TIGHTSHUT: Raungkan ‘Kelemahan’ dalam Hardcore

Lewat rilisan “Rot Beneath the Skin”, Tightshut ungkap manifestasi dari gejolak dan perasaan yang ‘terpendam’ dan ‘membusuk’ dalam kobaran metallic hardcore.
tightshut
TIGHTSHUT

Tightshut gigih membakar semangat untuk berusaha memperkenalkan karya-karya brutalnya. Beraksi di jalur metallic hardcore, unit keras asal Pontianak, Kalimantan Barat ini melontarkan sepasang lagu baru yang tersemat dalam kemasan maxi-single berjudul “Rot Beneath the Skin”.

Kedua lagu tersebut, masing-masing bertajuk “Curse of Illusions” dan “Betrayed” yang disebut berakar dari keresahan mereka, yang selalu membawakan karya-karya band lain ketika tampil di panggung.

Di sisi lain, band yang digerakkan formasi vokalis Fransiskus Martonda (Frans), gitaris Donatus Frandanu Panamuan (Danu) dan Alexander Novanka (Novan), bassis Rizqi Taufiqurrohman serta dramer Felix Arturo Damara ini juga ingin menunjukkan bahwa mereka menancapkan keseriusan dalam skena musik ‘bawah tanah’.

Secara garis besar “Rot Beneath the Skin” mengungkap manifestasi dari gejolak dan perasaan yang selama ini dibiarkan ‘terpendam’ dan ‘membusuk’.

Judul itu juga merupakan sebuah upaya pengekspresian untuk menerima dengan jujur terhadap apa yang terjadi: perasaan terseret dan tenggelam dalam ilusi sendiri serta pengkhianatan yang sebenarnya berakar dari kenaifan sebab menaruh harapan yang terlalu besar selain kepada diri sendiri.

“Curse of Illusions” bercerita mengenai seseorang yang seringkali tenggelam dalam pikiran dan ilusinya sendiri, sehingga ia merasa kesulitan untuk menikmati apa yang secara nyata terpampang jelas di depan matanya.

Perasaan ‘terkutuk’ oleh ilusi menggambarkan bahwa seringkali secara tidak sadar ia kehilangan kontrol atas pikiran dan perasaannya sendiri.

Namun lambat laun, ia harus belajar untuk melihat dunia, merasakan rasa sakit, menerima kenyataan dan menumbuhkan ‘keikhlasan’ bahwasanya ia tidak bisa terus-terusan terbelenggu oleh pikirannya sendiri dan belajar untuk ‘mengubur dirinya yang lama’.

Sementara di “Betrayed” mencoba untuk mengambil sudut pandang dari seseorang yang pernah mengalami pengkhianatan dalam hidupnya.

Lirik-lirik yang tertuang dalam lagu ini merupakan sebuah usaha untuk menerima dengan jujur dan lapang dada bahwasanya selama ini ia terlalu bodoh dan ‘buta’ untuk menilai kehadiran orang-orang di sekitarnya.

Ia menyadari bahwa setiap orang memiliki maksud dan niat tertentu yang di kemudian hari terungkap. Ketika hari itu tiba, ia merasa hidupnya ‘dikacaukan’.

Sedikit banyak lirik-lirik yang tertuang di lagu tersebut juga menjelaskan mengenai harapan-harapan yang ia gantungkan terhadap orang-orang yang datang di hidupnya.

Pada akhirnya ia harus menyadari bahwasanya beberapa pengkhianatan yang terjadi tidaklah melumpuhkannya sama sekali. Ia hanya perlu menerima fakta bahwa hal-hal seperti itu harus ia rasakan dan tidak boleh menjadi penghalang untuk ia tetap menjalani kehidupan.

Para personel band bentukan Februari 2025 ini menegaskan, bahwa lirik-lirik yang tertuang dalam “Rot Beneath the Skin” barangkali terkesan ‘cengeng’ dan ‘lemah’. Namun memang itulah yang coba mereka sampaikan.

Lirik yang ‘cengeng’ tidak harus selalu berjalan beriringan dengan melodi-melodi yang mellow dan galau. Melainkan dapat diekspresikan dalam geberan distorsi, hantaman dram yang enerjik, dentuman bass yang bergetar serta vokal yang terasa mencekik.

tightshut

Emosional, Eksplosif

Berawal dari pengulikan ide riff-riff dasar, dua lagu di “Rot Beneath the Skin” lantas diolah dan dikembangkan bersama seluruh personel.

Tightshut mencoba mengeksplorasi dinamika lagu, antara lain dengan penempatan elemen beatdown agar tetap agresif tanpa harus kehilangan groove.

Kepada MUSIKERAS, Tightshut mengungkapkan bahwa keseluruhan proses kreatif penulisan hingga rekaman membutuhkan waktu kurang lebih delapan bulan. Sudah termasuk penyusunan aransemen dan tahapan revisi.

“Untuk proses rekaman aransemen kami lakukan secara bertahap di rumah (home recording) dan dibantu oleh teman kami Arpi Kurniawan, lalu untuk rekaman vokal kami lakukan di Seven Studio.”

Konsep metallic hardcore di “Rot Beneath the Skin” sendiri dibangun lewat perpaduan riff metal yang berat dan agresif dengan energi hardcore yang mentah.

“Kami mencoba menonjolkan permainan tempo yang berubah-ubah dan serta vokal yang emosional namun tetap eksplosif,” seru mereka meyakinkan.

“Kami berusaha menjaga keseimbangan antara sisi brutal dan atmosferik yang memiliki nuansa gelap dan emosional yang kuat.”

Dalam proses peracikan komposisi dan aransemen “Curse of Illusions” dan “Betrayed”, Tightshut antara lain menyebut referensi musikalnya datang dari spektrum musik hardcore dan metal modern serta old school.

Mereka mendengarkan band-band seperti Get The Shot, Sanction, Guilt Trip hingga Knocked Loose.

“Selain referensi musik luar, kami juga mengambil inspirasi dari keresahan personal, lingkungan sekitar dan pengalaman emosional yang kemudian diterjemahkan ke dalam tracks ini.”

Namun dalam mengekseskusi rekamannya, komposisi “Curse of Illusions” mereka sebut cukup menantang. Di satu sisi, merupakan lagu pertama yang mereka garap, dan banyak mengalami perubahan aransemen dan komposisi.

“Lagu ini juga sempat kami rekam ulang. Dari teknis perekaman dikarenakan tantangan yang kami hadapi ialah berupa harus menjaga presisi permainan di bagian-bagian tempo cepat dan transisi antar riff yang cukup kompleks.”

Sedikit banyak, perilisan “Rot Beneath the Skin” menjadi batu loncatan atau momentum yang tepat bagi Tightshut untuk lebih aktif merilis materi baru dan memperbanyak penampilan panggung.

“Saat ini kami juga sedang mempersiapkan materi lanjutan yang kemungkinan akan diarahkan ke format (album mini) EP. Beberapa materi dasar sudah mulai digarap dan dikembangkan, tinggal masuk ke tahap pematangan aransemen serta produksi.”

Rot Beneath the Skin” telah dilampiaskan ke laman Bandcamp melalui District Six Records sejak 10 Mei 2026 lalu. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
outlier
Read More

OUTLIER: Luka dalam Kobaran Melodic Hardcore

Catatan lugas tentang luka, amarah, kehilangan arah dan upaya pencarian kedamaian ditumpahkan Outlier di album mini (EP) debutnya, “This Love Hurts”.
tornrot
Read More

TORNROT: Lantang Menentang di Jalan Hardcore

Kebobrokan negara diumbar Tornrot lewat album mini (EP) “Injustice”, dimana mereka mengobarkan protes masalah ketidakadilan dengan lugas dan tegas.