Repton kembali mengajak untuk tidak melupakan sejarah. Khususnya catatan kelam di Mei 1998 silam, lewat sebuah lagu baru bertajuk “Mei 1998”.
Lagu ini sengaja dirilis bertepatan dengan momentum 28 tahun tragedi Mei 1998, sebagai bentuk pengingat melalui medium musik ekstrem. Menerapkan lirik berbahasa Indonesia, “Mei 1998” menyuarakan penolakan terhadap lupa dan pengulangan sejarah kelam.
“Ini bukan lagu tentang politik,” kata unit slamming buldozer groove asal Sukabumi, Jawa Barat ini menegaskan.
“Tetapi tentang kemanusiaan, tentang luka bangsa yang harus terus diingat agar tidak terulang. Sengaja rilis di bulan Mei karena luka sejarah itu lahir di bulan Mei, dan kami percaya: yang berani mengingat, tak akan mengulang.”
Sebelumnya, pada 24 Januari 2026 lalu, Repton juga sempet mengungkit keborokan politik di Tanah Air, lewat lagu bertajuk “Marsinah”. Kisah tragis seorang aktivis perempuan yang telah memperjuangkan hak-hak buruh (Baca di sini).

Album Split
Rekaman “Mei 1998” dikerjakan vokalis Rivana Aska, gitaris Teguh Maulana dan Afriansyah, dramer Asep Saepul Rahman serta Andika Putra Dermawan (DJ/turntable) selama dua bulan.
“Karena materi ini sudah disiapkan jauh-jauh hari untuk pemanasan menuju split album. (Karena) Kebetulan lagu ini memang nunggu momentum 28 tahun Tragedi Mei ’98,” urai Repton kepada MUSIKERAS.
Lagu berdurasi 03:24 ini dikobarkan lewat terapan slam/groovy riff dan sentuhan scracth DJ/Rap.
“Kami sekarang memainkan stlye modern slam yang membedakan musik kami dengan skena lokal Tanah Air. Kami memasukkan DJ/Rap parts, yang membedakan kami dengan band yang lain.”
Lalu untuk mendapatkan racikan komposisi serta aransemen “Mei 1998” yang maksimal, Repton meluaskan referensi sebagai acuan musikalnya.
Antara lain, mereka menyerap pengaruh dari para monster metal mancanegara macam Internal Bleeding, Boltcutter dan PeelingFlesh(AS), Analepsy (Portugal) hingga Organectomy (Selandia Baru).
Lalu mereka mengombinasikannya dengan inspirasi dari kelompok-kelompok rap dan hiphop seperti Public Enemy, Run DMC serta Beastie Boys.
Namun dalam sesi ini, tantangan justru tidak datang dari lini perancangan komposisi. Para personel Repton justru merasakan kesulitan teknis dari penggunaan empat studio untuk mengeksekusi rekaman “Mei 1998”.
Vokal dikerjakan di EXR Studio, lalu gitar, bass serta isian DJ di Argonian Studio. “Itu cukup lumayan menguras tenaga pikiran dan finansial juga,” kata mereka.
Selain diluncurkan sebagai rilisan tunggal, “Mei 1998” juga sekaligus sebagai nomor pemanasan menuju pelepasan album split bersama Psycorpse, band proyekan D-Beat Slammer dari Taring/Turbidity yang akan dirilis pada November 2026 via Underrated Records.
Sejauh ini, Repton memberi bocoran bahwa pengerjaan dan persiapan album split tersebut sudah mencapai 90% dari keseluruhan tahapan yang dibutuhkan. Masing-masing band menyumbangkan lima lagu, dimana saat ini tengah memasuki proses mixing dan mastering.
Lagu “Mei 1998” ditulis sebagai monumen audio untuk Tragedi Mei 1998, demi menyuarakan trauma kolektif dari generasi yang tidak mengalami langsung, tapi hidup dalam bayangannya.
Juga diperdengarkan secara resmi pada 21 Mei, karena bertepatan dengan berakhirnya rezim Orde Baru, yang terjadi pada 21 Mei 1998 silam. (@mudya_mustamin/MK01)