Yuk, Daftarkan Karya Video Musik Kalian di Ajang INDONESIAN MUSIC VIDEO AWARDS (IMVA)

Untuk mengapresiasi sekaligus sebagai program edukasi, sebuah ajang kompetisi video musik bernama Indonesian Music Video Awards (IMVA) telah digelar.
video musik
OLEG SANCHABAKHTIAR (Foto oleh Dion Momongan)

Video musik (atau video klip) sampai saat ini masih dianggap sebagai salah satu  perangkat promo terbaik untuk sebuah lagu yang dirilis ke publik.

Karya film pendek yang menjadi ekspresi visualisasi dari lagu atau komposisi musik ini bahkan semakin berkembang sejak internet menguasai semesta layar hiburan.

Format yang dulunya hanya bisa disaksikan di layar televisi – yang paling populer lewat saluran MTV – kini dengan sangat mudah diakses lewat YouTube atau kanal media sosial lainnya yang ada di ponsel.

Ketika banyak musisi atau penyanyi tak perlu lagi harus menembus label besar untuk bisa merilis karyanya, turut memicu pula menjamurnya karya video musik independen.

Label rekaman besar tak lagi menjadi motor penggerak utama dalam penggagasan pembuatan video musik untuk promosi produk-produk rilisannya.

Sehingga, jumlah pembuatan video musik kini bergerak signifikan dengan perilisan lagu-lagu yang bebas mengakses platform digital streaming. Tanpa harus melewati proses kurasi dari pihak manapun.

Fakta ini membuat kebebasan berekspresi dalam menggarap sebuah video musik semakin tak bertepi. Setiap penyanyi, band atau musisi bebas menentukan konsep sendiri untuk menerjemahkan pesan-pesan di karya musiknya lewat visualisasi video musik.

Bahkan tanggungjawab sutradara video musik bisa menjadi profesi dadakan dari sang musisi itu sendiri jika ingin menyiasati biaya atau meminimalkan gesekan perbedaan visi.

Entertainment, Edukasi

Bagi sutradara video musik senior Oleg Sanchabakhtiar, sampai saat ini video musik masih berperan penting dalam menggerakkan roda industri kreatif. Khususnya dalam dunia musik.

Dan menurutnya, peran pembuat atau sutradara video musik adalah sebuah profesi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Satu contoh, ketika ditayangkan di YouTube, video musik itu bisa mendatangkan pemasukan finansial.

“Penayangnya dapat income uang loh,” cetus Oleg meyakinkan, saat berbincang santai dengan MUSIKERAS, di sebuah cafe di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, menjelang akhir April 2026 lalu.

“Berarti pembuat video musik adalah sebuah profesi. Jadi perlu disampaikan bahwa ini sebuah pengkaryaan profesi yang legalitasnya jelas. Bahkan sekarang video visual ada sekolahnya,” lanjutnya.

Berdasarkan pemikiran ini pulalah yang memicu Oleg untuk mengagas sekaligus mewujudkan gelaran Indonesian Music Video Awards (IMVA), sebuah ajang kompetisi video musik yang bisa diikuti siapa saja secara gratis.

“Kompetisi ini harus berjalan… Saya bikin karena kewajiban, berkaitan pula dengan keberadaan saya sebagai salah satu pelaku profesi ini. Jadi selain sebagai bagian dari entertainment, juga edukasi.”

Profesional, Amatir

Bicara tentang kompetisi video musik, pemicu lahirnya IMVA berkaitan pula dengan ajang serupa yang pernah digelar pada era 1990-an, yakni Video Musik Indonesia (VMI).

Tapi sayangnya, VMI berhenti dilaksanakan pada Agustus 2002 silam. Semangat itulah yang lantas diteruskan Oleg lewat penyelenggaraan IVMA. Makanya, karya video klip dari era 2002 – tepatnya mulai September 2002 – hingga 2026 masuk dalam penilaian di gelaran pertamanya ini.

Menurut Oleg, video musik yang berlaga di IMVA yang telah dimulai sejak 1 Januari 2026 lalu akan dinilai tiap bulannya untuk mencari pemenang bulanan. Pemenang utama tiap bulan bakal otomatis lolos ke babak grand final.

Penilaian untuk mencari pemenang bulanan sendiri butuh waktu paling lama dua bulan. Misalnya, pemenang video klip terbaik Januari 2026 diumumkan Maret 2026. Begitu seterusnya.

