Sebuah gerbang pembuka berujud album mini resmi diluncurkan Superfine, unit rock flamboyan asal Bandung yang telah menggeliat di skena indie sejak Mei 2010 silam. Album tersebut bertajuk “Rabbit Hole” yang diedarkan via label Bhang Records dalam format kaset pita dan digital. Lewat karya rekaman ini, Nancy Christ (vokal), Tiar Renas (gitar), dan Ghushni Ibrahim (gitar) hendak menawarkan sebuah gagasan terkini dalam musik mereka dengan ragam unsur musikal baru. Gagasan yang bakal tereksplorasi lebih dalam di album penuh berkonsep trilogi yang kini tengah mereka kerjakan.
Seperti yang diungkapkan via siaran pers resmi mereka, “Rabbit Hole” merupakan cara untuk membawa/melihat kontradiksi-kontradiksi yang selama ini tersembunyi di balik konsep Superfine, ke arah yang kian berkembang, baik secara musik maupun lirik.
Album mini Rabbit Hole sendiri didalamnya berisikan dua lagu yang saling berkaitan satu sama lain, di sisi A memuat lagu “Sound of Wild”, dan untuk sisi B, memuat lagu berjudul sama dengan tajuk album mini, yakni “Rabbit Hole”. “Sound of Wild” yang berdurasi lebih dari 14 menit sendiri sudah pernah dirilis sebagai single pada 9 Mei 2017 lalu.
“Lagu-lagu di dalamnya menyerupai prolog, atau suguhan pengantar menjelang cerita utuh yang hendak ditawarkan dalam format album penuh. Album mini Rabbit Hole adalah kesatuan pengikat untuk track demi track selanjutnya,” ucap Ghushni.

“Sound of Wild” dan “Rabbit Hole” memuat unsur kegelapan dan kejatuhan dalam jurang depresi, sebuah proses yang harus dilewati di dalam kehidupan dalam kerangka pembentukan keabsahan manusia, manusia yang utuh, manusia yang manusia. “Sound of Wild” merupakan tafsir, sebuah representasi tentang eksplorasi kegelapan. Keresahan yang muncul pada saat proses penulisannya adalah rasa keingintahuan manusia terhadap sisi lain dalam dirinya, sisi lain selain yang di dogmakan sebagai kebenaran. Sementara “Rabbit Hole” adalah sebuah ekspresi depresi, yang mana dalam hal ini merupakan titik terendah dalam kehidupan manusia yang sering disalah mengerti dan tidak dianggap serius. Keresahannya berupa skeptisisme manusia terhadap konsep kebahagiaan.
“Apakah depresi dulu, atau eksplorasi kegelapan dulu, tidak ada urutan pasti, tergantung pada setiap manusianya sendiri, tidak ada kepastian yang mana yang terlebih dahulu. Yang jelas dua hal tersebut pasti terjadi, mungkin bisa dipura-purakan, tapi tidak bisa dielakkan,” urai Nancy berfilosofi.
Lebih jauh tentang lagu “Sound of Wild”, Nancy menuturkan bahwa setiap manusia memiliki sifat ‘setan’ / ‘binatang’ di dalam dirinya, keinginan untuk mengenalnya bukanlah sebuah kesalahan. “Eksplorasi kegelapan itu dibutuhkan, yang penting adalah bagaimana mengendalikan ‘setan’ mu,” cetusnya.
Sementara tentang “Rabbit Hole”, apa yang tertulis merupakan dekontruksi kebahagiaan itu sendiri. “Karena kebahagiaan bagi kami hanyalah sebuah konsep, wacana yang bersifat hormonal. Dengan kata lain, realita menyajikan fakta yang tak dapat dielakkan, manusia tidak bisa melawan kepedihan, sel yang sudah kita bawa sejak kita dilahirkan. Catatan pentingnya adalah kepedihan bukanlah sebuah kelemahan, semua hanya bergantung pada sudut pandang.”
Jadi, lanjutnya album mini “Rabbit Hole” secara utuh dapat dipahami baik secara harafiah maupun metafor. Secara harafiah, ‘Rabbit Hole’ berarti lubang yang digali oleh hewan (khususnya kelinci) di dalam tanah, bercabang didalamnya dan bisa sangat dalam. Tujuan dari lubang ini adalah sebagai tempat hidup, berhabitat sekaligus berfungsi sebagai tempat untuk berlindung dari predator luar. Sedang ‘Rabbit Hole’ secara metafor berarti sebuah lubang tempat kita terjerumus dan menjerumuskan diri ke dalam suatu dimensi yang abstrak, yang kita tidak ketahui seberapa dalam dan rumit alur dari persimpangan-persimpangan yang ada didalamnya.
