Tornrot yang baru terbentuk pada 2025 lalu, langsung tancap gas memuntahkan unek-uneknya. Band hardcore asal Surakarta, Jawa Tengah ini telah meluncurkan sebuah album mini (EP) bertajuk “Injustice” pada 12 Mei 2026 lalu.
Karya rekaman yang disesaki lima amunisi tajam ini mengobarkan lirik bernada protes yang tegas dan lugas. Mengungkit masalah ketidakadilan.
“Liriknya 100% kami tulis dari keresahan kami terhadap bobroknya sistem negara ini, ditambah dengan adanya institusi yang harusnya sebagai pengayom masyarakat. Tapi kenyataanya adalah pembunuh masyarakat,” seru mereka.
Para personelnya; vokalis Robby Merat, gitaris Khusnul Nur Hayat dan Andrean Rizky F, bassis Irfan Kartika Nusabhakti serta dramer Terry N. Gultom menciptakan lagu-lagunya sebagai bentuk protes.
Mereka menyuarakan emosi dan keresahan terhadap pemerintahan busuk yang dikuasai oligarki dan para pemangku kekuasaan yang serakah terhadap sumber daya alam dan manusia.
“EP ini berawal dari banyaknya kasus tentang pemerintah dan situasi negara yang semakin bobrok seperti demonstrasi nasional Agustus 2025, hingga bencana banjir Sumatra akibat kerusakan lingkungan,” seru Tornrot kepada MUSIKERAS menegaskan.
Untuk melantangkan protesnya itu, Tornrot menggunakan hardcore sebagai jalan terbaik untuk pelampiasannya. Karena menurut mereka, hardcore bukan sekadar jenis paham musik.
“Menurut kami hardcore adalah sikap dan ideologi. Dan di EP ‘Injustice’ ini memiliki arti ‘ketidakadilan’, dimana kami merasa muak dengan sistem pemerintahan dan isu sosial yang ada saat ini, ditambah dengan adanya institusi yang seharusnya sebagai pengayom masyarakat tapi nyatanya sebaliknya.”

Taring Seringai
Penggarapan EP “Injustice” sendiri dimulai prosesnya dengan membahas riff-riff gitar awal yang dibagikan di aplikasi grup Whatsapp. Setelah itu, dramer lalu membuat pola ketukan lagunya, kemudian dilanjutkan dengan proses jamming di studio.
“Sekaligus, kami memasukkan lirik yang dibuat berdasarkan karakter instrumen dan isu-isu yang sedang muncul. Untuk aransemen kami buat secara bersama-sama di studio, polanya hampir sama untuk setiap lagu.”
Untuk eksekusi rekaman hingga pemolesan mixing dan mastering, keseluruhan digarap di Sufi Records, selama kurang lebih lima bulan. Dikerjakan di sela kesibukan para personelnya.
Dalam EP ini, Tornrot lebih eksploratif dalam meracik konsep musik di setiap lagu, dengan memasukkan berbagai unsur seperti thrash, old school, beatdown hingga stoner.
“Dan secara karakter sound, sedikit lebih noise atau raw dengan karakter vokal yang cenderung berat menjadikan EP ini unik.”
“Hampir di semua track memiliki kesulitan dan tantangan masing-masing tetapi bisa kami eksekusi dengan enjoy jadi tidak ada kendala teknis yang berarti,” ucap mereka meyakinkan.
Saat peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagunya, para personel Tornrot menyebut beberapa band luar dan dalam negeri sebagai sumber inspirasinya.
Di antaranya, ada Power Trip. Trash Talk hingga Taring dan Seringai.
Sementara ini, EP “Injustice” hanya bisa didengarkan di laman Bandcamp serta kanal YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu:
- Lantang Menentang
- Dasamuka
- Rima Senjata
- Otokrasi / Oligarki
- Deforestasi