Demoniac bangkit kembali! Akhir Februari ini, unit death metal asal Jakarta Selatan yang kini diperkuat formasi Bengbeng (vokal), Laviosa Arya (gitar), Rayhan Syarif Mohede (gitar) dan Jange (dram) ini memastikan bakal merilis album terbarunya yang bertitel “Thorn”, yang didistribusikan via Brutal Infections Records. Konsep musiknya? Makin gahar! Mereka kini siap menghajar lewat komposisi-komposisi cadas yang mengarah ke paham death metal teknikal, progresif dan brutal.

Sebelumnya, tepatnya 2010 silam, Demoniac sempat merilis single bertajuk “Dead Welfare State”. Jarak perilisan album pertama, “Inner Oppression” (1996) ke album “Thorn” sendiri lumayan lama karena Demoniac sempat vakum dan beberapa kali terjadi pergantian personel. Formasi yang sekarang saja baru terbentuk kurang dari setahun.
Proses bongkar pasang formasi ini pula yang turut membuat proses penggarapan “Thorn” yang sudah dimulai sejak 2009 silam tersendat-sendat. “Dalam proses rekaman terdapat banyak kendala dan tantangan, dan melelahkan,” cetus Bengbeng kepada MUSIKERAS. “Diantaranya gonta ganti-formasi player dan gonta-ganti materi lagu. Namun pada akhirnya terselesaikan juga dengan hasil yang maksimal.”
Lalu, proses gonta-ganti materi lagu juga berkaitan erat dengan perubahan konsep musikal Demoniac yang mengaduk berbagai pengaruh. Mulai dari Massacre/From Beyond, Suffocation, Gorod, Necrophagist, Obcura, The Faceless, Arch Enemy, Yngwie Malmsteen, Joe Satriani, bahkan hingga Ezra Simanjuntak (Zi Factor).
“Sangat jauh berbeda,” cetus Bengbeng menegaskan. Menurut vokalis yang pernah tergabung di band Suffering, Bloodshed dan Jagal ini, musik Demoniac di album pertama bisa dibilang tergolong death metal dengan garapan aransemen yang lebih sederhana. “Materi album ‘Thorn’ tampil lebih warna dengan inspirasi bermusik yang lebih fresh, ada unsur teknikalnya dan ‘sedikit’ brutal.”
Perjalanan karir Demoniac sendiri lumayan panjang. Terbentuk pertama kali pada Mei 1990. Formasi awalnya adalah Didu (bass), Jokers (gitar, vokal) dan Angger (dram). Saat menggarap album “Inner Oppression”, lineup Demoniac dihuni Bengbeng, Didu dan dua mantan personel Baddox, yakni Shidix dan Rudi, setelah melewati beberapa kali pergantian. Penjualan “Inner Oppression” sendiri terbilang sukses saat itu, sehingga dicetak ulang setahun kemudian. Pada 1998, Demoniac sempat vakum, dan Bengbeng pun lantas membentuk band baru bernama Bloodsheed, dan sempat pula tergabung di band Suffering setelahnya. Pada November 2009, Demoniac aktif kembali dan tampil di panggung “Metal Crot The Reunion” dengan formasi Bengbeng, Shidix (gitar), Didi ‘Suffering’ (gitar), Yugo (bass) dan Rudi (dram). Lalu terjadi lagi proses gonta-ganti personel sampai ke proses penggarapan “Thorn”. (Mdy)
mantap..\m/