Berangkat dari berbagai kendala yang menerpa bandnya, terutama dalam hal manajemen waktu yang cukup sulit karena terhadang pekerjaan lain serta jarak domisili yang jauh, melatari lahirnya proyek solo atau ‘one man band’ bernama Nujum. Dengan segala keleluasaan yang dimiliki EM – begitu sang musisi pencetus ide Nujum menyebut namanya – dalam menggarap konsepnya, maka lahirlah album mini (EP) debut bertajuk “Drakhuvud” yang sarat eksplorasi ‘kegelapan’.
Karya rekaman solo karya EM tersebut telah diperdengarkan sejak 4 September 2019 lalu, memuat enam komposisi dengan vokal plus lima trek instrumental.
Nujum yang dicetuskan kelahirannya di Malang, Jawa Timur tahun lalu mengklaim berhasil membuahkan sebuah terobosan terbaru dalam olahan musiknya, dimana EP “Drakhuvud” menganyam leburan deathcore dengan slamming yang lantas dipadukan lagi dengan unsur dark orchestral sebagai karakter kesuluruhan di dalamnya.
“Dari segi musikal, saya dapat deskripsikan bahwa Nujum adalah proyek musik berbasis (sub-genre) dark orchestral dengan elemen aliran dasar deathcore dan slam. Beberapa referensi dasar yang saya ambil untuk materi tidaklah banyak. Karena sebenarnya saya ingin membuat materi dengan susunan konsep lagu solois saya sendiri,” papar EM kepada MUSIKERAS, menegaskan.
Nujum membawakan sebuah materi yang jarang sekali dibawakan. Dengan gambaran dingin yang mencekam, alunan dark orchestral yang menghipnotis, sehingga menghasilkan kemasan keseluruhan yang mengerikan. Aristektur musik yang terkesan angker lantas dipertegas oleh rapalan mantra-mantra lirik yang sarat nuansa kegelapan.
“Saya pribadi (memang) suka dengan segala hal yang bertemakan kegelapan, kengerian, seperti halnya sebuah film yang bertemakan horror, gore, crime, mystics, legends…. Saya ingin sekali membuat musik bertemakan seperti halnya film ber-genre tersebut. Di dalamnya saya dapat menciptakan pemicu yang selaras pada musik dan liriknya untuk menumbuhkan sebuah adrenalin di dalam batin dengan ide-ide yang saya buat.”
Proses pembuatan “Drakhuvud” sendiri berlangsung selama setahun, mencakup pengonsepan artikel, referensi, riffing, tracking dan lirik. Dimulai pada Agustus 2019 hingga September 2020. Eksekusi rekaman serta pemolesan mixing dan mastering dilakukan EM di AbrahamWish. Record yang berlokasi di kota Malang.
“Tempat rekaman ini (sebenarnya) rintisan saya sendiri selaku solois Nujum. Sebenarnya tempat rekaman ini masih belum bisa saya buka karena keterbatasan fasilitas. Jadi untuk percobaan hasil suara dari tracking saya mulai pada penggarapan materi Nujum.”
“Drakhuvud” bisa didengarkan di berbagai platform penyedia jasa dengar musik secara digital (streaming) seperti Spotify, iTunes, Amazon Music, Deezer, Youtube Music, Bandcamp dan YouTube. (aug/MK02)
.
😍😍😍