Undimension akhirnya merampungkan perjalanan kreatif yang telah dipupuk sejak 12 Desember 2022 lalu lewat lagu rilisan tunggal pertamanya, “Antitesis”, serta lagu susulan “Dogma Karsa Petaka” pada 3 April 2026.
Kini, secara resmi unit technical death metal asal Jakarta ini merangkumnya bersama lima komposisi baru lainnya lewat “Imperium Manifestopia”, album pertama yang diedarkan via label In Blood Records.
Undimension yang kini dihuni barisan vokalis Rizky Al Anshary, gitaris Gambino Gosal dan Lukman Hakim, bassis Nanda Milhan serta dramer Ardian ini menyebut album tersebut sebagai manifestasi perjalanan musikal mereka.
Sekaligus, sebagai pernyataan artistik dengan tingkat ambisi tertinggi yang pernah mereka ciptakan sejak terbentuk pada pertengahan 2022 lalu.
“Imperium Manifestopia” menjadi sebuah karya konseptual yang menggabungkan agresivitas death metal modern dengan pendekatan sinematik, progresif dan teknikal.
Tidak hanya memusatkan kepada rangkaian irama. Perpaduan antara bait lirik yang destruktif dan konseptual lagu yang faktual turut membawa pendengar menuju gerbang dimensi naratif dengan atmosfer nuansa krisis kemanusiaan, manipulasi ideologi hingga pertarungan batin yang terjadi di era modern.
Lirik disusun agar mampu menerjemahkan gagasan filosofis yang menjadi fondasi album. Setiap lagu dikembangkan melalui proses kolaboratif yang menempatkan musik dan lirik sebagai dua elemen yang saling melengkapi.
Manusia Modern
Secara etimologis, judul ‘Imperium Manifestopia’ berasal dari dua istilah. Pertama, melambangkan sebuah kekuasaan, dominasi atau sistem yang memiliki pengaruh besar terhadap peradaban manusia (imperium).
Kedua, gabungan dari kata ‘manifestasi’ dan ‘distopia’ yang merepresentasikan sebuah konstruksi realitas ideal yang dipaksakan terealisasi melalui kehendak tertentu.
Atau secara keseluruhan, “Imperium Manifestopia” dapat dimaknai sebagai sebuah kekuasaan yang memanifestasikan distopia secara subjektif.
Gagasan masif yang tumbuh menjadi sebuah doktrin dan melucuti paradigma heterogenitas hingga melahirkan paradoks, kehancuran, dan hilangnya kebebasan berpikir.
Album ini mengangkat fenomena tentang bagaimana manusia modern membangun sistem, ideologi, dogma serta ambisi kolektif yang terjadi secara berkala dan menjadikannya sebagai jalan pembenaran menuju peradaban ideal.
Namun, di balik semuanya, sering kali tersimpan manipulasi, supremasi dan kepentingan yang pada akhirnya melahirkan konflik sosial, perpecahan hingga dehumanisasi.
Melalui “Imperium Manifestopia”, Undimension mencoba mempertanyakan; sejauh mana manusia mampu membedakan antara kemajuan yang sesungguhnya dan ilusi kesempurnaan yang sedang dibangun oleh kekuasaan?
Album ini tidak hanya menjadi sebuah kritik sosial, melainkan sebuah refleksi atas kecenderungan manusia untuk menyerahkan kebebasan berpikir demi mengikuti narasi yang dianggap benar secara kolektif.
Revisi Emosional
Kepada MUSIKERAS, Undimension mengungkap bahwa proses kreatif penggodokan “Imperium Manifestopia” sebenarnya dimulai jauh sebelum sesi rekaman berlangsung.
Mereka memulai penulisan materi sejak awal 2023, sesaat setelah merilis “Antitesis”. Pada fase tersebut, para personelnya tidak hanya berusaha menulis lagu-lagu yang lebih kompleks secara musikal.
“Tetapi (kami) juga membangun sebuah konsep yang utuh, sesuai keadaan dan situasi yang kami rasakan saat itu, dimana setiap komposisi memiliki keterkaitan dalam narasi besar mengenai kekuasaan, ilusi utopia, krisis spiritual hingga kehancuran peradaban.”
Setiap personel memiliki kontribusi dalam proses penulisan. Pola kocokan riff, struktur lagu serta eksplorasi harmoni berkembang melalui diskusi yang panjang.
“Kami juga beberapa kali merevisi aransemen untuk memastikan setiap bagian memiliki fungsi musikal maupun emosional. Bukan sekadar menunjukkan kompleksitas teknis, sehingga proses di dapur rekaman berjalan sedikit lama.”
Proses produksi album dilakukan secara bertahap bersama Cristian Wailan Mamuaya di Chriswama Creative Works, yang bertanggung jawab mengawal sebagai produser. Mencakup proses rekaman hingga pemolesan mixing dan mastering.
Undimension berusaha cukup detail dalam mengevaluasi setiap instrumen yang dimainkan.
Mulai dari karakter tone gitar, presisi permainan dram dan bass hingga penyampaian vokal agar mampu merepresentasikan atmosfer yang mereka inginkan.
Pendekatan produksi yang diterapkan berfokus pada keseimbangan antara agresivitas death metal modern dengan ruang sinematik yang luas.
Targetnya agar setiap lapisan instrumen dapat terdengar detail tanpa menghilangkan intensitas musik yang menjadi identitas utama Undimension.
“Secara keseluruhan, proses dari penulisan materi hingga album selesai memakan waktu kurang lebih tiga tahun. Durasi tersebut menjadi konsekuensi dari keinginan kami untuk menghasilkan karya yang benar-benar matang, baik dari sisi komposisi maupun kualitas produksi.”
Tentu saja, mewujudkan target tersebut tidak mudah. Saat mengeksekusi rekaman untuk lagu “Separatis Utopia Semesta” misalnya.
Secara teknis, lagu itu yang mereka sebut paling menantang, lantaran memiliki tingkat kompleksitas yang sangat tinggi. Komposisinya sarat perubahan tempo yang dinamis serta pergantian birama.
Juga dilapisi permainan harmoni gitar yang lumayan kompleks serta bentuk permainan dram dengan terapan teknik blast beat, tradisional blast dan sinkopasi yang harus tetap presisi dalam kecepatan tinggi.
“Tantangan terbesarnya bukan hanya memainkan bagian-bagian yang sulit secara individual, tetapi menjaga agar seluruh instrumen tetap terdengar menyatu dan memiliki dinamika yang hidup.”
“Kami ingin kompleksitas tersebut tetap memiliki arah dan terkonsep, bukan sekadar menjadi demonstrasi kemampuan teknis,” seru Undimension meyakinkan.

Dinamis Sinematik
Di sisi lain, “Separatis Utopia Semesta” juga sekaligus menjadi representasi paling utuh dari identitas Undimension saat ini. Lagu tersebut memadukan agresivitas technical death metal dengan nuansa progresif.
Juga ada sedikit sentuhan atmosfir black metal serta nuansa dramatis yang menjadi benang merah di sekujur album “Imperium Manifestopia”.
“Karena itulah proses penyelesaiannya membutuhkan perhatian dan revisi paling banyak dibandingkan lagu-lagu lainnya di album ini.”
O ya, secara musikal, pengerjaan “Imperium Manifestopia” banyak menyerap inspirasi serta pengaruh dari beberapa band berbahaya mancanegara.
Di antaranya macam Death, The Black Dahlia Murder, At The Gates, Necrophagist, Obscura, Beyond Creation, Gorod hingga geberan modern nan mencekam dari Lorna Shore.
Namun, Undimension tidak membatasi diri hanya pada akar death metal semata. Berbagai pendekatan harmoni modern, scoring cinematic, ambient texture serta permainan dinamika turut diintegrasikan untuk membangun pengalaman mendengar yang lebih luas.
Setiap komposisi dirancang persuasif layaknya sebuah babak dalam film, dimana musik tidak hanya berfungsi sebagai medium agresi, melainkan juga sebagai instrumen yang membangun emosi, ketegangan dan narasi.
Lirik tidak dihadirkan secara literal, melainkan menggunakan pendekatan metaforis dan simbolik untuk menggambarkan berbagai isu sosial, ideologis dan eksistensial.
Menghasilkan karya yang kompleks, dinamis sekaligus sinematik.
Pendengar akan dibawa melalui berbagai lapisan atmosfer: mulai dari kekacauan, kecemasan, kemarahan hingga momen reflektif yang menggambarkan konflik internal manusia modern.
Album “Imperium Manifestopia” telah tersedia di berbagai gerai layanan musik digital sejak 26 Juni 2026 lalu. Termasuk di laman Bandcamp dan kanal YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Paranada Enigma
- Dogma Karsa Petaka
- Antitesis (New Version)
- Samsara Tirani
- Eliminasi Kasta Terbawah
- Nadir Nihilis
- Separatis Utopia Semesta