Moose (atau ditulis Møøse) adalah grup pendatang baru asal Sidoarjo, Jawa Timur yang menonjolkan formula atmospheric/post black metal di racikan musiknya.
Konsep itu telah mereka tunjukkan di lagu rilisan tunggal debutnya, berjudul “Valley of Whispers”.
Di lirik karya rekaman awal ini, Moose yang digerakkan formasi vokalis dan penulis lirik Abyudaya Nechallino, gitaris Andy Pratama dan Cayo Wibowo, bassis R. Febrianto (Ano) serta dramer Dhiyan Purwauzi ini merangkum realitas sosial.
Sebuah hasil dari eksplorasi atas kecemasan kolektif, ketika berita tentang kegagalan sistem dan krisis kemanusian terus terglorifikasi di ruang sosial. “Valley of Whispers” menjadi reflektifitas seseorang yang terjebak pada absurditas sistem yang ada.
Moose menggarap “Valley of Whispers” di studio MWH Records selama satu bulan dengan bantuan Arfan Maulana Wardana di kursi produser, sekaligus bertanggungjawab mengolah tahapan mixing dan mastering.
Dalam penggarapan musiknya, Abyudaya dan rekan bandnya mengacu pada referensi grup musik post black metal hingga atmospheric black metal macam Agalloch, Møl dan Heretoir. Mereka mengadopsi sonik bernuansa gelap dan muram serta melankolis.
“Secara musikal, black metal yang kami usung jujur tidak berfokus pada agresi atau kecepatan semata,” ucap Abyudaya kepada MUSIKERAS, mewakili rekan-rekannya di band.
Menurutnya, Moose lebih menekankan pada pembangunan kejujuran personal, atmosfer dan perenungan (pensive).
“Makanya kalau kalian lihat, kami sedikit nge-raw dibanding black metal atmospheric/post black yang lainnya. Pondasi kami adalah kejujuran (personal).”

Dimensi Lain
Selain itu, Abyudaya juga menegaskan bahwa pendekatan musik bandnya lebih kepada dinamika emosi di dalam lagu. Mereka tidak ragu memasukkan unsur naratif yang muram, tempo yang fluktuatif dan personal. Bukan sekadar tema-tema okultisme klasik.
“‘Valley of Whispers’ adalah representasi dari ruang sunyi dimana keputusasaan dan keindahan bisa melebur menjadi satu lanskap sonik.”
Bagi para personel Moose, black metal dalam formula mereka adalah kanvas terbaik untuk mengekspresikan emosi-emosi manusia yang paling jujur, seperti isolasi, kesunyian dan kerapuhan.
Sub-genre tersebut punya kemampuan magis untuk membawa pendengarnya masuk ke dalam ‘dimensi lain’ lewat intensitas musiknya.
“Kami memilih mengeksplorasi ranah ini karena kami merasa ada kecocokan spiritual dalam menyampaikan energi somber (muram) ke dalam aransemen musik ekstrem.”
“Ini bukan cuma soal genre musik,” lanjut Abyudaya lagi, “Tapi soal bagaimana kami mentransfer rasa sunyi dan megah secara bersamaan ke telinga pendengar.”
Meski baru diproklamirkan kelahirannya, “Valley of Whispers” bukan satu-satunya karya Moose yang telah digarap. Saat ini, band ini bahkan tengah menggodok sebuah album mini (EP) yang ditargetkan memuat empat lagu.
Mereka berharap bisa rampung pada akhir tahun ini, mengingat kesibukan masing-masing personelnya. Sejauh ini, tahapan produksi telah berjalan 45% dan sudah siap melangkah ke proses rekaman, mixing dan mastering hingga ke penyusunan strategi pemasarannya.
Sejak 15 Mei 2026 lalu, “Valley of Whispers” telah tersedia di berbagai platform musik digital. Termasuk di kanal YouTube Music. (@mudya_mustamin/MK01)