“Black & White” Buktikan Energi Punk-Rock SOFTANIMAL

Sebagai pemanasan sebelum merilis sebuah album mini (EP) bertajuk “Nanook” dalam waktu dekat, Bayu Adisapoetra yang selama ini dikenal sebagai penggebuk dram di grup pop indie asal Jakarta, Elephant Kind akhirnya mendapatkan momentum terbaiknya untuk melampiaskan kebuasan musikalnya di ranah genre berbeda. Baru-baru ini ia telah merilis sebuah komposisi lagu yang bertempo cepat, kasar, dengan keliaran punk-rock akut bertajuk “Black & White”.

Di lagu ini, proses peleburan antara rasa old school dan modern yang baik. Tidak terlupa juga sentuhan tangan dingin musisi Lafa Pratomo sebagai produser, alhasil lagu yang lahir tidak lebih dari kurun waktu 15 menit tersebut sukses diramu menjadi salah satu materi SoftAnimal yang pantang untuk dilewatkan.

“Saya ingin mengeluarkan hasrat bermain musik dengan tempo cepat, menyampaikan energi di atas panggung kepada penonton,” seru Bayu menjawab pertanyaan MUSIKERAS. “Dan tentunya, saya ingin orang-orang tahu, menikmati hasil dari buah pikir saya yang coba saya tuangkan ke dalam musik SoftAnimal, dan orang-orang bisa mengenal saya lebih dalam lagi. Bukan hanya seorang Bayu Adisapoetra, dramer Elephant Kind, namun seutuhnya Bayu Adisapoetra!”

“Black & White” yang digarap Bayu di Ruang Waktu Music Lab dan Als Studio, Jakarta bersama engineer Lafa Pratomo merupakan single kedua yang digelindingkan untuk menyambut perilisan album mini bertajuk “Nanook”. Sebelumnya, Bayu juga telah meluncurkan single pembuka berjudul “New Blood” pada pertengahan Maret 2018 lalu.

Namun lewat single keduanya tersebut, ada kemajuan secara musikal yang menarik, yang dirasakan Bayu ketika menggarapnya. Menurut Bayu, ini lagu pertama yang ia ciptakan dengan tempo yang cukup cepat dengan kord yang simple.

“Tapi saya sangat ingin mendapatkan esensi punk-rock dengan nuansa yang ‘kotor’, namun dari segi produksi masih di-approach dengan (cara) modern. Hadirnya Lafa pratomo membuat sound yang saya mau menjadi kenyataan,” urai Bayu yang mengeksekusi “Black & White” dibantu oleh Geraldo Oryza untuk isian gitar dan vokal serta Lafa Pratomo untuk bass.

Di penggarapan “Nanook” sendiri, Bayu mengaku menjalani proses yang lumayan unik, dimana ia tidak memulainya dengan ide tema, melainkan langsung mengeksekusi seluruh musik dasarnya terlebih dahulu. Sampai suatu malam ia menonton acara TV National Geographic dan menyaksikan ‘Nanook of the North’, sebuah film dokumenter bisu karya Robert J. Flaherty (dirilis pada 1922) yang merekam perjuangan Nanook, seorang bangsa Inuk untuk bertahan hidup di dataran es ekstrim di Ungava Peninsula, yang terletak di sisi utara Quebec, Kanada.

“Ketika saya riset apa itu Nanook, dan akhirnya saya tertarik mengangkatnya menjadi (tema) EP saya. (Tapi) Secara musikal, saya ingin merangkum semua pengalaman saya bermusik dari di No Talent hingga Elephant Kind. Saya ingin membuat musik yang cepat, keras, namun digarap dengan modern dengan imej urban, (maka) terjadilah SoftAnimal.” (Mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.