JOSH HOMME Kembali Kibarkan QUEEN OF THE STONE AGE

Usai mengelarkan tur promo dari proyek album kolaborasinya dengan legenda punk, Iggy Pop yang bertajuk “Post Pop Depression”, vokalis, gitaris, produser dan penulis lagu Josh Homme langsung tancap gas lagi dengan persiapan rilis album terbaru bandnya sendiri, Queen of the Stone Age (QOTSA). Album studio ketujuh bertajuk “Villains” tersebut bakal dilempar ke pasaran mulai 25 Agustus 2017 mendatang via label Matador Records. Selain dalam format digital dan kepingan cakram padat (CD), juga bakal dirilis dalam piringan hitam (vinyl) kemasan standar dan deluxe.   

“Judul ‘Villains’ bukan merupakan pernyataan politik,” cetus Josh menegaskan, seperti yang dikutip dari press release resminya. Menurut Josh, ‘Villains’ itu tak ada hubungannya dengan Donald Trump (Presiden Amerika Serikat saat ini yang sarat kontroversi) atau hal-hal sampah lainnya. Melainkan, judul tersebut terdengar fantastik, sebuah kata yang selalu merepresentasikan tiga hal, yaitu diri kita, diri sendiri dan hal yang sebenarnya tengah terjadi.

“Setiap orang butuh seseorang atau sesuatu untuk dilawan – yaitu para penjahat – selalu begitu. Anda tak bisa mengontrolnya. Satu-satunya hal yang bisa Anda kontrol adalah membiarkannya (pergi).”

“Villains” digarap Josh Homme, Troy Van Leeuwen (gitar/kibord), Michael Shuman (bass), Dean Fertita (gitar) dan Jon Theodore (dram) bersama produser Mark Ronson dan produser pendamping Mark Rankin di United Recording Studios, di Los Angeles, California pada Januari hingga Maret 2017 lalu.

Salah satu aspek yang sangat diperhatikan Josh di rekaman kali ini adalah penajaman sound. “Jika Anda tak bisa membuat album debut yang bagus, sebaiknya Anda langsung berhanti. Tapi jika Anda bisa menghasilkan album bagus dan Anda terus membuat album yang tak lagi memperhatikan masalah sound, maka (album) Anda akan menjadi parodi dari sound sebelumnya.”

“Setelah penggarapan ‘…Like Clockwork’ (album QOTSA sebelumnya), saya sangat bersemangat untuk masuk studio lagi dengan tantangan untuk menajamkan sound album ini, khususnya dengan hadirnya (kontribusi) dari (Mark) Ronson) di lini kreatif. Kami ingin mengembangkan produksinya, mengolahnya dengan cara modern namun tetap organik dan tetap terasa live-nya,” urai Mark Rankin menambahkan.

Queen of the Stone Age sendiri terbentuk setelah band Josh Homme sebelumnya, Kyuss, bubar. Tahun berikutnya, Josh membentuk band baru bernama Gamma Ray dan merilis album mini debut self-titled yang menghadirkan kontribusi dari Matt Cameron (Soundgarden, Pearl Jam), Van Conner (Screaming Trees) serta Victor Indrizzo. Pada 1997, nama Gamma Ray diganti menjadi Queen of the Stone Age karena sebelumnya sudah ada band power metal asal Jerman yang menggunakan nama tersebut.

Sejauh ini, Queen of the Stone Age telah merilis album “Queens of the Stone Age” (1998), “Rated R” (2000), “Songs for the Deaf” (2002), “Lullabies to Paralyze” (2005), “Era Vulgaris” (2007) dan “…Like Clockwork” (2013). Album yang disebut terakhir berhasil menempati peringkat teratas terlaris di Amerika, Australia, Belgia, Irlandia, Portugal dan Skotlandia, lalu peringkat kedua di Inggris, Kanada, Swiss, Norwegia, Selandia Baru dan Finlandia. (MK03)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.