Blackswan melanjutkan dakwahnya. Masih dengan konsep distorsi dari alam metalcore, pasukan cadas asal Malang, Jawa Timur ini melepas “Trump”, sebuah single terbaru, atau yang ketiga sebagai pembuka jalan menuju perilisan album “Periode Akhir”.
Ya, seperti judulnya, Blackswan memang sedang menyoroti sosok Presiden negara adidaya Amerika Serikat, Donald Trump. Di mata para personelnya – Kevin (vokal), Deryl (gitar/vokal), Ninis (gitar), Wisnu (bass) dan Kholil (dram) – rezim kepemimpinan Trump menebar ketidakadilan dan sangat rasialis. Padahal Amerika Serikat sendiri dikenal berpedoman pada ide-ide liberalisme.
“Kami sama sekali tidak mendukung pemikiran liberal mereka, tapi yang kami suarakan adalah rasa persaudaraan antar Muslim di seluruh belahan dunia mana pun. Disamping itu, ‘Trump’ hanyalah representasi dari para penguasa, elit-elit, politisi, cendekiawan, hingga tingkat pemikir awam yang berusaha meredupkan cahaya Islam sebagaimana rezim Fir’aun terhadap Musa ‘Alaihi salam. Yang kami serukan adalah, kita selaku negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harusnya menjadi perisai-perisai bagi mereka yang dipasung. Bukan hanya bisa iba dari kursi-kursi kekuasaan atau menjadi penonton yang duduk manis di hadapan smartphone,” papar pihak band, seperti yang dikutip dari siaran pers resmi mereka.
“Lirik merupakan aspek yang selalu kami soroti. Dalam pembuatan lagu-lagu Blackswan kami selalu benar-benar menganalisis fenomena yang ada,” imbuh Blackswan kepada MUSIKERAS, menambahkan.
Beralih ke musik. Dalam penggarapan “Trump” ini, Blackswan terlebih dahulu berusaha menemukan garis besar instrumental. Setelah itu baru fokus pada porsi instrumentasi masing masing personel.
“Cukup lama dalam penggarapannya. Kami selalu komunikasi intens, sharing, rombak instrumental, dan lain-lain. Agar part part instrumental ini tidak berubah-ubah, kami selalu mengakalinya menggunakan software digital yang dapat merekam dan membuat pattern-pattern lagu kami guna meminimasilir amnesia tone.”
Khusus untuk formula lagu “Trump”, para personel Blackswan mengakui masih menggunakan metalcore sebagai kiblat. Masih memakai beat-beat metalcore dan juga ciri khas vokal clean dengan olahan mixing yang lebih modern. Antara lain dengan adanya penambahan efek-efek sound.
Single “Trump” telah dirilis sejak Januari 2019 lalu melalui format video footage, yang pembuatannya bekerjasama dengan tim Empty Room Project. Sebelumnya, Blackswan juga telah merilis dua single pendahuluan, yakni “Masif Infotainment” dan “Malhamah Kubra”. Sementara itu, pengerjaan album “Periode Akhir” kini juga terus dilakukan. Bahkan sudah ada beberapa lagu baru seperti “Anti Sekuler”, “Ghazwul Fikr” dan “Garis Batas Palestina” yang sudah dirampungkan hingga tahap mixing dan mastering. Dan jika sesuai rencana, mulai Maret mendatang mereka akan kembali masuk ke dapur rekaman untuk pengerjaan dua lagu terakhir.
Blackswan sendiri terbentuk pada September 2014 dibawah naungan salah satu UKM Ikabama di Universitas Muhammadiyah, Malang. Dari segi konsep musik, Blackswan banyak terinspirasi band-band metalcore asal Amerika Serikat seperti As I Lay Dying dan Miss May I. (mdy/MK01)
.