Single Terbaru PRO MONKEY, Religius dan Gelap

Saat pertama kali terbentuk pada Oktober 2009 silam, unik musik keras asal Bekasi, Pro Monkey sempat menganut paham screamo sebagai ‘agama’ musiknya yang saat itu memang tengah banyak digemari di kalangan penggemar rock/metal. Lalu seiring dengan berjalannya waktu, Pro Monkey perlahan mulai menemukan jati dirinya, dimana mereka akhirnya melebur pengaruh post-hardcore dan metalcore, plus penggunaan vokal clean serta unsur orkestra atau string ke dalam ramuan musiknya. Dan kini, konsep yang mereka namakan ‘Moncore’ (Monkey Postmetalcore) tersebut semakin dipertajam lewat single terbaru yang bertajuk “Destinasi Terakhir”, yang sudah bisa didapatkan secara legal di toko-toko musik digital seperti Spotify, Itunes, Deezer dan sebagainya.

Lewat lagu ini, Pro Monkey berharap pendengarnya tidak menganggap “Destinasi Terakhir” sekadar lagu keras yang asal-asalan, namun juga bisa menyerap pesan yang terkandung di tuturan liriknya. Gitaris Vallian Hanjani yang menulis lirik lagu tersebut mencoba menyelipkan peringatan penuh harapanagar sesama manusia tidak larut pada kesenangan duniawi dan bisa mengedepankan toleransi.

“Kita terlahir di dunia untuk kembali. Pesan singkat agar memanfaatkan waktu yang sementara ini untuk hal yang lebih positif lagi dan mengakhiri dengan manis pada saatnya nanti,” urai pihak band kepada MUSIKERAS.

Lalu adanya penerapan unsur orkestra di lagu tersebut menjadi salah satu ciri khas, sekaligus daya tarik bagi pendengar Pro Monkey. Raden Widho (vokal), Vallian Hanjani Husen (gitar), Ravael Diaz Simorangkir (bass/vokal clean) dan Ramadhyan Beckham (dram) sendiri menganggap imbuhan itu sebagai pelengkap musik keseluruhan agar tercipta nuansa musik gelap untuk menguatkan lirik yang ada di dalamnya.

“Karena di album pertama yang bakal kami rilis nanti berisikan (lirik) tentang Tuhan, manusia serta alam-Nya. Nuansa seperti itu akan selalu ada pada lagu-lagu berikutnya,” ungkap Pro Monkey lagi, yang kini sudah di tahap persiapan album perdana, yang rencananya bakal mereka rilis di bulan Ramadhan atau setelah Lebaran tahun ini.

Selaras dengan misi lirik, penggarapan artwork untuk single “Destinasi Terakhir” juga sangat dipikirkan oleh para personel Pro Monkey. Mereka menggandeng dua ilustrator, Asror dan Aries yang berasal dari local brand Bekasi, kmbngclth untuk menggarap desain covernya. Jam pasir di karya artwork tersebut menggambarkan arah pasir yang jatuh ke atas, bukan ke bawah seperti seharusnya. Visualisasi itu menunjukkan bahwa seluruh umat manusia nantinya akan kembali kepada sang Pencipta. Lalu ada lambang ambigram dari PM yang kependekan dari Pro Monkey serta segitiga merupakan lambang dari konsep Trinitas. Sebuah konsep religius yang mendasarkan pada tiga unsur alam semesta, yaitu Tuhan, manusia dan alam.

Pada 2014 lalu, Pro Monkey sudah pernah meluncurkan album mini (EP) bertajuk “Never Give Up” yang memuat enam lagu. Salah satu lagunya, “Damn! I Hate Cockroaches”, Pro Monkey berkolaborasi dengan salah satu musisi yang sudah cukup dikenal di kalangan penikmat musik Post-Hardcore, yaitu Riza Wardhana dari False Diary. Untuk musik, band-band seperti Asking Alexandria, I See Stars, The Devil Wears Prada, Miss May I, Alesana hingga Killing Me Inside adalah sebagian sumber inspirasinya. (Mdy)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.