MAX HAVELAAR Membangun Mood di “Manusia Pemberani”

“Manusia Pemberani” menjadi single pilihan berikutnya untuk mendukung promo album debut self-tittled Max Havelaar, band rock alternatif asal Jakarta, yang dibentuk oleh Dedidude (vokal, lirik) dan Muhammad Asranur (kibord, piano) pada awal 2010 silam. Sebelumnya, album rilisan Demajors tersebut sudah didahului lewat dua single, yakni “Suara Kita Suara Tuhan” yang diluncurkan pada 2012 – jauh sebelum album debut tersebut rampung – serta “Tumaritis” pada 6 Januari lalu. Album “Max Havelaar” sendiri resmi beredar pada Februari 2016.

“Lagu ini adalah lagu mood,” cetus Dedidude pada MUSIKERAS tentang “Manusia Pemberani”. Ia mengungkapkan, memulai proses pembuatan lagu tersebut dengan metode yang dibiarkan mengalir alami, namun tetap dikonsep agar terjaga emosinya.

“Lagu itu tercipta ketika Asra ke tempat gua dan akhirnya dia bikin melodi piano dan gua langsung bernyanyi,” ulas Dedidude lagi. “Sejak saat itu nggak ada satu pun not yang kami ubah, semuanya berjalan dengan alami. Lagu ini pula yang kami aransemen pas di studio rekaman. Jadi tidak ada proses aransemen pas latihan atau apa pun, murni dilakukan di studio rekaman. Pendekatan kami pada lagu ini adalah lagu mood, proses emosinya harus kami kawal dari depan. Dari intro piano, masuk lirik, masuk dram dan akhirnya meledak di akhir lagu, semuanya sudah kami rencanakan di awal.”

“Manusia Pemberani” sendiri dipilih sebagai single berikutnya dengan alasan ingin menyuguhkan lagu yang lebih adem. “Dan durasinya nggak panjang,” tandas Dedidude singkat. Berbeda sekali dengan single sebelumnya, “Tumaritis” yang berdurasi hampir 7 menit. “Karena kami lebih membangun mood dan emosi di tiap lagu. Kami nggak peduli durasi, kalau lagunya membutuhkan durasi lama ya udah kami sikat aja!”

Tapi dari sembilan lagu yang termuat di album debut Max Havelaar, memang “Tumaritis” yang diakui Dedidude sebagai lagu yang paling memuaskan dari segi kreativitas. “Karena dari judul lagu, lirik, intro, aransemen semua instrumen serta kualitas recording semuanya nyaris sempurna buat kami. Lirik juga cepet ketemunya karena tema dasarnya udah kebayang pas bikin lagu, dan nyanyiinya juga enak, di studio rekaman maupun di panggung.”

Saat mengeksekusi rekaman album “Max Havelaar”, Dedidude dan Asra juga dibantu personel lainnya, yakni David Q (gitar), Teddy Satrio (bass) dan Timur Segara (dram). Lalu ada pula kontribusi beberapa musisi tamu, seperti dramer Max Havelaar sebelumnya, Cakhend, lalu dramer Akbar Bagus Sudibyo (Efek Rumah Kaca), vokalis Ria Septiani (Are You Alone) dan peniup trumpet Agustinus Panji Mahardika (Pandai Besi). Sementara untuk mixing dan mastering masing-masing dipercayakan kepada Ario Hendarwan (The Adams) dan Indra Q (BIP, eks-Slank).

Satu hal lagi yang membuat proyek album “Max Havelaar” ini istimewa adalah keterlibatan sembilan ilustrator Indonesia, yakni Ale Husein, Monica Hapsari, Spencer Jeremiah, Rere, Ayu Dilamar, Lala Bohang, Dmaz Brodjonegoro, Indro Moektiono dan Dedidude sendiri untuk menggarap artwork yang mewakili masing-masing lagu.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
regu pemburu
Read More

REGU PEMBURU: Membunuh dari Dalam

Di amunisi terbarunya, “Labirin Pikiran”, Regu Pemburu mengungkap problema insomnia yang terus berulang setiap malam, yang terasa nyata dan liar.