Finalmorph memilih mencoba bereksperimen di karya rilisan tunggal terbarunya, yang bertajuk “Unholy”. Kali ini bukan sekadar suguhan distorsi keras, namun dikolaborasikan dengan sentuhan etnik.
Tepatnya, unit keras asal kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan ini menambahkan unsur petikan Panting, alat musik traditional khas Kalimantan Selatan ke dalam komposisi aransemennya.
Menurut vokalis Fernando Sastra Cendana (Vero), gitaris Ahmad Hidayat (Jims), bassis Calvyn Yoseph Mawaikere (Calvyn) dan dramer Angelo Banoe Wibowo (Ello), formula itu menambah nuansa baru dalam musikalitas Finalmorph.
“Berawal dari pendapat beberapa teman metalhead ketika kami tur kemaren,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS.
Tur yang dimaksud adalah Mental Health Tour 2025 yang menyambangi beberapa titik di kawasan Kalimantan Selatan dan Jawa Barat.
“(Mereka) Menyarankan agar kami menambahkan unsur etnik dalam materi yang mengidentikkan Kalimantan Selatan atau kota Banjarmasin.”
Karena selama ini, lanjut mereka, menurut pandangan teman-teman di luar Kalimantan sendiri, ciri khas alat musik Kalimantan yang lebih dikenal luas adalah ‘Sape’.
“Dari situ kami berfikir bahwa di tempat asal kami di Banjarmasin, (alat musik) itu bukan Sape, melainkan Panting.”
Sape memang khas Kalimantan, tapi menurut para personel Finalmorph, instrumen tradisional itu lebih mewakili ciri khas Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.
Dari situlah, akhirnya gitaris Jims berinisiatif untuk menambahkan unsur etnik budaya lokal Kalimantan Selatan. Lagu “Unholy” menjadi percobaan pertama mereka dalam meracik kolaborasi metal dan etnik tersebut.
“Sound-nya sendiri memiliki keunikan dan kami coba gabungkan dengan musik ciri khas Finalmorph sehingga menghasilkan nuansa yang begitu khas, sangat ngeblend dan berkarakter kuat, menambah warna baru dalam musik kami.”
Petikan dawai Panting di antara gemuruh distorsi itu juga selaras dengan tema lagu “Unholy” sendiri yang sarat akan suara dari batin yang terdalam.

Simfoni Teknikal
Tema lirik “Unholy” sendiri menuturkan pergumulan batin, godaan besar dan keputusasaan yang apabila dituruti akan menghantarkan kepada kesesatan oleh si jahat.
Solusi untuk melepaskan pengaruh itu hanya dapat terwujud lewat penyerahan diri kepada sang Maha Kuasa dan keberanian untuk melawan hasrat jahat yang berusaha memanipulasi serta menyesatkan diri kita.
Pergulatan batin itu lantas diekspresikan Finalmorph lewat terjangan komposisi serta aransemen yang gelap, dengan riff gitar yang keras dan agresif, serta teriakan vokal yang keras, yang lantas dikombinasikan dengan petikan Panting yang menyihir.
Perpaduan yang membawa pendengar masuk ke dalam nuansa musikalitas yang kelam dan imersif.
“(Lagu ini) Sangat mempresentasikan teriakan batin yang terdalam akan keputusasaan, perlawanan sekaligus harapan untuk perubahan menuju pelepasan dari belenggu kegelapan.”
Hentakan keras yang dilampiaskan ke dalam aransemen “Unholy”, disebut para personel Finalmorph sedikit banyak terinspirasi band-band deathcore mancanegara yang mereka konsumsi.
Sebutlah di antaranya macam Chelsea Grin atau Suicide Silence. Pengaruh dari mereka lalu ditambahkan dengan sentuhan simfoni gelap ala band-band black metal, inspirasi riff gitar dari Spiritbox, serta nuansa teknikal yang magis ala Dream Theater.
“Finalmorph tidak terikat hanya dalam salah satu genre musik metal tertentu. Kebebasan dalam bereksperimen dan keberanian untuk mencoba berinovasi menjadikan kami unik dibandingkan band-band lainnya,” cetus band ini menegaskan.
Eksperimentasi di musik Finalmorph tidak berhenti di “Unholy” (tonton video musiknya di tautan kanal YouTube ini). Band bentukan 2023 lalu ini bertekad terus menerapkan penggarapan lagu yang menghindari kemonotonan.
“Kami berencana akan terus berkarya. Mungkin beberapa bulan yang akan datang ini kami akan merilis beberapa single dulu dengan beberapa jenis eksperimen, namun tetap di ranah modern metal. Bisa jadi lagu yang kencang atau pun lagu yang slow, sebelum menuju target kami yaitu album perdana!”
Sejak memulai agresi kariernya di ranah metal modern Tanah Air, Finalmorph sudah berhasil melepas beberapa karya rilisan. Diawali “Civil War” sebagai karya tunggal pembuka, pada 10 Mei 2024.
Setelah itu, mereka berhasil melahirkan sebuah album mini (EP) debut bertajuk “Mental Health” pada 1 Juli 2025 lalu. (@mudya_mustamin/MK01)