GETAH: Bakal Merilis Piringan Hitam

Setelah puluhan tahun, Getah tetap menjadi kekuatan yang terus berkobar. Bahkan, unit cadas veteran asal Jakarta ini sudah mengantongi sejumlah rencana ambisus.
getah
GETAH Formasi Terkini (Peter, Marcel, Phil dan Jacob)

Getah yang mulai menggeliat di skena musik keras sejak 1995 silam, sampai saat ini berhasil menjaga eksistensi. Unit rock asal Jakarta ini bahkan terus menggulirkan karya rekaman, di antara desingan distorsi dari band-band generasi baru.

Bersama formasi terkininya, vokalis Philippe Marc Vezard (Phil), gitaris Peter ‘Mekel’ St. John, bassis Marcel Wetik dan dramer Jacob Sianipar, Getah telah menyiapkan sejumlah rencana ambisius.

Di antaranya, peluncuran rilisan-rilisan yang diharapkan menjadi pemicu gairah baru, yang bakal mempertajam kembali sepak terjang mereka di industri musik keras.

“Kami ingin merilis lagu dalam format vinyl (piringan hitam),” seru pihak band, yang diwakili Marcel kepada MUSIKERAS, memberi bocoran.

Memang belum ada jadwal pasti untuk perilisannya, tapi rencana ini adalah prioritas ke depan bagi Getah tahun ini.

“Kayaknya kalo bikin vinyl tuh paling valid, daripada cuma kaset atau CD. Semacam validasi buat kami sebagai band,” cetusnya lagi.

Selain itu, sambil menjalani beberapa jadwal manggung, mereka juga tengah menyiapkan sebuah rilisan boxset plus album penuh yang bakal diwujudkan tahun depan.

“Boxset ini merupakan komitmen kami ke audiens, (bahwa) ini loh kami sudah sampai di tahapan ini.”

Sementara untuk rilisan album dicanangkan terwujud tahun depan. Namun Marcel menegaskan, seperti biasa pastinya bakal dimulai dengan peluncuran lagu-lagu rilisan tunggal terlebih dahulu sebelum akhirnya dikemas ke dalam sebuah album.

Dan satu lagi yang menarik, mereka juga memberi bocoran bakal menggarap dua lagu daur ulang karya dua band rock legendaris Tanah Air.

Lagu itu adalah “Baby Rock” milik SAS yang termuat di album “Volume 1” (1975) serta “Penari Jalang”, karya Duo Kribo dari album “Volume 2” (1978).

Gerbang 13

Bagi generasi sekarang, mungkin tidak banyak yang mengenal Getah. Tapi perlu diketahui, band ini merupakan salah satu pelaku penting dan penggerak musik ‘bawah tanah’ era awal ’90-an.

Terbentuk dari pecahan dua band keras ternama era itu, yakni Bottom Up dan Rotor. Ya, Rotor adalah band metal ekstrem yang fenomenal di era itu, terpilih menjadi band pembuka konser band metal legendaris Metallica di Stadion Lebak Bulus, Jakarta pada 1993.

Sejak terbentuk, Getah tanpa henti mengukir jejak mereka dalam lanskap underground rock dan metal Indonesia. Mereka menolak untuk terikat pada batasan genre.

Geberan musik mereka merupakan perpaduan yang terus berkembang antara alternative, progressive, goth, industrial hingga metal. Menggabungkan atmosfer yang luas dengan intensitas yang kuat dan dalam.

Selama bertahun-tahun, Getah membangun reputasi bukan hanya melalui kebisingan semata, tetapi melalui pendekatan yang penuh perhitungan: komposisi yang matang, lapisan tekstur suara yang kompleks serta penampilan panggung yang sarat energi dan menghantam.

Di luar panggung, karya band yang juga sempat dihuni mendiang vokalis Jodie Gondokusumo (Rotor) dan Oddie Octaviadi (Sic Mynded) serta dramer Tyo Nugros (eks Dewa 19) juga merambah dunia film.

Berkontribusi pada dua proyek jalur suara (soundtrack) film; yakni menyumbangkan lagu “Closing Chapter” di album “OST Gerbang 13” (Mei 2005) serta lagu “Segitiga Bermimpi” di “OST In The Name of Love” (April 2008) yang mencerminkan insting mereka dalam membangun narasi melalui musik.

Album debut self-titled mereka yang dirilis via Warner Music Indonesia pada 1996, dengan cepat menjadi rilisan yang banyak dicari di kalangan penikmat musik underground.

Diproduksi di Triple M Studios, Jakarta untuk rekamannya, dan pemolesan pelarasan suara (mastering) oleh Dave Wellhousen Studio, San Francisco, AS. Album yang mengandalkan lagu “Api” tersebut bukan sekadar rilisan musik berat biasa—melainkan penanda hadirnya band dengan karakter yang berbeda.

Pendekatan Getah yang tanpa peduli dan tanpa basa-basi namun penuh pertimbangan, membantu mengukuhkan namanya sebagai band yang patut di perhitungkan.

Dimensi Berlapis

Album berikutnya, “Release Is Peace” (Juni 2008), memperluas eksplorasi musikal Getah. Sambil tetap mempertahankan akar metalnya, mereka mulai menjelajahi tekstur yang lebih luas dan berkolaborasi dengan berbagai musisi.

Termasuk berkolaborasi dengan mendiang gitaris Ricky Siahaan (Seringai), penyanyi Alexandra J. Wuisan (Cherry Bombshell/Gergasi Api/Sieve), solois jazz Syaharani serta gitaris Iwan Hasan (Discus).

Hasilnya adalah karya yang lebih berat, lebih matang, dan semakin kuat—menegaskan posisi mereka sebagai salah satu band serius di Indonesia.

Melalui komposisi-komposisi di album “From Within Thus Without” yang diluncurkan pada 25 November 2023, Getah melangkah lebih jauh, baik secara internal maupun eksplorasi musikal.

Album ini mendapat sambutan positif dan menunjukkan bahwa mereka terus berkembang tanpa kehilangan identitas. Grapan musiknya terus menghantarkan sesuatu yang baru, segar dan tidak terduga, namun matang dan memiliki ciri khas yang sangat kuat.

Di dalam inti Getah terdapat ikatan rasa (chemistry) yang gigih serta peleburan atmosfer yang terukur dan terkendali. Permainan gitar dari Peter Mekel yang menghadirkan dimensi berlapis yang bergerak di antara nuansa psikedelik dan kerasnya sound metal modern.

Lalu ada Marcel Wetik yang menancapkan fondasi kokoh dengan permainan bass yang solid dengan kekuatan dan kedalaman melodi.

Sementara Jacob Sianipar terus mengawal mesin ritmis dengan penuh presisi dan hantaman dram yang kuat bertenaga, serta Phil Vezard yang melantangkan suara vokal yang penuh kendali.

Mengalir antara nuansa menghantui dan kesan kuasa yang tegas. Bersama, mereka menciptakan suara yang padat, dinamis dan penuh karakter yang kuat.

Sebagai veteran di skena musik, Getah menjadi referensi bagi banyak band muda di Indonesia. Penampilan mereka telah menjangkau berbagai panggung.

Mulai dari skena lokal hingga klub internasional di San Francisco (AS) dan di panggung Everloud Fest di Tokyo, Jepang pada 24 September 2018. Di atas panggung, Getah tampil dengan kekuatan eksplosif—menghantarkan sikap dan energi yang berbeda dari yang lain.

Setelah puluhan tahun meraungkan distorsi, Getah tetap menjadi kekuatan yang tidak pernah memudar. Mereka terus melaju ke depan tanpa kompromi dan terus menggema meninggalkan jejak di dunia rock dan metal Tanah Air dan bahkan dunia.

Nantikan gebrakan mereka selanjutnya, dan tentunya rilisan-rilisan yang dipastikan tetap bertenaga. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts