BEAUTY KILL THE BEAST Bicara tentang Keagresifan “Maniac”

Bayangkan riff-riff antitesis ala Converge dan The Dillinger Escape Plan, kegelapan Nails dan Baptists yang dicampur dengan keagresifan Trap Them dan All Pigs Must Die, yang lantas direproduksi menjadi kesatuan. Hasilnya, kurang lebih seperti itulah yang kita dengar di “Maniac”, karya rekaman terbaru dari unit cadas asal Depok ini. Beauty Kill The Beast (BKTB) adalah kuartet bentukan medio 2003 yang siap mengancam skena musik keras nasional.

Awal tahun ini, tepatnya 25 Januari 2020 lalu, band yang dihuni formasi Wira Putra Setiadi (vokal), Muhammad “chuky” Rizky (gitar), Agus Malik (bass) dan Bagus Dwi Arinto (dram) ini telah merilis “Maniac” via label independen Disaster Records. Butuh jarak satu dekade lebih setelah album “Airez” untuk merampungkannya. Bagi BKTB, kali ini mereka menyerbu dengan amunisi dan formasi yang sempurna.

Sejak Desember 2015 lalu, sesi rekaman “Maniac” telah dimulai, dan berakhir pada Februari 2016. Sementara proses mixing mengalami masa yang tidak sebentar demi mendapatkan sound yang maksimal dan berbeda dibanding album sebelumnya. Dan karena kesibukan para personelnya pula, “Maniac” harus tertunda perilisannya dalam waktu yang lumayan lama.

“Album ‘Maniac’ ini, buat kami, adalah album terbaik yang pernah kami buat,” cetus pihak band kepada MUSIKERAS, menandaskan. “Walaupun panjangnya masa penggodokannya, kami masih yakin kalau materi yang kami bawa masih relevan sampai dengan sekarang. Referensi baru pasti ada. Dulu kami terbatas cuma sampai The Dillinger Escape Plan. Kalau sekarang kami ekspansi referensi dari Trap Them, Trash Talk, All Pigs Must Die, Baptists, bahkan ngebutnya Napalm Death.”

Semua lirik ditulis oleh Wira, vokalis yang sebelumnya tergabung di Dying Distortion dan The Diamond Ice In Flames, dan memang baru bergabung di BKTB menjelang penggarapan “Maniac”. Di album ini, Wira menyorot masalah keseharian yang ditulis secara storikal. Lagu per lagu di album “Maniac” berkesinambungan menjadi sebuah cerita, dimana dunia sudah disesaki orang atau sistem yang menggerogoti realitas kehidupan, yang secara tidak sadar sudah membentuk sebuah monster yang akan menjadi bumerang dari segala tindak-tanduk perbuatannya.

Mengapa liriknya harus berkesinambungan? Dari mana idenya?

“Idenya sih simpel. Sebenernya kami pengen buat liriknya bisa berhubungan dengan keseharian, biar nggak terlalu jauh juga nanti ngebayanginnya. Dan agak sayang juga kalau satu album temanya loncat-loncat. Makanya kami buat konsep liriknya berkesinambungan dan lirik per lirik bisa inline semua.

Dalam kasus ini, musiknya dateng duluan sebelum lirik. Jadi lirik tinggal ngikutin musik aja, tanpa harus ngubah konstruksi musik yang udah jadi. Dan ajaibnya, musiknya cocok dengan lirik yang dibuat.”

Sebelum “Maniac”, BKTB telah merilis album debut “Chronologies of Bleeding Heart” (2006) via label Amanuma Records X Belukar Records dan “Airez” (2009) yang diedarkan oleh Nocturnal Blazze X Amanum. (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.