa nyaman saat memainkan lagu-lagu karya sendiri.
Tentu saja mereka juga mendengarkan banyak band baru, namun mereka tidak ingin kehilangan identitas hanya demi terdengar relevan.
Karena seperti yang sudah mereka tegaskan sebelumnya, target utama dalam pembuatan materi di album “Speed Bastard” adalah berusaha tidak terlalu mirip dengan materi di album “Suara Malam”.
“Perubahan itu juga terasa pada karakter vokal yang kini tidak lagi menggunakan gaya bernyanyi yang terlalu melengking.”
“Dari sisi visual dan fashion pun, kami memilih tampilan yang lebih sederhana dibandingkan sebelumnya yang cenderung lebih glamor. Perubahan tersebut merupakan refleksi dari apa yang paling nyaman bagi kami saat ini.”

Triplet Swing
Formula baru dalam penyusunan komposisi, diwujudkan Bangkar dengan memaksimalkan bauran referensi setiap personel yang berbeda-beda.
Dix misalnya. Ia banyak memasukkan pengaruh musik punk ke dalam permainan bassnya. Sementara Ale lebih terinspirasi musik-musik modern rock.
Juga berbeda dengan Arya, yang tetap memegang kuat pengaruh dari band-band rock era 1980-an macam Van Halen, Mötley Crüe, RATT dan semacamnya.
“Perpaduan berbagai pengaruh tersebut akhirnya membentuk karakter musik ‘Speed Bastard’ yang kami rasa cukup merepresentasikan identitas masing-masing personel.”
Menerapkan perubahan atau pengembangan musikal tentu saja mendatangkan sejumlah tantangan. Bangkar menunjuk lagu “Speed Bastard” menjadi salah satunya yang paling ‘merepotkan’.
“Karena kami mencoba memainkan ritmik triplet atau swing, yang membutuhkan kekompakan dan presisi lebih dalam eksekusinya,” seru mereka beralasan.
Selain itu, juga di lagu “Into The Fire” yang memiliki banyak perubahan tempo di sepanjang lagu, sehingga mereka harus benar-benar menjaga transisi agar tetap terasa natural.
Kemudian ada lagu “Forever”, yang menjadi lagu pertama mereka yang diberi ornamen instrumentasi strings, brass dan piano.
“Tantangan terbesarnya adalah menjaga dinamika permainan saat rekaman. Kami harus menemukan keseimbangan yang tepat agar permainan tetap memiliki energi, tetapi tidak sampai terlalu keras sehingga mengganggu keseluruhan nuansa lagu.”
Secara keseluruhan, Bangkar menyebut “Speed Bastard” sebagai album yang merepresentasikan perkembangan mereka sebagai band, baik dari segi musikal maupun cara bekerja. Lahir melalui berbagai tantangan dan perubahan.
“Tetapi justru dari proses itulah kami menemukan identitas yang paling jujur dan paling nyaman untuk kami jalani saat ini.”
Album “Speed Bastard” kini telah tersedia di berbagai gerai musik digital sejak 19 Juni 2026 lalu. Termasuk di tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Game On
- Detonasi
- We Stand We Rise
- Gadis Selatan
- Jakarta Pukul Tiga – Acoustic Version
- Forever
- Anak Kota
- Into the Fire
- Kickstart
- Speed Bastard
- Forever – Bonus Track