MEMOAR Memulai Kisah Trilogi

Lagi, sebuah unit musik keras lahir dari belantara independen Jakarta, bernama Memoar, dengan konsep yang sangat berkarakter dan unik. Paling tidak, itu yang terasakan di single debutnya, “Open Cage” yang sudah dirilis via berbagai kanal digital. 

Nunasa musikal a la HIM, band rock asal Finlandia, sangat menyengat tercium dari “Open Cage”. Karena pihak band beralasan, memang karakteristik vokalisnya, Hillel, sangat pas di range vokal seperti itu. “Cocok untuk karakter-karakter yang dark,” cetus gitaris Angga kepada MUSIKERAS.

Tapi, pengaruh serta inspirasi musikal Memoar secara keseluruhan tidak hanya dari satu band itu. Musik yang terdengar merupakan hasil kolektif dari perbedaan para personel Memoar mengintepretasikan sebuah tembang dari satu ide yang mentah dan meramu bersama menjadi musik yang bersifat rock. Formula itulah – walau tak bisa dibilang khusus – yang melahirkan keunikan dalam olahan musiknya.

“Apa yang kami lagi rasakan di saat pembuatan materi ya ngalir gitu aja. Tiap personel punya influence yang berbeda-beda, ada yang suka grunge, rock, funk, yang kami campur jadi satu. Tapi sejak awal Memoar terbentuk, kami sepakat untuk membuat musik era-era ‘90an dimana kami besar di era tersebut. Deftones, Faith No More, Red Hot Chili Peppers, Nirvana, Foo Fighters adalah alunan yang biasa menyalak di earphone kami.”

Proses kreatif penggarapan “Open Cage” diawali dari ide kord-kord ritem dari Angga yang lantas dibawa ke studio. Bersama personel lainnya, yakni Hillel, Ibenk (dram) dan Achmad (bass), ide Angga lantas dikembangkan melalui proses jamming. Dalam prosesnya, tiap personel dibebaskan untuk berkreasi. Tiap lagu diaransemen bersama dan membiarkan ‘rasa’ masing-masing personel membaur. “Prosesnya kurang lebih sebulan untuk dapetin aransemen seperti sekarang ini. Direkam di Imix Studio, Condet. Proses rekaman satu shift,” ungkap Angga lagi.

Lagu “Open Cage” sendiri merupakan babak pertama dari sebuah trilogi yang bernama “An Epitome of Chemistry”, yang berkisah tentang seorang gadis yang sedang bergumul dengan kecanduannya pada narkoba. Kenapa trilogi? Karena menurut Angga, sejak awal terbentuk pada November 2017 lalu, Memoar memang telah berencana membuat tiga lagu yang liriknya saling menyambung (trilogi).

“Karena tiap lagu tersebut adalah kisah dari perjalanan hidup sahabat kami, yang biasa kami panggil JL. Seorang wanita yang mempunyai kisah perjalanan hidup ,kelam, senang, tersangkut dengan narkoba, berusaha melepaskan diri dari dunia narkoba, dunia yang kelam, berusaha untuk bangkit. Setiap chapter cerita tersebut kami bagi tiga: ‘Open Cage’, ‘Deep Breath’ dan ‘Nothing’. Itu semua kisah perjalanan hidup JL. Yang saat ini sudah rilis adalah ‘Open Cage’, lainnya segera menyusul.”

Setelah perilisan single “Open Cage” – sambil menjalani kegiatan manggung – Memoar telah mencanangkan rencana untuk kembali masuk studio untuk merekam lagu “Deep Breath”. Lagu ini lebih keras dan ada nuansa (band) Funeral For A Friend, Deftones dan Faith No More. Mereka juga akan langsung membuatkan video klipn dengan bantuan Eunoia Pictures.

“Untuk lagu kedua ini, prosesnya sudah hampir 80% dan kami juga sedang workshop materi ketiga, ‘Nothing’ yang memang agak berbeda dari materi sebelumnya. ‘Nothing’ lebih ke arah sorrow. Dan di luar trilogi, Kami sudah ada beberapa materi yang rencananya dibuatkan album mini (EP) yang akan rilis setelah keseluruhan trilogi kelar.” (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.