Selalu ada jalan menuju Roma. Sepertinya prinsip itu yang diterapkan Chaos In Anarchy a.k.a The C/I/A, sebuah unit hardcore punk yang terbentuk Tambun Selatan, Bekasi. Walau ditolak oleh berbagai label rekaman, beberapa materi lagunya yang awalnya ingin dirilis dalam format album mini (EP) tahun lalu, akhirnya dipecah dan disalurkan ke berbagai kanal album kompilasi.
Lagu-lagu tersebut adalah “Amunisi”, “We Wont Forget” dan “Bajingan (Otak Anjing)”, masing-masing telah termuat di album “The Rooster Vol.1” dan “Bhinneka Tunggal Ika Vol.1” (keduanya dirilis dalam format CD oleh Proganizer & ErmMusic Records, Bandung), lalu “Heavywight Worldwide Vol. 9” rilisan digital oleh net label asal Italia, ILM Familia.
Ketiga lagu tadi direkam Satria (vokal), Awank (gitar), Dedy (bass) dan Wahyu (dram) di Baks Studio, Cempaka Putih, Jakarta pada 2016 lalu, sebagai pembuktian nyata bahwa Chaos In Anarchy masih ada dan belum mau bubar. Maklum, sejak terbentuk pada Mei 1998, band ini sempat vakum dan bergonta-ganti personel.
Dan setelah mendapatkan penetrasi dari album-album kompilasi tadi, para personel Chaos In Anarchy juga tetap berusaha menulis materi-materi lagu baru yang tentunya masih memeluk erat paham punk yang rencananya akan dirilis dalam format album mini. “Intinya kami tidak menyerah dan tidak akan pernah mau menyerah,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.
Tapi satu hal yang pasti, Chaos In Anarchy tetap akan konsisten di jalur hardcore punk, yang awalnya banyak mereka serap dari band-band seperti Total Chaos, The Exploited, Casualties dan Disrupt. “Secara garis besar kami tidak banyak yang berubah. Sejak awal terbentuk hingga sekarang masih tetap sama, baik referensi maupun inspirasi (musik). Bahkan skill bermain musik pun masih tetap sama yaitu semampunya seadanya. Yang berubah hanya usia dari personelnya saja yang kian lama semakin membusuk dan tergerus oleh zaman era modern, hahahaha!”
Saat dibentuk pertama kali oleh Q-zoot (Sweet As Revenge), tak butuh lama buat Chaos In Anarchy untuk mendapatkan perhatian dari skena punk. Dalam waktu yang relatif singkat, band ini langsung dipercaya untuk terlibat di kompilasi indie pertama di kota Bekasi, yaitu “Voice Of War” dengan single “Government S**k”. Sayangnya, hanya dalam waktu setahun, band ini sempat bubar karena kesibukan para personelnya. Pada 2001, Chaos In Anarchy mulai aktif lagi dan langsung aktif manggung di berbagai gigs di Bekasi dan di luar Bekasi, dan kembali terlibat di beberapa album kompilasi indie, di antaranya “Together As One #2” dengan single “Wanita Berontak”.
Pada 2004, Chaos In Anarchy memberanikan diri merilis album penuh pertama bertajuk “Tindak Lanjut” yang dirilis secara independen dalam format CD. Dua tahun kemudian, mereka kembali merilis album mini berjudul “A Scar That Never Grace”, kali ini dalam format kaset. Album tersebut sekaligus menandai sebuah perpisahan yang disebabkan kesibukan personel dan adanya personel yang pindah ke kota yang berbeda. (MK01)