Lewat “Prahara”, HEGEMONY OF GOD Tuntaskan Metalcore yang Berbeda

Hegemony of God, sebuah unit metalcore asal Cianjur, Jawa Barat akhirnya bersiap merilis album debutnya dalam waktu dekat. Sebuah niat dan keyakinan yang dipupuk sejak terbentuk pada akhir Desember 2011 silam. Kini, proses penggarapan album yang bakal diberi judul “Prahara” tersebut telah menyelesaikan tahapan penataan (mixing) dan serta pelarasan suara (mastering) untuk 12 lagu. Begitu juga dengan desain artwork untuk sampul album telah rampung dikerjakan.

“Semuanya sudah selesai, tahap selanjutnya adalah kami sedang mempersiapkan dana untuk cetak CD, karena kami rilis sendiri tanpa records label,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS.

Hegemony of God yang dihuni formasi Hood Yudistira (vokal), Lucky Avrillia (gitar), Rey Prayoga (gitar), Bintang Alvaro (bass) dan Iam (dram) mulai menggarap rekaman album “Prahara” tersebut sejak 2016 lalu, yang dieksekusi di Mr. Records Studio. Untuk memberi gambaran seperti apa geberan musik dari Hegemony of God, mereka telah meluncurkan sebuah single yang juga bertajuk “Parahara” ke berbagai kanal media sosial untuk pengunduhan bebas alias tak berbayar.

Lirik pada lagu “Prahara” tersebut ditulis oleh Hood Yudistira, dimana ia menggambarkan ‘prahara’ itu sebagai badai konflik kreasi oknum anak Adam yang sengaja diciptakan untuk menjatuhkan secara cepat atau perlahan. Memberontak untuk tirani yang terprioritaskan kemudian hirarki duniawi yang menggelapkan mata terus dikejar.

“Prahara bagi kami adalah salah satu ujian dari Tuhan, kenaikan derajat atau pengampunan dosa itulah karunia dari Tuhan, ketika polemik berhasil dibungkam tanpa merugikan itulah Kuasa Tuhan. Serangan dari luar yang bertubi dan konflik dari dalam yang sedikit demi sedikit menggerogoti adalah pertanda bahwa kekuatan batin dipertanyakan dan seberapa hinanya kita dengan Maha Pengasihnya, Tuhan tetap memberkati. Kami berterimakasih pada prahara yang mengintrospeksi, karena dengan masalah kami belajar lebih dewasa dan bijaksana ketika mengeksekusi prahara itu sendiri. Dan ketika akal sehat berhasil meredam dan menyelesaikannya, dari situlah cara pandang dan pola pikir akan semakin tajam,” ulas pihak band, seperti yang tertuang di siaran pers resminya.

Dari segi konsep musik sendiri, Hegemony of God meniatkan sebuah formula metalcore yang berbeda dibanding komposisi-komposisi metalcore umumnya. “Referensi atau influens banyak, kami pendengar musik apa saja, selera musik kami setiap orangnya berbeda-beda. Dari selera musik yang berbeda itu, setelah dipadukan menjadi satu pikiran. Ya ini hasilnya musik Hegemony of God,” seru pihak band lagi meyakinkan.

Namun sebagai acuan, ada beberapa band yang memang masuk dalam radar kreativitas mereka, di antaranya seperti As I Lay Dying, the Black Dahlia Murder, As Blood Runs Black, Bloodshot Dawn, Lamb of God, Obscura, Trivium, August Burns Red, Fleshgod, All Shall Perish hingga Pantera.

“Kami coba bikin musik yang memiliki komposisi antara progresif dan harmonisnya seimbang, menyatukan massive breakdown dan melodic sweep di tiap bagannya, serta di drum yang lebih dominan memakai blast beat. Konsep departemen aransmen musik kami yang sekarang lebih memperhatikan harmonisasinya jadi tidak cuma fokus mengejar speed saja. Setiap lagu kami juga memasukkan nada-nada major jadi terdengar lebih segar perpaduan bernuansa segar dan nada yang gelap.” (MK01)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.