ETERNAL DESOLATOR Visualkan Pengadilan Sihir

Unit deathcore asal Purwokerto ini kembali melanjutkan rangkaian promosi “Omnipotence Paradox”, album penuh mereka yang telah dirilis dalam format fisik dan digital sejak Juni 2019 lalu via label Medusa Records dan Heartcorner Records. Kali ini, band bentukan Mei 2015 tersebut meluncurkan video musik terbaru, untuk lagu yang bertajuk “Burning Of Salem”.

Seperti metode video musik sebelumnya, “Homicidal Epilogue” yang ditayangkan pada Februari 2019 lalu, Eternal Desolator juga mengeksekusinya secara independen, memaksimalkan ide dalam kondisi finansial yang minim. Pada video kali ini, alur cerita berorientasi pada Faisal Nur Muhammad Basef, vokalis Eternal Desolator sebagai pemeran utama, sekaligus penentu alur cerita. Sementara secara teknis, pengerjaan video ini dibantu oleh salah satu budayawan atau pegiat seni asal Purwokerto yang namanya sudah tidak asing lagi, yaitu Pak Mamock Cekakak yang turut ambil bagian beberapa adegan.

Selain itu, dalam proses kreatif, Eternal Desolator juga dibantu oleh beberapa orang kreatif yang tergabung dalam sebuah kolektif bidang perfilman dan sinematografi bernama Ngalembana Art yang digawangi oleh Embi Novenda dan Infentigo Nalika.

Dibanding video sebelumnya, kesulitan kendala yang ditemui dalam produksi lebih kompleks, karena terdapat adegan dimana band beraksi di dalam kolam dengan kondisi air setengah badan dan semua alat beserta gear harus rela basah kuyup. Proses syuting adegan tersebut dilakukan di sebuah kolam renang desa Kemutug pada malam hari yang notabene merupakan daerah dataran tinggi dengan suhu yang rendah.

Alasan memilih lagu “Burning of Salem” untuk dibuatkan video musik sendiri didasari sesuatu yang menarik dari segi lirikal dan musikalnya. Menurut pihak band yang dituturkan kepada MUSIKERAS, dari segi lirikal, “Burning of Salem” mengandung topik okultisme dengan referensi cerita dan kejadian historikal Salem witch trials, di Massachusetts yang menjadi sejarah kelam dalam kajian spiritualitas dan okultisme.

Sekadar tambahan informasi, okultisme sendiri merupakan istilah yang merujuk pada kepercayaan terhadap hal-hal supranatural seperti ilmu sihir. Dan salah satu peristiwa mengerikan dalam sejarah Amerika Serikat, yakni Salem witch trials, atau serangkaian sidang atau penuntutan untuk ‘kaum penyihir’ di Salem (sekarang Danvers), Massachusetts yang terjadi pada periode antara Februari 1692 dan Mei 1693. Lebih dari 200 orang dituduh, 30 di antaranya dinyatakan bersalah, 19 di antaranya dieksekusi dengan digantung. Peristiwa itu adalah perburuan penyihir paling mematikan dalam sejarah kolonial Amerika Utara.

“Lalu dengan proses diskusi yang cukup intensif kami membuat konsep video musik ini. Lalu dengan membangun storyline dengan dominasi hal-hal spiritual dan okultisme yang cukup eksplisit ini kami mencoba membuat sebuah jalan ceria yang paradoks dengan ruang kosong multitafsir yang bisa diintepretasikan dari beragam sisi.”

Dari segi musikal, lanjut pihak Eternal Desolator lagi, mereka merasa di antara beberapa lagu dalam album “Omnipotence Paradox”, lagu “Burning of Salem” memiliki energi yang cukup membawa emosi. “Terutama pada riffing di bagian reff yang menyisipkan komponen orkestrasi seperti string dan violin, lalu karakter vokal yelling yang semakin menambah kesan penyiksaan.”

“Omnipotence Paradox” sendiri merupakan album yang digeber dengan dominasi pola deathcore yang kental. Walau sebenarnya, beberapa personelnya seperti Farobi “Robi” Fatkhurridho (dram) dan Satria “Bangkit” Prasetyo (bass) belum lama terjun dalam praktek deathcore. Sebelumnya, keduanya hanya berkutat di seputaran genre deathmetal. Sedangkan personel lainnya, yakni Ananta Ajie (gitar), Kornelius “Acong” Steven Sugiarto (gitar) dan Faisal sudah terbiasa mengeksplorasi deathcore serta Djent.

“Namun dengan perpaduan masing-masing literasi yang dimiliki cukup memberi angin segar dalam penggarapan materi. Karena album ini juga merupakan album pertama yang diproduksi oleh setiap member, membuat nuansa excited-nya semakin kental, sehingga semangat dan eksplorasi materi terasa sangat menyenangkan dalam proses workshop.”

Proses kreatif pembuatan album “Omnipotence Paradox” yang meneriakkan tema seputar pembunuhan, pembantaian dan genosida itu sendiri berlangsung cukup singkat. Setelah berhasil membentuk formasi terbarunya, Eternal Desolator menaikkan intensitas pertemuannya dan melakukan workshop yang cukup repetitif di studio. Berlangsung selama kurang lebih tujuh hingga ke tahap siap kemas. Dimulai pada awal September 2018 sampai Maret 2019. Komposisi materi lagu-lagunya merupakan paduan karya baru dengan tambahan tiga lagu lama yang didaur ulang, yaitu lagu “Bermuda”, “Homicidal Epilogue” dan “Lost/Found”. (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
infusion
Read More

INFUSION: Lebih Brutal di “Carmine”

Melanjutkan perjalanannya di pentas musik ekstrem, kali ini Infusion hadirkan kobaran musik yang lebih agresif, gelap dan mengancam di lagu terbarunya.
gabrielle
Read More

GABRIELLE: “Metal Menarik dan Seru!”

Usai terapkan elemen alternative/gothic rock di lagu debutnya, kini Gabrielle ‘pindah alam’ ke ranah metal ekstrem lewat album mini (EP) “Animals”.
lurruh
Read More

LURRUH: Wajah Lama, Kebrutalan Baru

Manifestasi kegagalan manusia dimuntahkan Lurruh di karya debutnya, “Heresi” yang mengeksplorasi formula metalik hardcore yang modern dan brutal.
repton
Read More

REPTON: Ingatkan Tragedi Kelam Mei ’98

Menyambut perilisan sebuah album split, Repton menyuarakan trauma kolektif dari Tragedi Mei 1998 silam dalam kobaran slam metal berbalut rap/DJ.