SIKSAKUBUR: Menyiksa Lagi, Rilis “Dari Langit”

Agresivitas Siksakubur kembali menyala. Tanpa kawalan gitaris Andre Tiranda, namun unit death metal ini berhasil rampungkan karya album mini (EP) terbarunya.
siksakubur
SIKSAKUBUR

Siksakubur belum usai. Sejak dicetuskan kelahirannya pada 1996 silam, unit death metal asal Jakarta ini telah menapaki berbagai fase perjalanan yang panjang.

Selama hampir tiga dekade, terus menjadi salah satu band paling berpengaruh dalam perjalanan musik ekstrem Indonesia. Menjelajah berbagai panggung, mulai dari skala komunitas, pertunjukan di berbagai kota di Indonesia, hingga festival berskala Internasional.

Konsistensi mereka juga dibuktikan melalui rangkaian tur nasional maupun Asia yang semakin mempertegas eksistensinya di skena musik ekstrem.

Namun sejak melepas album studio penuh bertajuk “Mazmur:187” pada 2016 silam, agresivitas Siksakubur perlahan meredup. Salah satu penyebabnya, adalah absennya sang motor penggerak utamanya, gitaris Andre Tiranda.

Namun untungnya, di tengah kestagnanan tersebut, Andre sempat meninggalkan beberapa gagasan musik untuk kebutuhan Siksakubur, sebelum pamit untuk menjalani masa-masa ‘berkontemplasi’.

Sebagian gagasan itulah yang dicurahkan dalam kemasan EP terbaru bertajuk “Dari Langit” yang telah dirilis sejak 2 Juli 2026 lalu.

Sebuah rilisan yang menawarkan pendekatan konseptual dengan mengangkat kisah fiksi mengenai kehidupan ekstraterestrial dan asal mula peradaban manusia.

Sebuah EP yang sekaligus mengajak pendengar merenungkan konsekuensi dari setiap pilihan yang akan menentukan masa depan peradaban. “‘Dari Langit’ berbicara tentang kehidupan ekstraterestrial,” tutur sang vokalis, Septian Maulana tentang tema liriknya.

“Kisah ini dibangun secara fiksi, menceritakan tentang awal penciptaan umat manusia dan turunnya sebuah keilmuan yang datang dari entitas langit. EP ini membawa pesan tentang konsekuensi pilihan yang akan manusia terima kelak.”

Secara musikal, “Dari Langit” tetap berakar kuat pada keganasan death metal klasik yang menjadi identitas Siksakubur. Pengaruhnya tetap datang dari nama-nama besar dunia seperti Cannibal Corpse, Malevolent Creation, Deicide, Morbid Angel hingga Suffocation.

Di sisi lain, EP ini juga memperluas eksplorasi musikal melalui sentuhan black metal ala Emperor, Immortal dan Satyricon, yang lantas diimbuhi pula dengan nuansa thrash dan heavy metal.

Selain itu ada pula suntikan elemen progressive rock serta progressive death metal yang kali ini terinspirasi dari band-band macam Rush, Opeth hingga Death, yang akhirnya memperkaya dinamika komposisi lagu-lagunya.

Benang Merah

Penggarapan EP “Dari Langit” diakui para personel Siksakubur yang terlibat dalam proses produksinya, yakni Septian Maulana, dramer Adhytia Perkasa, gitaris Ricky Rangga serta Krisnanda Yusuf (additional) terbilang lumayan rumit.

Alasan terbesarnya adalah sulitnya menemukan waktu khusus dari tiap personel untuk fokus dalam penulisan dan rekaman. Terkendala kesibukan kegiatan masing-masing serta jarak yang berjauhan.

Septian dan Adhytia Perkasa berdomisili di Jakarta, Ricky Rangga di Bali dan Krisnanda Yusuf di Tangerang. Ditambah lagi, gitaris Andre Tiranda untuk sementara ini tidak dapat ikut serta dalam produksi rekaman.

 “Namun ide ‘Dari Langit‘ muncul dari dia (Andre) kala itu,” ucap pihak band kepada MUSIKERAS, menegaskan.

“Dua lagu di EP ini ditulis oleh Andre Tiranda dan Adhytia Perkasa. Ya, EP ini sudah kami siapkan dalam kurun waktu yang lama. Setiap alur cerita dan aransemen di empat track mempunyai benang merah yang sama.”

Kedua lagu yang dimaksud adalah “Demolisi” dan “Niskala Mata”, dimana strukturnya digarap Andre dan Adhytia dalam format sketsa musik yang masih mentah. Hanya bermodalkan perangkat drum electric serta amplifier gitar kecil.

Namun seiring berjalannya waktu dalam penggarapan demo, muncul kendala dimana Andre Tiranda tidak bisa terlibat dalam produksi rekaman EP tersebut.

Untungnya, kekosongan itu dilengkapi oleh gitaris Krisnanda Yusuf yang bersedia merekam ulang materi bersama Ricky Rangga dan menyelesaikan permasalahan teknis rekaman jarak jauh. Sebuah usaha kolektif yang sangat powerful.

Satu hal unik yang disuguhkan di “Dari Langit” diterapkan di trek empat, “Epilogos”. Adhytia Perkasa memasukkan elemen yang terbilang baru bagi Siksakubur.

Sebuah lagu instrumental akustik dengan beberapa sentuhan suara unik lainnya. Terdengar mengarah ke psychedelic.

“Tantangan masing-masing setiap instrumen berbeda. Benang merah lagu semua menjadi satu. Lagu kedua dan ketiga betul-betul menghantam stamina,” seru Adhytia meyakinkan.

Khusus di komposisi intro (“Prologos”) dan outro (“Epilogos”), disebut Adhytia paling menantang bagi mereka, dalam hal mendalami karakter. Bagaimana membuat instrumentasi tersendiri untuk mencari aura dan spirit dari rangkuman lagu-lagu dan warna EP ini.

“Dalam sisi penulisan lirik dan membangun cerita fiksi ini juga teramat sulit. Mulai dari membuat karakter, alur cerita hingga mencari setiap korelasi kejadian dan narasi yang tepat,” ujar Septian menambahkan.

“Album mini ini membawa tantangan tersendiri, namun kami bersyukur akhirnya kami berhasil merampungkannya.”

siksakubur

Titik Awal

Di luar urusan rekaman, produksi “Dari Langit” juga melibatkan kontribusi pihak luar yang berperan mengasah daya ledak EP ini. Mulai dari perancangan visual sampul yang dipercayakan kepada Andik Godfinger.

Lalu ada pula sentuhan Adria Sevrianto dan Hamzah untuk mixing dan mastering, menghasilkan sajian audio yang mampu merepresentasikan atmosfer gelap sekaligus megah, yang menjadi benang merah dari keseluruhan konsep EP ini.

Sementara untuk video sendiri dikerjakan oleh BSA Graphics dan Pradana Graphics untuk urusan tata letaknya.

Sebagai tindak lanjut perilisan “Dari Langit”, sejauh ini Siksakubur telah menyiapkan sejumlah agenda. Termasuk menjalani showcase di Jakarta dan Bali yang bakal menjadi titik awal untuk memperkenalkan materi terbaru mereka secara langsung kepada publik.

Selain itu, band ini juga tengah mempersiapkan rangkaian penampilan di berbagai kota serta tur lanjutan sebagai bagian dari promosi EP tersebut.

Melalui “Dari Langit”, Siksakubur kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu pelopor death metal Indonesia yang terus berevolusi tanpa harus kehilangan akar musikalnya.

Sejak terbentuk, sejauh ini Siksakubur telah merilis tujuh album, yaitu “Back to Vengeance” (2002), “Eye Cry” (2003), “Podium” (Agustus 2007), “Tentara Merah Darah” (22 Februari 2010), “St. Kristo” (18 Mei 2012), “Siksakubur” (27 April 2014) dan “Mazmur: 187” (3 November 2016).

Dengarkan keseluruhan materi lagu di EP “Dari Langit” di tautan kanal YouTube BrutalMind Records ini. (@mudya_mustamin/MK01)

Susunan lagu:

  1. Scene I – Prologos
  2. Scene II – Demolisi (Holoskaustos)
  3. Scene III – Niskala Mata
  4. Scene IV – Epilogos (Tou Khaos)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
getah
Read More

GETAH: Bakal Merilis Piringan Hitam

Setelah puluhan tahun, Getah tetap menjadi kekuatan yang terus berkobar. Bahkan, unit cadas veteran asal Jakarta ini sudah mengantongi sejumlah rencana ambisus.