IVMA sendiri akan melombakan tiga kategori utama. Yang pertama, Piala Swaradrisya untuk kalangan sutradara profesional di industri video musik, yang mencakup penilaian Best Music Video, Best Director, Best Producer, Best Fresh Idea, Best Editor hingga Best Art Director.

Dua kategori lainnya, yakni (Rising) Thematic Music Video Competition dan (Youth) Educational Music Video Competition diperuntukkan sutradara amatir atau pendatang baru serta seri kompetisi khusus (Special Competition Series).

Sementara dalam penilaiannya, Oleg bakal melibatkan para sutradara atau sineas berpengalaman seperti Rizal Mantovani, Richard Buntario, Jay Subiakto, Jose Purnomo hingga Upie Guava.

Yang menarik, penilaian untuk video-video musik yang didaftarkan cenderung berkompromi dengan tren yang sedang berkembang. Khususnya di ranah amatir atau pendatang baru. 

Mengingat saat ini, sangat banyak alternatif atau metode dalam mewujudkan sebuah produksi video musik. Tidak mutlak lagi harus dieksekusi menggunakan kamera atau perlengkapan produksi yang berkelas profesional.

Tidak sedikit produksi video musik hanya mengandalkan atau memaksimalkan perangkat ponsel. Bahkan ada yang menggunakan bantuan AI (artificial intelligence).

“Yang penting, pendaftar harus melampirkan sinopsis (videonya). Karena yang dinilai berdasarkan mimpi mereka, bukan mimpi atau selera kami,” ucap Oleg menegaskan.

Dari sinopsis itu, lanjutnya, bisa dianalisa apakah terapannya di video tersampaikan? “Sinopsis dibandingkan dengan hasil akhir (di video)… secara visual dapet gak? Supaya nggak kayak beli kucing dalam karung.”

Sementara untuk peserta yang menggunakan AI, mereka wajib melampirkan naskah prompt (perintah atau instruksi yang diajukan ke dalam sistem kecerdasan buatan).

“Supaya kami bisa tahu bahwa video tersebut benar-benar di-direct (diarahkan),” cetusnya.

Tapi dari video-video yang sudah didaftarkan – yang mana di antaranya juga datang dari ranah lagu-lagu musik keras – Oleg melihat banyak talenta baru yang potensial. Bahkan tidak sedikit yang terlihat mampu mengeksekusi videonya tanpa referensi luar.

Menurut Oleg, bisa dikatakan sekitar 40% tidak berangkat dari latar belakang ilmu visual, hanya berdasarkan idealisme. “Mereka bikin sendiri, bukan berdasarkan referensi. Bawa konsep sendiri. Dan bahkan mereka dari daerah loh, bukan Jakarta. Sekarang udah keliatan bakal calon-calon (nominasi) 10 besar.”

Sementara ini, IMVA digelar tanpa membeda-bedakan genre musik. Tapi lebih fokus pada penilaian hasil akhir karya visual videonya. Karena menurut Oleg lagi, selain kompetisi, program ini intinya dihadirkan sebagai ajang apresiasi, sekaligus edukasi.

Pencapaian Pengagas

Sedikit menengok ke belakang, sosok Oleg Sanchabakhtiar sendiri, sepanjang kariernya tercatat telah melahirkan lebih dari 300 karya video musik dari band serta penyanyi ternama Indonesia sejak era ’90-an hingga kini.

Di antaranya menggarap video musik untuk Godbless, Slank, Iwan Fals, Chrisye, Dewa 19, Kla Project, Edane, Jamrud, Bomerang, Cokelat, /rif, Gigi, Sheila on 7, The Changcuters, Ada Band, Tipe X, Glen Fredly, Fariz RM, Rossa, Agnes Mo, Ruth Sahanaya hingga penyanyi legendaris Malaysia, Sheila Masjid.

Dari karya-karya itu, Oleg juga berhasil mengantongi kurang lebih 100 penghargaan yang di antaranya datang dari ajang MTV Asia, Malaysia Music Award dan VMI.

Info lebih detail, termasuk kategori yang dilombakan dan teknis penilaian di ajang IMVA, bisa dibaca di website Indonesianmusicvideoawards. Atau bisa juga memantau perkembangannya di akun Instagram Planet Design Indonesia. (@mudya_mustamin/MK01)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts