Grindcore Beringas AK//47 untuk Skena Internasional

Usai merampungkan tur panjang yang menggetarkan 21 kota di Amerika Serikat pada pada 16 Oktober hingga 17 November 2018 lalu, unit grindcore berbahaya asal Semarang, AK//47 langsung merilis album ketiganya, “Loncati Pagar Berduri”. Karya rekaman yang beramunisikan 13 komposisi grindcore dengan topik distopia dan aneka dekadensi akal sehat dalam masyarakat modern tersebut diedarkan oleh Lawless Jakarta Records (CD) dan Disaster Records (kaset).

Di album terbaru ini, Garna Raditya (vokal/gitar), Novelino “Inu” Adam (bass) dan Yogi “Kotob” Ario (dram) meraungkan respon terhadap kejadian-kejadian di Bumi Nusantara; saat kaum LGBT ditangkap, tempat ibadah diserang, komoditas hoax di media sosial serta isu rasisme dalam kepentingan politik, yang mereka sebuat sebagai bagian dari adaptasi kemarahan yang afdol dalam musik grindcore AK//47. Semuanya dikemas dalam kemarahan gerinda punk yang beringas dan progresif, yang sedikit banyak terserap dari band-band cadas asal AS, Jepang hingga Swedia yang menjadi referensi seperti Unholy Grave, 324, Gridlink, Thou, Plini, Totalitar, Disrupt, The Contortionist serta dari album debut Terrorizer, “World Downfall”.

“Pengerjaan album ini, kalau dipadatkan berlangsung satu tahun saja,” cetus Garna kepada MUSIKERAS, mengawali pembahasannya seputar “Loncati Pagar Berduri”.

Sejak Februari 2016 lalu, Garna, Inu dan Kotob sudah memulai menyicil rekaman album tersebut di Girez Studio, Semarang, Tapi sebulan kemudian, Garna Raditya harus pindah ke Oakland, California (AS) sehingga penulisan keseluruhan lagu pun ia lakukan sendirian. Setelah mengantongi tujuh lagu, sempat terniatkan untuk merilis album mini (EP) untuk memanfaatkan momentum tur AS pertama, yang berlangsung pada Maret – Juni 2018 lalu.

“Dikarenakan hanya tujuh lagu saja, Arian 13 dari Lawless Jakarta Records mengusulkan diberi tambahan beberapa lagu sebagai bonus. Merasa tanggung dengan lagu, saya kembali ke Tanah Air pada Maret lalu untuk tur singkat dan merekam enam lagu baru yang berlangsung selama tiga minggu,” ungkap Garna.

Proses kreatif penggarapan “Loncati Pagar Berduri”, menurut Garna, sebenarnya berlangsung di studio rekaman secara spontan. Menginap di studio, bangun tidur, rekaman, begitu seterusnya. Mengawali dengan membuat panduan gitar dan dram, lalu sambil mendengarkan berbagai referensi band secara acak yang terlintas di kepala. “Riff-riff-nya didapat dari eksperimen dengan tuning gitar, bahkan tidak tahu itu apa riff-nya, asal bunyinya enak dan agresif. Sedangkan Inu dan Kotob melengkapi yang ada.”

Dalam benak Garna, setelah mendengarkan karya musiknya berkali-kali, grindcore yang ia mainkan, adalah berasal dari permainan memori-memori fragmen lagu yang membekas di kepala. Entah dari siapa, fragmen itu kemudian melakukan fusi dengan format grindcore tradisional. Kalau itu bertabrakan dan berjibaku, muncullah percikan-percikan, Begitu kurang lebih menggambarkan sensasinya. Ada fragmen prog, hardcore punk, sludge dengan sound-sound grindcore era ‘90an. 

Lalu untuk referensi lirik, Garna banyak menyaring gagasan ketika mendengar kuliah-kuliah filsafat Rocky Gerung, atau menyelusuri riwayatnya Romo Mangun, serta membaca puisi-puisinya Wiji Thukul yang menggugah. “Salah satunya mengadaptasi ‘Bunga dan Tembok’  pada lirik lagu ‘Kepada Bunga Yang Tumbuh di Beton’, yang sepertinya afdol kalau dimainkan dalam grindcore. Ditambah dengan pengamatan-pengamatan saya sebagai imigran di AS selama tiga tahun ini, terutama di masa rezim Donald Trump.”

Kendati telah melakukan tur AS dan berhasil menggamit penggemar-penggemar baru di luar skena Indonesia, namun Garna punya alasan tersendiri untuk tidak menggunakan Bahasa Inggris di penuturan lirik-lirik lagu AK//47.

“Awal mulanya sederhana. Kita sudah sering mendengar lirik bahasa Inggris. Album ini memang ditujukan kepada penghuni bangsa ini, ada sesuatu yang ingin kami sampaikan. Lalu, saya juga bayangkan apabila grindcore dalam bahasa Indonesia, akan memberi nuansa tersendiri bagi orang asing. Sensasinya sama seperti misalnya mendengarkan band dari Jepang atau Swedia dengan bahasa Ibunya. Bagi pendengar yang memang benar-benar ingin tahu lebih dalam, ia akan mencari terjemahannya di mana pun berada. Untuk itu, dalam waktu dekat ini, kami akan mempublikasikan lirik dalam bahasa Inggris di media sosial. Sehingga selain lirik agar mudah dipahami oleh pendengar di Indonesia, album ini diharapkan bisa diuji atau merangsang diskusi-diskusi kecil agar mempertajam akal sehat,” papar Garna lebih jauh.

Sebelum merilis “Loncati Pagar Berduri”, AK//47 yang terbentuk pada 1999 silam sudah meluncurkan album “Barricades Close The Street But Open The Way” (2006 – Reservoir Records), “Verba Volant, Scripta Manent, Vitus, Resting Hell” (2016 – Disaster Records) serta beberapa EP, album split dan kompilasi.

Saat berada di Oakland, muncul ide untuk menggerakkan AK//47 di negara Paman Sam tersebut. Pada September 2017, Garna pun melanjutkan pengibaran nama AK//47 dengan bantuan bassis Damian Talmadge (Violent Opposition, eks Lack Of Interest) dan dramer Mark Miller (eks Anisoptera) sebagai personel tambahan. Formasi tambahan ini sengaja dilakukan agar pelaksanaan tur di AS tidak terhalang urusan imigrasi dan tiket penerbangan, sekaligus sebagai langkah strategi agar AK//47 tetap bisa produktif di dua negara. Dengan demikian, bisa dibilang AK//47 memiliki chapter di AS yang disebut-sebut sebagai band grindcore Indonesia yang melangsungkan tur terpanjang di AS. 

Dengan segala upaya, AK//47 berhasil mewujudkannya turnya yang pertama, berlangsung pada 20 April hingga 1 Juni 2018, menyambangi 23 kota di negara bagian California, Washington, Oregon, Utah, Idaho dan Montana. Lalu pada tur kedua, mereka memanaskan negara bagian Oregon, Idaho, Utah, Colorado, Kansas, Missiouri, Maryland, New York, Pennsylvania, Michigan, Wisconsin, Minnesota, North Dakota, Montana, Washington hingga California. Di tur tersebut, AK//47 berbagi panggung dengan unit grind/powerviolence, Violent Opposition (Oakland). Sementara di tur sebelumnya, mereka didampingi grup grindcore legendaris Antigama (Polandia), Rottenness (Meksiko) serta beberapa pertunjukan dengan Cognizant (Dallas, Texas).

Saat ini, AK//47 sedang mengerjakan video dokumenter dari perjalanan tur 45 pertunjukan pada 41 kota di AS tersebut, yang perilisannya pada tahun depan bakal menjadi momentum selebrasi 20 tahun perjalanan karir AK//47. (mdy/MK01)

Foto oleh: Rifqi Fadhlurrahman

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *