Chudaiva, sebuah unit metal unik asal Cilodong, Depok yang resmi dibentuk pada 13 Desember 2017 lalu, kini tengah mencoba mendapatkan perhatian di skena underground Tanah Air. Band yang dihuni Anam Zulqarnain (gitar/vokal), Riky Aprian (bass) dan Adev Chudaiva (dram) tersebut telah meluncurkan album promo bertajuk “Reawakening the Apocalypse”, berisi tiga lagu yang kental akan nuansa musik padang pasir.

Ada tiga lagu perkenalan yang mereka tawarkan di album promo tersebut, yakni “Qishash”, “Condemning All Religions” dan “Terror 729 (Manipulated)” dengan kontur komposisi yang mereka sebut dengan istilah ‘Egyptian Death Metal’. Menurut Adev yang menuturkannya kepada MUSIKERAS, genre itu mereka mainkan karena kebetulan para personel Chudaiva sangat terinspirasi Nile, band detah metal asal Amerika Serikat yang kurang lebih menganut konsep yang sama. “Kami juga sangat terobsesi pada musik-musik (bernuansa) padang pasir.”
Proses penggarapan “Reawakening the Apocalypse” sendiri dieksekusi terpisah. Isian dram dilakukan di Jakarta, sementara untuk bass, gitar dan vokal direkam di Malang. “Proses rekaman cukup seru, karena dilakukan secara cross country alias lintas provinsi. Jadi komunikasi harus terjalin dengan sangat baik di sini,” ungkap Adev lagi.
Ide membentuk Chudaiva sendiri digagas oleh Adev, setelah mendapat ajakan dari Anam, mantan personel band Embalmed to Enforce. Sejak awal, keduanya langsung fokus pada konsep Egyptian Death Metal, terutama bagi Anam yang masih penasaran mewujudkan cita-citanya yang sempat kandas di band Embalmed to Enforce. Setelah resmi terbentuk, Riky Aprian dari Inhumanity pun ikut bergabung.
Nama Chudaiva sendiri diambil dari nama seorang syuhada’ (salah satu terminologi dalam Islam, yang merupakan sebutan terhadap orang-orang Muslim yang meninggal ketika berperang atau berjuang di jalan Allah membela kebenaran atau mempertahankan hak dengan penuh kesabaran dan keikhlasan untuk menegakkan agama Allah, Red.) yang pada saat Perang Badar (berlangsung pada 624 Masehi atau 17 Ramadan 2 Hijriah), dipercaya oleh Rasulullah Muhammad S.A.W. untuk memata-matai pergerakan musuh (pasukan Quraisy).
Chudaiva lantas merekam ulang lagu-lagu milik Embalmed to Enforce di sebuah studio di Malang, yaitu Bluelake Projekt. “Anam yang ngajakin ngeband bawain lagu-lagunya bandnya yang dulu. Soalnya dia bubarin, tapi masih sayang sama lagunya. Ya udah, kami perbaharui, dan sudah kami rekam ulang dengan gaya Chudaiva sendiri.”
Saat ini, Chudaiva tengah menjalani proses perampungan album penuh “Reawakening the Apocalypse” dan bakal merilisnya via label DG Records yang bermarkas di Ciledug, Tangerang. (MK01)