Rilis “The Real Weapon”, INLANDER Kembali Angkat Senjata

Bisa dikatakan, sejak berhasil menggaet penghargaan untuk kategori “Best Metal Duo/Group” di ajang bergengsi AMI Awards 2014 lalu, unit crossover/punk/metal asal Jakarta ini sedikit mengerem laju agresinya. Namun kemunculan wabah Covid-19 yang menyerang dunia dan melambatkan segala aktivitas manusia di muka bumi saat ini justru menjadi pemicu kebangkitan band ini untuk kembali berkoar. Dan “The Real Weapon” adalah hasilnya.

Single terbaru yang berlirik Bahasa Inggris ini mengedepankan tema tentang ilmu pengetahuan yang menjadi senjata sebenarnya dalam menghadapi pergolakan yang terjadi di dunia. Pergolakan yang menjadi penjajahan satu pihak terhadap pihak lainnya. Dan bagi Inlander yang dihuni formasi Adi ‘Firman’ Firmansyah (dram/vokal latar), Bani Terasyailendra (vokal/orasi), Radhitya ‘Radhit’ Soerjo (gitar) dan Tomi ‘Tomio’ Goni (bass) ini, hanya ilmu pengetahuan yang bisa melawannya.

“Situasi global saat ini, yang mengubah banyak hal dalam kehidupan kita membuat suatu kesadaran tertentu bangkit. Salah satunya adalah bagaimana ilmu pengetahuan merupakan hal utama dalam menghadapi segala isu dan kejadian di sekeliling kita maupun di belahan dunia lain, yang sesuai dengan tema single kami ini. Karena hal-hal yang terjadi seringkali adalah penerapan dari ilmu pengetahuan yang menguntungkan satu pihak tetapi merugikan pihak lain. Single ini adalah bagian dari pergerakan kami dalam menyuarakan aspirasi yang dikemas dalam suatu harmonisasi karya berupa musik,” papar pihak band kepada MUSIKERAS, meyakinkan.

Seperti karya-karya rekaman Inlander sebelumnya, secara musikal mereka tetap berpegang teguh pada naluri dan insting bermusik para personelnya, ketimbang mencoba menengok kanan-kiri untuk mencari referensi-referensi baru. “Kami tidak mengikuti trend tertentu,” cetus mereka.

Dalam proses penciptaan lagu yang dilakukan Inlander, bunyi-bunyian yang mereka inginkan atau hasilkan biasanya sesuai dengan situasi emosi, suasana, yang dipadu dengan akal, berdasarkan latar belakang pengenalan musik yang telah mereka cerna dan lalui. “Apapun itu, mulai dari ketukan dram, efek bas, efek gitar dan cara memainkannya, serta bagaimana cara bernyanyi, dilakukan senyamannya personel dan dipadukan, yang menurut kami, dalam suatu harmonisasi dalam berkarya.”

Formula seperti itu menghasilkan gaya bermusik serta sound akhir yang tidak banyak berubah dibanding karya sebelumnya, di mana salah satu karakternya berupa ketukan dram yang menjadi ciri khas tetap jelas dimainkan. Begitupun dengan departemen yang berhubungan dengan senar dan efek, masih mencerminkan karya khas yang selama ini sudah dihasilkan. Penerapan yang sama di departemen vokal, gaya bernyanyi semi pidato tetap dipertahankan.

Keseluruhan proses pembuatan single “The Real Weapon” sendiri dilakukan di Darktones studio di Cijantung, yang berlangsung sejak sekitar awal 2020, dimana teknis rekamannya dieksekusi oleh Adria dan Radhit untuk pengolahan mixing dan mastering final.

Oh ya, sebelum merilis “The Real Weapon”, Inlander yang terbentuk pada 2001 silam ini sudah menelurkan dua album studio, yakni “Para Bellum” (Agustus 2011) dan “Ultimatum” (Mei 2013) serta beberapa single lepas.

Nama ‘Inlander’ sendiri diambil dari Bahasa Belanda, yang merupakan julukan untuk kaum pribumi yang bermukim dan mendiami wilayah jajahan imperialis di Bumi Nusantara. Nama itu juga dipilih karena semua personel band ini adalah rakyat pribumi jelata. Kata yang berkonotasi negatif dan cenderung diskriminatif ini menjadi motivasi sosial dan politis untuk menyuarakan slogan-slogan kesadaran dari suara-suara kaum yang tertindas oleh warisan sistem kolonial yang nyatanya masih bercokol di wilayah Nusantara hingga saat ini, dalam bentuk perbudakan mental yang di belakang layar mengendalikan seluruh aspek kehidupan rakyat jelata di seluruh pelosok wilayah Nusantara dengan sadar atau di bawah alam sadar. Inilah yang menjadi tema sentra pada setiap penulisan lirik Inlander, yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan juga bahasa Latin.

Setelah perilisan “The Real Weapon”, Inlander yang pernah dua kali masuk nominasi Indonesia Cutting Edge Music Award (ICEMA) pada 2012 dan 2014 untuk kategori “Best Punk/Hardcore/Post-Hardcore Song” ini mencanangkan untuk terus berusaha bertahan hidup. Ini harus dilakukan agar bisa melanjutkan proses pembuatan album berikut yang saat ini progresnya sudah mencapai 42,0%. Mereka berharap, akhir tahun ini album tersebut sudah bisa diluncurkan secara global. (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
grimlock
Read More

GRIMLOCK: Jubah Baru dalam “Deathbringer”

Usai melepas jubah lamanya, Grimlock lepas “Deathbringer” sebagai penegasan identitas visual baru, plus penegasan karakter musikal yang lebih solid.
threatened
Read More

THREATENED: Kini Lebih Agresif dan Liar

Di lagu rilisan terbarunya, “Nirasa”, Threatened memutuskan merancang ulang identitasnya, termasuk formula musiknya yang kini lebih berat dan gelap.