Lima belas tahun bukan waktu yang sekejap. Dan tumbuh berkembang di ranah rock progresif yang terbilang segmented bukan hal yang mudah. Tapi fase itu berhasil dilewati oleh Imanissimo, salah satu band rock progresif senior Indonesia, yang sampai saat ini masih dibekali daya juang yang meledak-ledak. Februari ini, band yang dihuni Iman Ismar (bass), Johanes Jordan (gitar), Raden Agung (kibord) dan Marcellus Putra (dram) tersebut menandai 15 tahun perjalanan karirnya dengan merilis album baru, atau album studio keempat bertajuk “Enigma”.
Tentu saja, bisa mencapai 15 tahun adalah sebuah prestasi tersendiri. Sangat istimewa. Maka momentum itu pun dimanfaatkan oleh Imanissimo untuk mempersembahkan karya album yang juga istimewa. “Album ini wajib dibeli,” cetus Iman kepada MUSIKERAS, meyakinkan. “Karena musik yang disajikan berbeda dibanding album-album sebelumnya, meski benang merah khas Imanissimo tetap akan terdengar. Kualitas produksi album ini, secara audio dan kemasan sangat tergarap.”

“Untuk penggemar musik prog, layak untuk memiliki ‘Enigma’ karena merupakan album terbaik yang pernah kami buat sepanjang karir Imanissimo. Kalian pasti akan terkejut, tidak hanya dengan komposisi musiknya, tetapi juga konsep dan kualitas sound yang mengalami perubahan dan sangat modern,” timpal Agung mempertegas.
Dari segi teknis rekaman, Imanissimo menggarap komposisi-komposisi yang termuat di “Enigma” di studio professional yang representatif, yakni di Mekel Musik Studio (MMS), Jakarta. Berbeda dibanding album sebelumnya, “Happiness and Sadness”, dimana 80% proses rekamannya dilakukan di rumah Iman (home recording). Dan disamping itu, mereka juga mendapat kontribusi besar dari Kelana Proehoeman, seorang musisi, produser dan sound engineer muda berbakat, yang benar-benar memperhatikan setiap detail rekamannya.
Selain itu, para personel Imanissimo sendiri juga mengalami perubahan dan peningkatan dalam segi musikalitas serta teknologi yang digunakan. “Misalnya, sound-sound yang dihasilkan oleh Raden Agung makin baik karena menggunakan sampler yang banyak digunakan para musisi kelas international. Jordan juga makin banyak eksplorasi pada sound fuzz, dan sound yang lebih tua. Penggunaan sound-sound sangat berpengaruh pada komposisi di album Enigma ini,” ulas Iman lagi.
“Kami lebih berani memasukkan elemen-elemen jenis musik lain ke dalam komposisi musik Imanissimo,” tukas Agung. “Prinsipnya adalah apabila progresif telah menjadi ‘rutin’, maka kami harus mengembangkan diri menjadi lebih liar lagi. Sebagai bocoran, apakah kalian pernah membayangkan Imanissimo bermain musik country Tapi itulah yang kami lakukan. Begitu mendengarkan album ini pasti akan muncul banyak pertanyaan. (Justru) Karena pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyebabkan album ini layak disebut ‘enigma’.”
Sebenarnya apa yang dimaksud dengan ‘enigma’? Iman menggambarkan, penggunaan “Enigma” sebagai judul karena berhubungan erat dengan tema album, dimana Imanissimo menyoroti kerasnya kehidupan berpotilik di Indonesia. “Semua orang saling merasa benar sendiri. Yang benar dianggap salah, yang salah dianggap benar. Situasi ini menjadi seperti ‘enigma’, yaitu teka-teki yang sangat sulit dipecahkan. Artwork ‘Enigma’ berbentuk tangan saling menjabat dengan kaki melangkah ke lain arah merupakan jawaban dari ‘enigma’ yang terjadi di bangsa ini, yaitu mari sepakat dalam ketidak-sepakatan.”
“Enigma” sendiri antara lain menyuguhkan komposisi “Simponi Indonesia: Adegan 2 – Tarian Patriotik”, sebuah karya Iman yang merupakan kelanjutan dari “Simponi Indonesia: Adegan 1 – Krisis Budaya”, yang terdapat di album kompilasi “Indonesia Maharddhika” (2014). Juga ada “Tembang Ambarawa” karya Jordan yang menerapkan perpaduan gamelan dengan musik metal. Dan menurut Jordan, “Enigma” memang menyuguhkan olahan komposisi yang variatif. Selain sentuhan gamelan, juga akan dijumpai unsur jazz pop. Semua lirik berbahasa Indonesia dan juga ada kolaborasi dengan Siti Chairani Proehoeman, seorang soprano senior Indonesia. “Ada juga musik yang makin ruwet dan makin metal, atau bahkan makin ngepop.”
Cikal bakal lahirnya Imanissimo sendiri tak lepas dari perjalanan musikal Iman Ismar, yang memulainya ketika menuntut disiplin ilmu musik di Institut Kesenian Jakarta, pada November 1995. Berawal dari band bernama Fortissimo yang memainkan musik-musik instrumental karya sendiri. Band tersebut lantas berevolusi menjadi Ouverture. Setelah bubar, Iman sempat bergabung di unit prog Pendulum pada awal 1998 hingga Maret 2000. Setelah sempat membentuk band bernama Siklus, Iman akhirnya melahirkan Imanissimo pada September 2000, yang diperkuat mantan personel Pendulum dan Siklus. Pada 5 April 2002, Imanissimo merilis album debut self-titteld dengan formasi Iman, Ponco Satrio (gitar), FR. Ronald Poetiray (kibord) dan M.M.M. Putra Prayoga (dram). Dua tahun kemudian, Imanissimo merilis album kedua bertajuk “Z’s Diary”, menghadirkan permainan kibor Charlie Hidayat yang masuk menggantikan posisi Ronald. Setelah itu, cukup lama Imanissimo vakum merilis album. Pada 2013, dengan formasi baru, yakni Iman Ismar, Johanes Jordan, Raden Agung dan Marcellus Putra, Imanissimo kembali menggeliat dengan merilis album ketiga, “Happiness And Sadness”. (Mdy)
Sekadar tambahan referensi, simak video penampilan Imanissimo membawakan salah satu lagu dari album “Happiness And Sadness” di bawah ini: