Ekspedisi Jiwa KALABIRU dalam Balutan Rock Progresif/Psikedelik

Usai mengalirkan stimulasi lewat single “Abstraksi Kesadaran” dan “Dhan Sampati” kepada audiens rock progresif/psikedelik tahun lalu, kini Kalabiru penuh keyakinan merilis album mini (EP) mereka yang bertajuk “Ekspedisi Sajiwa” pada 30 Maret 2017. Di karya berisi empat lagu yang diedarkan via iTunes, Spotify, Soundcloud, dan Youtube tersebut, band asal Jakarta ini menuangkan pemikiran ‘vasudhaiva kutumbakam’, sebuah frase Sansekerta yang bermakna pemahaman bahwa manusia merupakan satu keluarga antara sesama, sehingga realitas dinamika kehidupan merajai setiap sistem kehidupan, dapat tetap saling mengisi menuju keserasian spiritual.

“Di dalam EP ini, kami bertukar pikiran tentang kehidupan, sosial, dan spiritual. Sempet punya konflik di antara personel, nggak ketemu beberapa minggu karena perbedaan pendapat. Mengenal arti saling mengerti satu sama lain dan menjadi lebih solid lagi,” ulas vokalis dan gitaris Gemilang Ramadhan kepada MUSIKERAS.

Lewat uraian di press release, Kalabiru berusaha menelisik dinamika spritual manusia dalam satu siklus umum, bentuk gejolak yang berusaha mencari kebenaran hakiki lewat empat lagu yang dihidangkannya. Diawali dengan lagu pembuka, “Sanda Merapah” menjelaskan awal perjalanan manusia dalam memulai kehidupan dan berusaha mencari makna akan kehidupannya. Lalu terciptanya refleksi diri dalam melakukan perjalan penuh gejolak, sehingga menemukan pemahaman sejati mengenai dirinya, yang tertutur di lagu kedua, “Dhan Sampati”. Lalu lagu “Nah-Hey!”, pemahaman itu menimbulkan kepekaan tinggi terhadap dunia sekitar dimana tersadarinya harmoni semesta bagai utopia karena kesewenangan manusia. Nah, di nomor penutup, “Ekspedisi Sajiwa”, pencarian jiwa adalah kuncinya, menemukan arti spiritualitas yang harmoni terhadap semesta, menyingkirkan problema yang ada di sekitar, serta bersama-sama menjalani kehidupan yang harmonis tanpa perbedaan sebagai makhluk yang berasal dari satu energi, menghargai bahwa semesta ini hanyalah titipan Tuhan semata, sang ‘Mahajiwa’.

Gemilang bersama Janu Rahadi (bass), Haryo Krisna (kibord), Adianto Estara (dram), Rizky Adintya Ramadhan atau Eki (synthesizer) dan Arya Sedalesmana atau Toles (perkusi) mulai menggarap “Ekspedisi Sajiwa” sembilan bulan lalu, atau sekitar Mei 2016. Lalu menjalani proses produksi selama kurang lebih lima bulan, dan sempat pula diselingi kesalahan teknis yang menyebabkan mereka kehilangan data rekaman.

“Kami mengulang dari awal lagi,” ungkap Gemilang mengenang. “Kami juga produksi EP ini sendiri, mulai dari rekaman sampai mastering. EP ini benar-benar ngasih kami sesuatu yang baru dan membuat kami makin dewasa dalam (menjalani) hidup,”

Kalabiru sendiri terbentuk sekitar 2015 lalu, dan membangun konsep rock yang sangat kental terpengaruh band-band progresif dan psikedelik, Britrock, folk, blues hingga etnik. Sebenarnya Kalabiru mengawali karir sebagai sebuah band blues dan mengibarkan nama Bluestramp. Namun sadar tak bisa ke mana-mana hanya dengan bermodalkan menu blues, maka akhirnya dipilihlah nama Kalabiru agar bisa leluasa melakukan hal-hal baru, dengan genre yang awalnya tidak ditentukan. Hasilnya adalah single pertama mereka, “Abstraksi Kesadaran” yang tercipta sekitar 11 bulan lalu.

Berbagai inspirasi pun teraduk dinamis di tubuh Kalabiru. Mulai dari komposisi progresif dan psikedelik ala Pink Floyd, dimana mereka mengagumi filosofi di dalam lagu-lagu band legendaris asal Inggris tersebut. Juga kandungan psychedelic folk serta konsep story telling yang kental dari band-band seperti Genesis dan Kula Shaker. “Mereka membuat ruang imagi kami bergerak dan berwarna,” cetus Gemilang meyakinkan.

Selain band-band tadi, para personel Kalabiru juga menyerap pengaruh dari Oasis, The Verve dan Stone Roses, atau bahkan dari musik-musik soundtrack film, beberapa musik etnik hingga musik-musik atmospheric. “Dan uniknya,” ungkap Gemilang lagi, “Kalabiru nggak berangkat dari genre yang sama. Kibordis kami jazz, dramer kami metal, bassis kami rock, pemain synth kami R&B, dan percussionist kami classic rock, dan saya sendiri dulunya blues.”

Basically, kami semua dari satu tongkrongan yang sama dan udah temenan bertahun-tahun. Dan Kalabiru terbentuk karena kami punya visi untuk menyatukan manusia dengan vibe yang sama. Pada dasarnya kami tercipta oleh satu energi yang sama dan mempunyai konektifitas terhadap semua unsur kehidupan.” (Mdy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.