Album Terbaru NECTURA Lebur Dua Sisi Metal Dunia

Unit cadas yang disesaki muka lama dari skena metal Tanah Air ini semakin menancapkan identitasnya lewat album terbarunya. Bekerja sama dengan Playloud Records, Nectura telah mengibarkan judul provokatif “Narasi Penantang dari Lanskap yang Ditinggalkan”, sebuah album penuh yang menorehkan eksplorasi berani Nectura, yang perlahan lepas dari zona nyaman mereka selama ini.

Pengaruh kuat dari gaya metal Eropa tentunya masih membekas kuat. Namun kali ini ada persilangan perilaku ala band-band metal asal Amerika yang teridentifikasi dalam permainan instrumennya. Terutama di alur pengisian riff-riff gitarnya. 

Secara teknis, perbedaan metal Eropa dan Amerika terletak pada riffing gitarnya,” cetus gitaris Hinhin ‘Akew’ Daryana kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di Nectura.

Mungkin, lanjut Akew lagi, karena gitaris tandemnya di Nectura, Irvan ‘Abo’ Hardian sering juga mendengarkan band-band metal yang bukan berasal dari Amerika. “Jadi secara teknis, ada penerapan riffing yang rada bluesy sekarang, tidak terlalu banyak penggunaan interval, tidak terlalu melodius, serta pemilihan fill-fill yang dissonant…. Tapi ada juga beberapa trek yang masih mempertahankan gaya Eropa-nya, karena menurut kami itu menjadi salah satu ciri Nectura. Misalnya seperti penggunaan chorus clean voice. (Di album ini) Kami malah cenderung mengolah lagu-lagunya dengan lebih menekankan pada urusan aransemen musiknya. Orientasi band-band Eropa yang biasanya lebih ke gitar kini tidak terlalu dieksplor. Permainan solo-solonya cenderung pendek karena melihat band-band Amerika permainan gitar solonya nggak panjang-panjang….”

Selain untuk porsi dram dan bass, proses rekaman “Narasi Penantang dari Lanskap yang Ditinggalkan” sendiri kebanyakan digarap Nectura di studio rumahan untuk efisiensi waktu dan biaya. Misalnya untuk gitar, Akew dan Abo memaksimalkan trik re-amping menggunakan paduan teknologi prosesor efek gitar Fractal AX8 dan Impulse Response (IR) untuk mendapatkan sound yang diinginkan.

Di album baru yang kurang lebih digarap selama enam bulan ini pula, setelah sebelumnya telah dipanaskan lewat peluncuran single “Kawan Bukan Lawan” pada Januari 2018 lalu, proses adaptasi Akew, Abo, vokalis Agung ‘Owang’ Suwandi dengan dua personel baru, yakni bassis Aulia Akbar dan mantan dramer Burgerkill, Abdul ‘Abah Andris’ tidak terlalu menghadapi masalah berarti. Selain karena memang mereka teman tongkrongan sejak lama, juga ada kesamaan dalam hal selera musik.

“Palingan hal yang perlu disepakati, atau titik tengahnya adalah saat menulis lagu, karena mungkin gaya di band mereka sebelumnya berbeda (dibanding di Nectura). Sejauh ini kerja samanya aman sih, nggak terlalu banyak kendala.”

Di Ujungberung, Bandung pada awal 2012 adalah permulaan geliat Nectura, yang digagas oleh formasi Owang serta dua musisi mantan personel band Beside, yakni Akew dan Paneu (bass). Ketiganya lantas dilengkapi oleh Soni Reffali (dram) dan Gangan “Forgotten” (gitar) untuk kebutuhan manggung. Awal Juli 2012, Nectura merilis dua lagu debut secara gratis, yakni “Threat Minority” dan “Crossing Coward” melalui situs www.reverbnation.com/nectura, yang lantas disusul dengan perilisan album penuh berjudul “Awake to Decide” (Off the Records) pada 14 Agustus 2014. Tak lama setelah itu, tiga personelnya yakni Paneu, Sony (dram) dan Kevin (synthesizer) mengundurkan diri karena tuntutan studi dan pekerjaan masing-masing. Abo sendiri bergabung di menit-menit terakhir proses rekaman “Awake to Decide”. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *