GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
gabrielle
GABRIËLLE

Gabrielle (atau juga ditulis Gabriëlle) sebenarnya bukan pendatang baru di musik keras. Setidaknya pada 30 November 2025 lalu, ia sudah pernah melepas lagu rilisan tunggal bertajuk “Falling For An End” yang kental akan elemen alternative/gothic rock.

Tapi kini, lewat EP “Animals”, penyanyi berusia 21 tahun ini melakukan lompatan berani. Ia meninggalkan pendekatan clean vocal yang diterapkan di rilisan sebelumnya.

Kini Gabrielle Maryse Antoinette den Hertog – nama lengkapnya – beralih ke sesuatu yang jauh lebih kasar, lebih keras dan lebih jujur. Mengedepankan vokal scream yang meledakkan kemarahan ke permukaan.

Sebenarnya Gabrielle baru mengenal musik metal sekitar empat tahun lalu. Lalu mulai mempelajari teknik vokal metal ekstrem dalam dua tahun terakhir.

Namun di “Animals”, keterbatasan waktu itu justru terasa seperti bahan bakar—mendorongnya untuk tidak bermain aman dan langsung menempatkan dirinya di spektrum modern metal.

Di balik agresinya yang kental pula akan keliaran hardcore, Gabrielle merakit “Animals” di atas konsep yang jelas: empat lagu, empat representasi hewan—babi, anjing, domba, dan tikus—yang digunakan sebagai metafora untuk membedah isu geopolitik dan dinamika kekuasaan global.

Masing-masing lagunya berjudul Carved in Mud”, Heel”, “Kill Their Static” dan Anthropophagous”.

Dari siklus kekuasaan yang korup, ketaatan buta terhadap otoritas, hingga bagaimana kapitalisme memaksa manusia bekerja tanpa henti dan menguras tenaga serta jiwa demi keuntungan.

Menurut penyanyi berdarah Belanda yang berbasis di Yogyakarta ini, “Animals” yang diedarkan via label Repertoart Records berdiri sebagai respon personal terhadap kondisi dunia saat ini.

“Aku nggak nulis ini buat semua orang. Ini caraku buat ‘speak up’, karena aku sendiri nggak terlalu nyaman ngomong langsung di depan kamera atau di sosial media,” tuturnya.

gabrielle

Lebih jauh tentang gagasan dan konsep di balik EP “Animals”, berikut secuil obrolan MUSIKERAS dengan Gabrielle:

Saat merekam EP “Animals”, apa saja kesulitan kamu secara teknis dalam mewujudkannya, mengingat kamu baru masuk ke skena metal ekstrem…?

“Dari sisi sound, aku ingin mengeksplorasi sesuatu yang berbeda dari genre yang biasa aku tekuni, yaitu alternative rock dan metal, dan mencoba suara yang lebih keras.

Awalnya aku sempat berpikir untuk masuk ke hardcore secara penuh, karena aku sangat menyukai deathcore dan band-band seperti Paleface Swiss dan Bodysnatcher. Namun karena karakter vokal scream-ku cenderung lebih tinggi, aku akhirnya memilih hardcore sebagai arah utama.

Yang menarik, selama proses penulisan, banyak lagu yang justru bergeser ke arah metal, yang sebenarnya sudah bisa diduga, karena referensi pendengaranku memang lebih banyak dari dunia metal.

Untuk konsep EP-nya sendiri, aku ingin menulis sesuatu yang bernuansa politik, yang sebetulnya agak di luar zona nyamanku karena biasanya aku lebih suka menulis tentang kehidupan dan perasaan pribadi.

Tapi mengingat iklim politik saat ini dan arah sound yang lebih berat, rasanya tema itu sangat relevan. Tantangan terbesarnya adalah menulis lirik yang mampu menyampaikan sikap politik yang sensitif dan berat itu dengan tepat.

Selain itu, proses membangun sound bersama produserku, Sambung (Penumbra), juga cukup menantang. Di proyek ini, aku jauh lebih mengandalkan keahliannya, karena aku memang lebih terbiasa menulis lagu-lagu yang melodius.

Soal statusku sebagai pendatang baru di skena metal, jujur itu tidak terlalu memengaruhi proses kreatifku. Aku tidak pernah benar-benar berniat menjadikan musik ini sesuatu yang profesional, aku melakukannya karena aku memang cinta menulis lagu.

Kalau hasilnya bagus dan diterima banyak orang, itu tentu menyenangkan. Tapi prioritasku tetap pada proses berkarya itu sendiri, bukan apa yang terjadi setelahnya.”

Jadi apa yang menarik dari genre yang kamu terapkan di EP “Animals” ini?

“Intinya ini adalah pendekatan baru yang lebih menantang dari sound yang biasa aku kerjakan, dan itu yang membuatnya menarik dan seru untuk dilihat perkembangannya.

Aku tidak tahu apakah ini subgenre yang akan aku tekuni secara eksklusif ke depannya, karena aku memang senang mengeksplorasi berbagai sound dan ada banyak genre dalam ranah musik alternatif yang aku sukai.

Jadi yang membuat EP ini spesial adalah kombinasi dari pendekatan sound yang lebih keras sekaligus tema lirik yang tidak biasa bagiku.”

Untuk referensi, dari mana saja pengaruh yang dijadikan acuan saat meracik komposisi serta aransemen lagu-lagu di “Animals”?

“Referensi utamaku kebanyakan dari band-band deathcore seperti Suicide Silence, Bodysnatcher, Paleface Swiss, Whitechapel dan Brand of Sacrifice. Band-band seperti Knocked Loose, Code Orange, Killswitch Engage dan Fit for an Autopsy juga punya pengaruh langsung terhadap sound EP ini.

Sementara itu, band seperti Meshuggah dan Gojira mungkin lebih berperan sebagai pengaruh tidak langsung, karena aku sangat sering mendengarkan mereka dan itu pasti meresap ke dalam cara aku bermusik tanpa aku sadari sepenuhnya.”

Lagu manakah yang paling menantang secara teknis saat mengeksekusi rekamannya?

“Lagu ketiga, ‘Kill Their Static’, adalah yang paling menantang secara teknis. Temponya paling cepat untuk di-scream, dan aku masih berjuang dengan kontrolnya, terutama soal pernapasan. Itu masih jadi hal yang terus aku kerjakan.”

Seluruh materi dalam “Animals” yang direkam di Soundlit Studio, Sleman ditulis oleh Gabrielle dengan bantuan produksi teknis dari Sambung Penumbra. Termasuk untuk pemolesan mixing dan mastering.

Hari ini, EP “Animals” sudah bisa didengarkan di berbagai platform digital. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.