“Semakin kita mencari tahu maka semakin terjerat ke dalam lebatnya tenunan jaring laba-laba. Dunia bawah tanah ini memberikan kejutan yang tidak pernah anda harapkan,” katanya seraya menyebut, peristiwa dan pengalaman yang didapatkan itu melampaui ekspektasi terhadap bayangan kehidupan orang biasa pada umumnya. “Sekali berada di dalamnya maka normal bukan lagi yang masuk akal, tawa bukan lagi yang bermakna, tidur tidak lagi menghibur. Di sini yang masuk akal adalah yang anti-sosial, yang bermakna adalah duka, yang bertahan adalah ratapan, yang hakiki adalah isolasi dan yang normal adalah yang abnormal.”
Tiar mengimbuhi, penggabungan dari kedua makna tersebut juga secara sederhana dapat dipahami. Makna ‘Rabbit Hole’ secara metafor itu ada sebagai sebuah bagian dari eksistensi kesatuan, bersama, berdampingan dengan makna harafiah. Jadi, semua pengalaman dan peristiwa yang terjadi dan dialami di dunia bawah tanah (makna metafor), baik itu kejatuhan, ketersesatan, kehilangan, kepedihan, ketakutan, kesepian, ketertekanan sosial-mental, kegilaan bahkan kematian, digunakan sebagai tempat untuk berhabitat, berkembang dan berlindung (makna harafiah).
“Simpulnya, ‘Rabbit Hole’ adalah transformasi ‘kegelapan’, transformasi sebagai sebuah kekuatan, kekuatan untuk bertahan hidup. Kami selalu percaya, akan tiba masanya nanti untuk manusia mengambil jeda, kemudian keluar sejenak untuk melihat ke matahari (cahaya), toh sedikit cahaya tidak akan membuat kita meronta, sebelum akhirnya kembali lagi ke pelukan jaring laba-laba, dimana tempat tersebut adalah tempat yang entah mengapa selalu dianggap ‘lemah’ namun dibalik semua itu banyak melahirkan dan menyimpan celah untuk kekuatan yang tak berbatas, hal-hal semacam itulah yang lantas coba kami tuangkan ke dalam seni bunyi.”
Oh ya, selain dirilis dalam format kaset dan digital, album “Rabbit Hole” juga tersedia dalam format aplikasi bernama Music Art Station (MAS), sebuah solusi bagi pendengar/ pembeli yang tidak memiliki alat pemutar kaset pita sebagaimana rilisan fisik yang ditawarkan namun tetap ingin memilikinya. Jelasnya, lewat aplikasi MAS, musiknya akan tetap bisa dinikmati tanpa perlu repot memikirkan medium putar, namun dengan bonus dapat merasakan sensasi baru dalam memainkan lagu melalui gadget (khusus android) yang ada tanpa harus meninggalkan produk fisik.
Teknologi ini sendiri, secara teknis merupakan gabungan dari dunia nyata dan digital: Augmented Reality, yang mana proses pemakaiannya sendiri dilakukan dengan cara scanning cover, dimana tata cara operasionalnya tersedia lengkap dalam kemasan kaset. Untuk terobosan mutakhir tersebut, Superfine berkolaborasi dengan Blowspace, salah satu start-up yang bergerak di bidang digital creative dan IT developer asal Bandung, serta 3D Artist bernama Reza Medika Wicaksono dan Agus Cahyono, asal Semarang.
Dalam penggarapannya, album “Rabbit Hole” juga melibatkan beberapa musisi tamu, yakni Arbi Wardani (dram), Tobieng Halim (bass), Resa Afriansyah (gitar) dan Rizal Zachri (piano, synth). Sedang untuk proses penggarapan rekaman, dikerjakan di Escape Studios (Bandung), Infinite Labs (Bandung) dan Gladiresik Music Lab (Jakarta). Eksekusi mixing diserahkan kepada Cil Satriawan, sementara mastering diolah oleh Avedis Mutter (Aftercoma) yang merupakan anak dari Richard Mutter (dramer PAS Band). (Mdy)
.