WOLF INSIDE ME Siap Bentangkan Sayap ke Malaysia

Dari kota kecil bernama Kendari, di wilayah Sulawesi Tenggara, sebuah unit Post-Hardcore/Metalcore bernama Wolf Inside Me mencoba melebarkan sayap petualangan musikalnya. Tidak hanya bentangan daratan Nusantara yang dituju, namun mereka juga memberanikan diri mengadu peruntungan di negeri seberang. Tepatnya Malaysia.

Rencananya, pada 16 November 2019 mendatang, band yang kini dihuni formasi Wija (vokal), Epul (bass), Emal (gitar) dan Ucil (dram) ini telah dijadwalkan untuk tampil di acara “Memorial show Mitch Lucker” di Malaysia. Nah, momen itulah yang bakal dimanfaatkan Wolf Inside Me untuk sekalian mempromosikan “Revival Depression”, album mini (EP) terbaru mereka di sana.

“Karena niat dan persahabatan sesama musisi, awalnya hanya bertukar link musik, hingga (berinteraksi) di media sosial, dan bertukar cerita seputar musik di kota masing-masing. Oleh karena saling sharing, ada satu gig, yakni ‘Memorial show Mitch Lucker’ yang membuat kami terpikir sekalian (menggelar) tur mini (promo) EP,” ungkap pihak band kepada MUSIKERAS, mengenai latar belakang motivasi mereka untuk bertandang ke Malaysia.

Di luar itu, ada misi lain yang juga tak kalah penting. Wolf Inside Me ingin sekali menunjukkan kepada – khususnya musisi yang berada di Kendari – agar ke depannya bisa lebih berani, keluar dan mengenalkan musik yang berasal dari Kendari.

“Harapan kami melakukan tur mini ini, cuma ingin diketahui, bahwa Kendari juga punya musisi-musisi yang bagus. Maka dari itu, kami mohon dukungan dari teman-teman musisi, di mana pun kalian, kami mohon dukungannya, agar tur mini ini berjalan dengan lancar. Dan juga, ini bukan yang pertama dan terakhir, kami juga suda mengatur rencana setelah tur Malaysia, kami juga ingin ke Tanah Jawa….”

EP terbaru Wolf Inside Me sendiri bakal dirilis awal November 2019 dalam format fisik, dan memuat lima komposisi cadas, yang secara keseluruhan banyak terpengaruh elemen musikal dari band-band panutan mereka seperti Oceans Ate Alaska, If I Were You, Being as an Ocean, Bury Tomorrow dan Veil Of Maya.

“Bisa dibilang butuh waktu yang lama bagi kami, yaitu selama sembilan bulanan, disebabkan ada masalah peribadi yang tidak bisa dielakkan. Kami merekam EP kami di salah satu studio rumahan yang ada di Kendari.”

Berawal dari sebuah pesan yang dikirim oleh Epul via Facebook kepada Iwan Liergo di pertengahan 2016, menjadi cikal bakal lahirnya Wolf Inside Me. Epul mengajak Iwan untuk membentuk band beraliran Post-hardcore. Namun awalnya, sempat terjadi kebingungan bagaimana mengawalinya, mengingat keduanya saat itu masing-masing masih tergabung di band lain. Ditambah lagi, Epul masih berdomisili di Sabah, Malaysia, sementara Iwan di Kendari, Indonesia. Niat keduanya akhirnya terwujud pada pertengahan 2017, saat Epul dan keluarganya memutuskan pindah dan berdomisili tetap di Kendari. Epul dan Iwan pun bertemu, dan lantas merekrut Emal, Ucil dan Jody untuk bergabung. Setelah beberapa kali melakukan jamming dan  mendapatkan feel yang lumayan asik, mereka pun langsung menggodok rekaman single “Retaliation”, yang lantas dirilis pada Januari 2018 lalu. (Aug/MK02)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
darksovls
Read More

DARKSOVLS: Energi Baru Usai Coki Hengkang

Sebagai lanjutan dari rilisan “Frustrasi Kolosal”, Darksovls kini melontarkan “Spektrum Kedap Cahaya”, menandai era baru yang lebih depresif.
dottland
Read More

DOTTLAND: Bukan D-Beat / Crust Punk yang Pakem

Unit d-beat crust punk Dottland (atau ditulis Döttland) akhirnya merilis album debutnya, “Negara Mati” sebagai ungkapan jujur dalam melihat realita saat ini.