Sebuah band rock potensial asal Makassar bernama SHAL, baru-baru ini telah menyapa publik global lewat video lagu perkenalan bertajuk “Shine”. Genre lagu ini merupakan kreativitas yang mereka sebut dengan istilah easycore synth, yang diramu dengan melebur berbagai pengaruh musikal para personelnya, serapan dari Fear and Loathing in Las Vegas – sebuah band yang berasal dari Jepang – serta referensi lainya seperti Can’t Bear This Party, Issues, Thirty Seconds To Mars, One Ok Rock, Paramore hingga Simple Plan.

“Bagi kami easycore adalah genre yang unik dan sangat berkarakter,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS. “Menurut sejarah musik yang kami baca, Easycore adalah pengembangan dari genre Pop Punk, dan kata dasar dari easy (santai) dan core adalah inti dari sebuah genre tersebut. Easycore adalah musik yang masih terbilang easy listening, namun terdapat unsur musik keras di dalamnya. Penambahan kata synth diadopsi dari salah satu jenis alat musik keyboard Synthesizer yang menjadi salah satu ciri khas musik easycore pada umumnya.”

Single “Shine” sendiri pertama kali digarap Emen (vokal), Ragil (gitar), Abdy (bass), Firman (kibord) dan Fahrul (dram) pada akhir 2015 lalu. Berakar dari Fahrul dan mantan kibordis SHAL, Onhy yang ternyata sevisi, berniat untuk  menciptakan sebuah  karya lagu yang enerjik dan dapat memotivasi orang lain.

“Tak seperti lagu-lagu yang masih saja booming di negeri ini, mellow, monoton  dan terkesan memaksakan kegalauan seseorang dalam kehidupan sehari-hari,” begitu tutur Fahrul dan Onhy sembari menertawakan gitarisnya yang saat itu baru saja putus cinta.

Fahrul yang sudah terbiasa menulis, menawarkan satu lirik andalanya kepada Onhy untuk bisa merangkulnya dalam sebuah alunan nada yang singkron dengan lirik tersebut. Lalu diimbuhi pengaruh punk dari Ragil yang meracik kord-kord yang tak jauh-jauh dari pengaruh musikalnya. “Shine” lantas direkam pada 2016 lalu di salah satu rumah produksi tempat SHAL bernaung.

Jauh sebelum mereka memulai semuanya, cikal bakal SHAL dimulai oleh teman satu sekolahan SMA, yakni Ragil, Abdy, Firman dan Fahrul pada 2012 silam. Nama SHAL sendiri dirangkai dari kata “See, Hear and Feel”, diadopsi dari Bahasa Inggris yang berarti “lihat, dengar dan rasakan”.

Dari yang awalnya sekadar hobi lantas menjadi semakin serius dengan seringnya mereka mengikuti berbagai panggung kompetisi di Makassar dan sekitarnya. Sejak 2015, mereka lantas mengubah haluan menjadi band independen yang fokus untuk berkarya. Pengalaman baru ini mereka rasakan sangat berbeda dibanding sebelumnya, dimana mereka hanya membawakan lagu-lagu cover milik band-band papan atas. Kebebasan berkarya dan curahan idealis dalam bermusik sangat mereka rasakan. Begitu pula di setiap kali menampilkan karya di depan publik. Hal itu yang kini membuat mereka sangat bahagia setiap kali perform.

Saat ini, SHAL sudah mencanangkan rencana untuk merilis album, namun para personelnya memilih tidak terlalu terburu-buru menggarapnya. “Persiapannya belum cukup matang. Kami berkarya pelan-pelan saja. Paling cepat sebulan sekali mengeluarkan single sudah menjadi perencanaan kami agar dapat berkarya sebaik-baiknya sebelum dicerna oleh khalayak,” ujar SHAL diplomatis. (MK01)

.

 

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY