Saat TIME LAPSE PRO Lebur Style Metallica dan Muse

Bayangkan komposisi yang melebur gaya Metallica dengan Muse, kira-kira seperti itulah yang bisa didapatkan dari album “Chronosphere” milik unit alternative rock asal Jakarta ini. Sebuah karya rekaman beramunisikan sembilan lagu yang mengurai kisah perjalanan waktu dan lintas dimensi.

“Chronosphere” sendiri diartikan Time Lapse Pro (TLP) sebagai perjalanan band tersebut ke masa lalu secara musikal. “Kami mengeksplor kembali musik yang menemani kami tumbuh besar, antara lain Metallica, Pantera, Muse dan Guns N Roses. Di album ini, setiap lagu yang dihasilkan adalah hasil perpaduan dari seluruh influence kami dan juga sebagai bentuk respect kami terhadap band-band legendaris tersebut,” tutur pihak band kepada MUSIKERAS.

Lebih jauh, TLP juga menggambarkan konsep musiknya bahkan bisa berada di genre dan nuansa yang berbeda-beda. Mereka mengadopsi sound alternatif yang sudah terlihat di lagu-lagu seperti “Heroes”, “Time Rift” dan “Justice” – yang sebelumnya sudah dirilis sebagai single – namun kini ditambahkan lagi dengan nuansa-nuansa space rock, egyptian dan thrash metal.

Namun satu-satunya hal yang dapat mendeskripsikan sekaligus membedakan mereka dibanding band-band lainnya adalah pada bahasan hal-hal yang tidak biasa di liriknya. “Tidak penting dan mungkin konyol. Seperti kisah cinta berbeda dimensi (‘Time Rift’), mesin penjelajah waktu (‘Chronosphere’), penguasa tunggal dunia (‘Justice’) dan manusia laba-laba (‘Spyder’).”

Sam Christ (vokal/gitar), Archie Arrahman (bass/vokal latar) dan Chris Rus (dram/vokal latar) menggarap album “Chronosphere” di studio rumahan milik Sam Christ dan menghabiskan waktu selama enam bulan. “Tantangan utama kami dalam memproduksi album ini adalah mengatur sedemikian rupa pola kerja kami agar tidak mengganggu warga lain di komplek. Seperti susahnya harus take vokal di ruangan yang akustiknya tidak bagus dan harus merekam ampli gitar dengan master volume yang tinggi untuk mendapatkan tone yang enak sambil memikirkan cara agar tidak mengganggu orang lain.”

TLP yang terbentuk pada 2019 lalu awalnya merupakan band reguler dari kawasan Jakarta Barat. Makna dari nama TLP sendiri didasari oleh cakupan reportoar mereka yang merangkum lagu-lagu dari era lawas sampai yang modern. “Tapi pada Febuari 2019, kami merasa bosan terus-terusan memainkan lagu orang lain (cover). Saat itu juga, kami putuskan untuk mulai menulis materi original. Karena sudah ada embel-embel waktu di nama TLP, maka materi di album pertama ini kami tulis untuk mengenang musik masa kecil kami.”

“Chronosphere” sendiri telah dirilis serentak ke seluruh outlet digital streaming sejak akhir Februari 2020 lalu. (mdy/MK01)

.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
no8
Read More

NO8: Nadin Amizah Versi Modern Metal?

Fenomena band atau solois rock berkedok dan merahasiakan identitas aslinya mulai menjalar ke Indonesia. Salah satunya diadopsi NO8 yang berasal dari Bandung.