ROYAL BANDIT Siapkan Single Rock Berdurasi 8-10 Menit

Usai merilis album digital bertajuk “Kita Tanpa Nyawa” pada 20 November 2016 lalu – plus sebuah single berjudul “Ribet” dimana mereka berkolaborasi dengar rapper David Tandayu dari band rock ’90an bernama Keripik Peudeus – kini unit rock asal Jakarta, Royal Bandit sudah mengambil ancang-ancang untuk kembali merilis single baru.

“Rencananya, (single baru kami) mau dibuat durasi lagunya 8-10 menit. Konsepnya sudah hampir matang. Atas dasar cinta dengan musik, kami nggak mau banyak pertimbangan,” cetus pihak band, kepada MUSIKERAS.

Royal Bandit sendiri terbentuk di pada pertengahan 2014 dan sejak awal langsung memilih genre rock ’90an sebagai paham utamanya, walau setiap personelnya punya latar belakang musikal yang berbeda-beda. Vokalis Dio Soetansyah sebelumnya adalah seorang dramer di band funk rock Headmove. Lalu ada gitaris Benarivo yang merupakan anak didik gitaris senior Donny Suhendra, yang lantas membuat dasar musik jazz-nya mengakar kuat. Dramaldi yang berada di balik drumset awalnya memilih menjadi dramer karena terpengaruh musik metal, namun sempat pula tercatat sebagai personel band reggae Pohon Kelapa. Personel terakhir adalah Wicak, seorang lulusan Design Interioryang lantas memilih aliran punk rock untuk mengaplikasikan teknik permainan bass-nya.

Mereka lantas meramu warna musiknya sendiri, yang berkembang seiring dengan pendewasaan masing-masing personel, dan mengemasnya secara modern mengikuti perkembangan zaman. Namun yang jelas, selain rock, mereka sepakat menjadikan musik-musik lokal Tanah Air sebagai panutan.

“Karena dari situ kami jadi punya barometer, dan tidak terlihat memaksakan ke barat-baratan atau berusaha menjadi seperti seseorang yang kami idolakan.

Apapun genre musik yang Royal Bandit mainkan dan ciptakan akan tetap menjadi Royal Bandit yang memiliki karakter atau benang merah dalam musik kami. Dan itulah yang sedang sibuk kami pertahankan, hahaha. Panutan kami antara lain God Bless, ada Grassrock, dan kami juga suka dengerin lagunya Guruh Soekarno Putra, Iwan Fals hingga Slank. Karena kami melihat definisi dari referensi itu sangat luas, kami nggak mau dikotak-kotakkan oleh skena dan genre musik.”

Makanya tak heran, konsep musik yang mereka tuangkan album “Kita Tanpa Nyawa” cenderung variatif. Menurut mereka, suasananya jumping di beberapa track, begitu juga dengan tema dan konsepnya. Dan memang itulah yang kami cari. Karena dengan karakter lagu yang berbeda mereka merasa jadi punya kesempatan untuk memperkenalkan benang merah musik Royal Bandit. “Dan memang itu yang sedang kami perjuangkan, semoga prosesnya semakin baik.”

Saat menggarap materi album “Kita Tanpa Nyawa”,  Royal Bandit berekspresi total dengan meluangkan waktu untuk tinggal bersama, dan tidak pulang ke rumah masing-masing selama sekitar dua bulan.

“Semacam mengurung diri bersama, dengan harapan kami bisa saling memahami selera musik tiap personel. Bikin musiknya, dikombinasikan dengan gagasan dalam liriknya. Karena memang pada saat itu kami belum sedekat sekarang, kami butuh banyak waktu untuk saling adaptasi, dan dampak dari hal itu bukan cuma untuk kepentingan musik. Buktinya, kami sekarang jadi semakin kompak,” urai pihak band lagi.

Dio, Benarivo, Dramaldi dan Wicak menggarap rekaman “Kita Tanpa Nyawa” di SAE Institute yang berlokasi di daerah Pejaten, Jakarta Selatan, berkat bantuan seorang teman bernama Tama, yang kebetulan kuliah jurusan sound engineer di sana. Mereka langsung masuk setudio rekaman tidak lama berselang setelah menjalani proses karantina. “Menurut kami ini awal yang baik, mengingat prosesnya membutuhkan pengorbanan yang ekstra, hehehe….”

Sesuai dengan alasan di balik pemilihan nama band, dimana ‘Royal’ diartikan memberi gagasan atau pendapat dengan cara yang lebih modern, sedangkan ‘Bandit’ disimbolkan merangkul kaum minoritas hingga karya yang diciptakan dapat berdampak positif untuk banyak orang. Sehingga dari segi lirik, walaupun terkesan banyak protes, namun mereka berusaha keras tidak menyinggung ranah politik. Tepatnya, lebih menyindir sisi human error dalam kehidupan. “Seperti memperjuangkan norma dan etika. Begitu kesepakatan kami ketika menjalani proses penggarapan.”

Album “Kita Tanpa Nyawa” sendiri bisa didapatkan via gerai digital seperti iTunes dan Spotify serta kanal media sosial macam YouTube dan Soundcloud. (MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *