Langsung saja, Ethology ini adalah unit slamming brutal death metal yang sangat menarik. Kenapa? Karena dimotori dua metalhead dari dua belahan negara berbeda, yaitu Riry Yukie yang berperan sebagai vokalis berasal dari Indonesia, serta gitaris dan programming Dmitry Avdeev yang berasal dari Rusia.
Hanya dalam tiga bulan sejak terbentuk pada pertengahan 2019 lalu, keduanya langsung menggempur dengan dua lagu, yaitu “Cognitive Development Theory” dan “Neurological Disorders” dalam format demo promo. Lalu dua bulan kemudian, sebuah album rekaman mengerikan bertajuk “Ascensien of the Ancient Organismmemuat” telah mereka letupkan via label metal independen asal Spanyol, Pathologically Explicit Recordings.
Bagaimana ihwal pertemuan antara Riry dan Dmitry?
“Awalnya kami hanya berteman di media sosial,” ungkap Riry kepada MUSIKERAS, membuka percakapan.
“Saat itu, Dmitry saya lihat sedang mencari dramer dan vokal untuk salah satu band project-nya. Namun bukan Ethology. Kalau tidak salah genre-nya goregrind, saya lupa namanya. Saya kemudian mencoba menghubunginya, namun ternyata dia sudah mendapatkan vokal pada saat itu. Saya coba menawarkan tentang proyek lain dengan konsep slamming brutal, dan dia tertarik. Saat itu, kami mencoba mengerjakan dan merekam satu lagu, dan kami senang hasilnya, jadi kemudian semua berlanjut. Kami kerjakan promo, dan kemudian album penuh.”
Sebenarnya, lanjut Riry, Ethology sendiri merupakan nama band project Dmitry saat ia masih menempuh pendidikan di Belanda. Namun saat itu masih dalam tahap ‘rencana’, dan sama sekali belum terealisasikan. Jadi Riry dan Dmitry pun sepakat untuk memilih nama itu, atau bisa dibilang merealisasikannya.
“Faktor yang membuat kami sepakat, mungkin kami berada di rel yang sama, dengan pemikiran dan tujuan yang sama. Kami sama-sama menyukai death metal, brutal death metal. Dan satu lagi, ini adalah sesuatu yang berbeda, tidak banyak band yang LDR (long distance relationship) antar negara, dan kami salah satunya. Ini menjadi sebuah tantangan dan sesuatu yang menarik bagi kami,” beber Riry semangat.
Keseluruhan pengerjaan rekaman 10 lagu yang ada di album “Ascensien of the Ancient Organism” dieksekusi secara mandiri oleh Riry dan Dmitry. Proses berlangsung lumayan cepat dan tak terduga, hanya sekitar satu setengah bulan, dan bahkan di luar ekspektasi mereka berdua. Dmitry mengirimkan materi lagu berupa guide kepada Riry melalui email, lalu Riry mempelajarinya, dan kemudian mengeksekusi rekaman vokalnya di Indonesia. Setelah selesai, data vokal tersebut lantas dikirim ke Dmitry.
“Kami melakukanya hampir setiap hari, karena materi direkam dan dikirimkan satu per satu. Komunikasi kami berjalan cukup baik, dan inilah yang menjadi kunci utama. Kami selalu berdiskusi untuk tiap materi yang akan dibuat, dan kemudian Dmitry mengimplementasikanya menjadi sebuah lagu instrumental. Sangat beruntung karena sebelumnya Dmitry pernah menempuh pendidikan audio engineering di SAE Amsterdam, jadi sangat membantu kami dalam pengerjaan album. Untuk mixing dan mastering Dmitry yang mengerjakannya.
Dari segi konsep musikal, Riry mendeskripsikan “Ascensien of the Ancient Organism” banyak mengambil referensi slamming brutal death metal ala Rusia atau Belarus, dengan berkaca pada band-band seperti Abominable Putridity, Extermination Dismemberment dan Abnormity.
“Konsep musik yang tidak terlalu ngebut, dengan riff yang membanting. Musik yang jika seseorang mendengarkannya, akan benar-benar (terdengar) mengajak untuk ber-headbang. Kami masing-masing juga bermain untuk band lain, yang bisa dibilang konsep musiknya lebih ngebut. Jadi kami harus mencari sesuatu yang berbeda di Ethology.”
Dari 10 lagu yang tertuang di “Ascensien of the Ancient Organism”, Dmitry dan Riry juga mengajak musisi tamu, yakni Floor van Kuijk (Floor Gore) dari band Korpse asal Belanda untuk berkolaborasi di lagu berjudul “Neocortex Layers”. (mdy/MK01)
.