BLESS THE KNIGHTS: Lesatkan “Phoenix”

Era baru dan simbol kebangkitan serta evolusi terbesar dalam perjalanan unit djent Indonesia, Bless The Knights telah dimulai lewat album terbaru bertajuk “Phoenix”.
bless the knights
BLESS THE KNIGHTS

Bless The Knights melangkah ke babak baru perjalanan kariernya, usai melewati berbagai musim, pergantian formasi, hingga sempat dianggap selesai oleh banyak pihak.

Kini lewat album rekaman terbaru yang bertajuk “Phoenix”, band ini menempatkannya sebagai simbol kebangkitan sekaligus evolusi terbesar mereka sejak 2023.

Terinspirasi dari mitologi Yunani tentang burung Phoenix yang bangkit dari abu dan kobaran api, album ini merepresentasikan perjalanan Bless the Knights yang justru tumbuh semakin kuat setelah diterpa kritik, tantangan dan berbagai rintangan.

Seluruh pengalaman tersebut kini menjadi fondasi identitas baru band dengan visi yang lebih matang, lebih strategis, tanpa kehilangan sisi eksploratif mereka sebagai unit musikal.

Medan Pertempuran

Seperti eksplorasi yang telah dimulai sejak awal terbentuk pada 2009 lalu, paham djent dan progressive metal tetap menjadi identitas utama Bless The Knights.

Tapi “Phoenix” disuguhkan dengan geberan riff yang lebih groovy, yang dikombinasikan dengan raungan vokal scream dan clean yang lebih catchy, dentuman rhythm section yang semakin solid serta sentuhan synthesizer dan electronic samples yang memperkaya karakter musikal Bless the Knights.

Sambil di sisi lain, tetap memelihara sisi kebrutalannya.

Juga, album ini masih ditaburi permainan gitar yang teknikal, lengkap dengan isian solo yang dihadirkan sebagai bagian penting dari setiap komposisi. Namun tanpa kehilangan pendekatan yang lebih headbang-able dan mosh-able.

Di penggarapan album “Phoenix”, melibatkan formasi terkini Bless the Knights.

Selain gitaris dan penggerak utama band ini, Fritz Faraday (mrfritzfaraday), tentunya juga masih diperkuat vokalis Christian Alvin Sunanja (Cas Coldfire), screamer Dhika ‘Dongeng’ Aditya, bassis Soebroto Harry (Broto) serta dramer Alexander Kevin Sugito.

Formasi ini menjadi salah satu susunan personel terlama dan paling solid yang bertahan bersama sejak 2023, dengan visi bermusik yang sama dan proses kreatif yang semakin kompak.

Di mata Bless The Knights, “Phoenix” bukan sekadar album. Melainkan sebuah pernyataan bahwa band ini tidak akan pernah keluar dari ‘medan pertempuran’.

“Kami mungkin diterpa berbagai ujian dan tantangan, tetapi selama api di band ini masih menyala, Bless the Knights akan terus berevolusi dan tetap relevan memberi karya-karya yang bisa mewakili perasaan banyak orang,” ujar Fritz semangat.

bless the knights

Shredding Moshpit

Dibanding album-album Bless The Knight sebelumnya, “Phoenix” disebut oleh kubu band ini dikemas dengan sangat baik, rapi, fresh dan bakal membuat yang mendengarkan menjadi bertenaga dan bersemangat.

“Nggak dikasih ampun untuk headbang, loncat-loncat, teriak atau apapun yang mereka mau lakuin dari awal sampe abis, sekalipun itu track instrumental,” seru Fritz kepada MUSIKERAS.

Keseruan “Phoenix” mulai dibangun dari lagu “Agathos” yang membuat adrenaline naik, lalu diajak headbang di “Autopraxia”, dan selanjutnya moshing bersama “Avisha”.

Setelah itu berturut-turut diterjang parade lagu yang masuk nominasi AMI Awards, yakni “Metamorphosis” (2023), “Parekletos” (2024), “Crying in the Desert” (2025) serta tentunya, “Il Grinta” yang baru saja dinominasikan di kategori Artis Solo/Grup/Kolaborasi Metal Terbaik.

Juga ada nomor nostalgia “You’ve Created Your Own Monster” (2016) yang telah dikemas ulang. Lagu yang pertama kali membawa Bless The Knights menerobos deretan nominasi AMI Awards untuk kategori “Karya Produksi Metal Terbaik”.

Kegesitan 11 komposisi lagu yang menjadi amunisi “Phoenix” tak lepas dari proses penggarapannya. Seperti yang diungkapkan Fritz, masing-masing lagu punya keunikan dan kesulitannya sendiri.

“Mulai dari (pola) riffing yang tricky dengan pergerakan tangan kanan yang groovy kayak main drum, vokal yang melengking tinggi atau growling tebel, drum yang rapet, bass yang groovy dan kadang shreddy sampai ke shredding gitar solo yang malah ada nuansa fusionnya.”

Tapi menurut Fritz lagi, hal yang sedikit berbeda dan bikin stress saat proses perekamannya ada di lagu “Avisha”. Soalnya, lagu itu memang diciptakan untuk kebutuhan moshpit.

“Jadi riffing dan semua lines-nya mesti mendukung. Eksekusi cepat dan presisi sempet bikin kami geleng-geleng kepala sendiri waktu rekaman dan (saat) bawain lagu itu di panggung.”

Selain lagu-lagu bervokal, “Phoenix” juga memuat tiga komposisi versi instrumental dari lagu “Agathos”, “Autopraxia” dan “Avisha”. Tapi bukan aransemen ulang, melainkan hanya mencabut isian vokalnya.

“Basically instrumental version, hanya men-take-out vokal dari lagu tersebut untuk ‘memamerkan’ sisi ‘old-time’ Bless the Knights yang walaupun sudah lebih ‘jinak’ tapi masih menantang buat dimainkan on stage… hahaha!”

Melalui “Phoenix”, Bless the Knights berharap musik mereka dapat menjangkau bukan hanya metalheads, tetapi juga pendengar baru yang menemukan semangat untuk bangkit melawan segala macam masalah lewat lagu-lagu di album ini.

“Album ini lengkap, mewakili perasaan dan kerinduan kami untuk balik lagi bertemu para Knights (BTK fans) dan juga semua orang yang mendukung kami di atas maupun di bawah panggung.”

“Sebuah album emosional yang dikemas dengan feeling bersenang-senang. Pokoknya track 1 sampai 11, pendengar nggak bakal dikasih waktu buat napas. Buat buktiin langsung aja dengerin!”

Sejak 22 September 2026, album “Phoenix” sudah bisa digeber di berbagai gerai penyedia layanan musik digital. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan Lagu:

  1. Agathos
  2. Autopraxia
  3. Avisha
  4. Metamorphosis
  5. Parekletos
  6. Il Grinta
  7. Crying in the Desert
  8. ⁠You’ve Created Your Own Monster (Reprise)
  9. Agathos (Instrumental)
  10. ⁠Autopraxia (Instrumental)
  11. Avisha (Instrumental)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
molt
Read More

MOLT: Spektrum Emosi di Maxi-Single

Penanda awal dari perjalanan Molt, alternative rock asal Klaten, Jawa Tengah ini ditegaskan lewat peluncuran dua lagu perpaduan ledakan emosi dan asa baru.