Duo ini unik. Mereka belum pernah bertemu di dunia nyata, bahkan terpisah provinsi dan pulau. Berkat koneksi internet, kehausan untuk berekspresi di jalur musik cadas akhirnya mempertemukan keduanya. Hasilnya, adalah sebuah single bertajuk “Korosi”, yang menjadi titik awal kolaborasi mereka.
Penyatuan Erixon Sihite (dram/vokal/synth) dengan Arya Akbara (gitar/bass/vokal), yang lantas sepakat mengibarkan nama ERYA, diawali dari rasa jemu akibat pandemi, yang memaksa keduanya bekerja di rumah. Dari situlah mengemuka gagasan bagi Erixon dan Arya untuk membuat sebuah proyek musik. Kebetulan sebelumnya, keduanya sudah sangat akrab di dunia maya lantaran sama-sama menyukai budaya popular yang dikenal dengan istilah ‘meme’.
“Persahabatan virtual kami dimulai dari kebiasaan kami mengunggah meme di media sosial. Hal itu pun berlanjut saat kami saling berkomunikasi via aplikasi Messenger ataupun fitur direct message di media sosial. Canda tawa di antara kami saling mengisi karena budaya meme tersebut. Sukacita ini yang akhirnya membuat kami bisa saling klop berkomunikasi untuk menghasilkan karya yang ada,” beber Erixon kepada MUSIKERAS, mewakili ERYA.
Singkat cerita, proses kolaborasi pun terjalin, dijembatani oleh konsep kantor virtual antara Jakarta – Tangerang dan Pangkalan Bun, Surabaya. Dalam periode Maret hingga September 2020, hasil dari kolaborasi itu pun melahirkan enam lagu, dimana hampir setiap lagu memiliki konsep dan esensi yang berbeda. Namun demikian, semuanya tentu terjalin dalam benang merah yang sama, yaitu musik berkontur metal.
“Pada dasarnya, kami tidak ingin membatasi konsep bermusik ERYA ke depannya, walaupun benang merah dari musik kami sendiri ialah musik metal. Untuk single ‘Korosi’, kebetulan lagu itu mengalir begitu saja saat ditulis dan menjadi lagu metal yang ber-subgenre metalcore. Sempat terpikir untuk memodifikasi lagu itu agak sedikit jauh, tapi lagunya malah terdengar over-production. Akhirnya kami pikir, alangkah baiknya lagu ini diaransemen sedemikian rupa, terdengar lebih straight forward dan pesan yang ingin kami tulis bisa sampai ke pendengarnya,” tutur Erixon lagi, meyakinkan.
Uniknya, referensi Erixon dan Arya sendiri sebenarnya malah berbeda. Meski sama-sama di ranah metal. Erixon lebih cenderung konservatif. Sementara di lain sisi, Arya yang berusia lebih muda memiliki wawasan seputar kondisi skena hari ini. Misalnya, Arya menyelami skena metal djent, sub-genre yang justru tidak terlalu dipahami oleh Erixon.
“Dan Arya memiliki referensi musik djent yang lumayan komprehensif dan kebetulan dia juga dekat dan cukup besar di komunitasnya. Dia sendiri ialah moniker dari multi-instrumentalist djent project yang dinamakan Methiums. Di lain sisi, perbedaan referensi musik di antara kami berdua justru menjadi kunci agar kami bisa saling bersinergi. Bukan hanya dari sisi musikal, tapi juga dari sisi artwork, lirik dan hal-hal pendukung lainnya.”
Di rilisan “Korosi” ini, Erixon dan Arya bertindak sebagai musisi, komposer, engineer hingga art-director secara mandiri. Dan setelah didiskusikan, keduanya memutuskan untuk merilis enam stok lagu mereka tadi secara bertahap, yakni single-per-single. Alasannya, karena ERYA berkomitmen untuk bisa meyediakan konten secara kontinyu dalam periode tertentu ke depannya.
Satu lagi yang pasti – setidaknya untuk saat ini – ERYA bakal terus dijalankan dengan format duo. Kemudahan untuk berkoordinasi adalah alasan utamanya, dimana keduanya bisa menentukan sendiri segala urusan produksi. Terlebih lagi, kendala jarak domisili akan menyulitkan jika misalnya, ERYA diubah ke dalam format band.
“Korosi” yang didistribusikan via VMC Music kini sudah tersedia di berbagai platform digital, di antaranya seperti Bandcamp, YouTube, Apple Music, Spotify, Deezer, Joox dan Langit Musik. (aug/MK02)
.