Kvartal memulai langkah awalnya dengan meluncurkan “Prison Gun” yang mereka anggap sebagai representasi identitas musikal band ini.
Para personelnya, vokalis I Gusti Komang Rio Saputra (Rio), gitaris I Komang Sudi Atmika (Boby), bassis Putu Gede Suryadinatha (Surya) dan dramer Komang Juli Aribawa (Lobex) mengedepankan formula modern hardcore dengan sentuhan metalcore serta deathcore yang agresif, intens dan energik.
Tema liriknya sendiri terinspirasi dari pengalaman Rio yang sehari-harinya berprofesi sebagai seniman tato.
Melalui pekerjaannya itu, ia banyak ‘merekam’ kisah kehidupan para pelanggannya. Sebuah interpretasi dari ungkapan rasa sakit, kenangan dan ekspresi diri yang dituangkan lewat tinta, jarum dan musik.
“Dari sana banyak cerita, emosi, hingga pengalaman hidup para klien yang kemudian menjadi inspirasi utama dalam penulisan lirik ‘Prison Gun’,” ucap pihak Kvartal kepada MUSIKERAS memperjelas.
Proses kreatif peracikan “Prison Gun” sebenarnya pertama kali digagas oleh Boby, bersama De Wirya, yang juga merupakan rekan Kvartal dalam proses produksi visual (video musik) lagu tersebut, bersama formasi personel sebelumnya.
“Setelah akhirnya menemukan formasi baru yang tetap dan resmi membentuk Kvartal, kami pun kembali mengeksplorasi aransemen musiknya hingga menemukan karakter yang paling sesuai dengan identitas band ini.”
Proses produksi “Prison Gun” membutuhkan waktu sekitar dua bulan, dimulai dari penulisan materi, workshop aransemen, proses tracking hingga tahapan final mixing dan mastering.
Proses rekaman instrumen dan vokal dilakukan di Jinada Musik Studio yang dioperasikan oleh Abe Sugiarto. Sementara untuk proses peracikan sound, pengeditan, mixing serta mastering juga dikerjakan langsung oleh Abe di studio rumahan miliknya.
Intensitas Chaotic
Kembali ke perancangan formula musiknya, “Prison Gun” mereka sebut membawa konsep modern hardcore dengan campuran elemen metal hardcore dan deathcore yang agresif, penuh groove serta breakdown yang intens.
“Kami ingin menghadirkan musik yang tidak hanya keras secara sound, tetapi juga memiliki atmosfer emosional dan pesan yang kuat di dalamnya.”
Para personel Kvartal juga mencoba menggabungkan berbagai karakter dan referensi musik masing-masing untuk menciptakan identitas musik band dalam balutan modern hardcore.
“Selain itu, kami juga tidak hanya berfokus pada kemarahan semata, tetapi mencoba mengangkat sisi psikologis manusia seperti trauma, validasi, tekanan batin hingga pengalaman personal yang dituangkan secara simbolik melalui musik maupun visual yang kami hadirkan.”
Walau berusaha menciptakan identitas sendiri, tentu saja Kvartal juga tidak lepas dari berbagai pengaruh di sekelilingnya. Secara musikalitas, band ini mengakui banyak mengambil inspirasi dari band-band hardcore dan deathcore modern, baik lokal maupun internasional.
Dari skena lokal misalnya, ada Defy (Palu) yang cukup mempengaruhi energi dan groove dalam musik Kvartal. Sedangkan dari luar, mereka banyak terinspirasi dari Speed, Bodysnatcher dan Knocked Loose.
“Terutama dalam karakter riff, intensitas breakdown dan atmosfer chaotic yang kami bangun. Namun dalam prosesnya, kami tetap mencoba mengolah seluruh referensi tersebut agar tetap terasa personal dan memiliki karakter yang berbeda.”
Formula ini ditegaskan bakal menjadi ‘cetak biru’ musik Kvartal ke depannya. Khususnya menuju peluncuran album mini (EP) debut mereka.
Sejauh ini belum ada target pasti mengenai jadwal perilisannya, namun mereka menjanjikan bakal ada lagu tunggal susulan.
“Kami berencana merilisnya setelah single kedua selesai diperkenalkan agar setiap materi mendapatkan ruang promosi yang maksimal. Jika sesuai rencana, kemungkinan perilisan EP tersebut akan dilakukan pada pertengahan tahun depan.”
Sambil menantikan agresi Kvartal selanjutnya, silakan geber “Prison Gun” dengan volume maksimal via tautan kanal YouTube ini. (@mudya_mustamin/MK01)