Sangkal melakukan pendekatan black metal dan post black metal yang atmosferik, padat dan emosional namun tanpa dibuat berlebihan di rilisan album debut pertamanya, “Niskalafana”.
Di karya rekaman yang memuat tujuh trek berasap ini, band asal Pringsewu, Lampung ini lebih menitikberatkan pembentukan suasana dan dinamika dibanding sekadar agresi.
Dibangun dengan terapan lapisan ambience, riff yang repetitif, tempo yang bergerak naik turun serta nuansa melankolis menjadi benang merah di seluruh materi.
Tema liriknya sendiri, berbicara tentang kekosongan, keterasingan, perubahan dan usaha manusia untuk memahami dirinya sendiri, di tengah keadaan yang terus bergerak dan perlahan memudar.
Sebagai album penuh pertama, “Niskalafana” diproyeksikan menjadi fondasi awal identitas Sangkal — atmosferik, gelap, namun tetap lugas dalam penyampaiannya.
Kepada MUSIKERAS, gitaris Welby Cahyadi mengungkapkan bahwa proses kreatif peracikan produksi “Niskalafana” berlangsung cukup panjang.
Bahkan materi-materi awal sudah mulai ia kerjakan sejak perilisan lagu rilisan tunggal pertamanya, “The Day of Redemption” pada 25 Desember 2021 lalu.
Dari situ, lalu terus berkembang hingga akhirnya album tersebut rampung sekitar lima tahun kemudian.
“Seluruh lagu di album ini saya tulis sendiri, karena pada awalnya Sangkal merupakan sebuah proyek solo yang kemudian berkembang menjadi sebuah band,” cetus Welby mengungkap latar belakangnya.
Meski demikian, dalam proses pengembangannya, personel lainnya turut berkontribusi. Vokalis Iqbal Syuhada menulis lirik, sementara dramer Kiki Oktariansyah mengembangkan pola isian dram.
“Hal tersebut membuat setiap lagu memiliki warna yang lebih hidup tanpa kehilangan identitas utama yang ingin saya bangun sejak awal.”
Melankolis, Shoegaze
Sejak awal, Welby yang mengerjakan sebagian besar rekamannya di studio pribadinya sendiri, dan personel lainnya tidak ingin terburu-buru dalam menyelesaikan “Niskalafana”.
Setiap lagu melalui proses pengembangan yang cukup matang agar memiliki identitas dan nuansa yang kuat. “Sekaligus, tetap terhubung sebagai satu kesatuan cerita dalam ‘Niskalafana’.”
Di tahapan terakhir, yakni dalam proses mixing dan mastering, pemolesan karya rekaman Sangkal tersebut dibantu oleh Dzikki Syifaul Hamadi (Doyok), yang berhasil menerjemahkan visi bunyi dari “Niskalafana” hingga mencapai hasil akhir yang diinginkan.
“Secara musikal, ‘Niskalafana’ dibangun dari fondasi black metal yang kami padukan dengan elemen post-metal dan death metal,” cetus Iqbal mengupas visi musik Sangkal lebih jauh.
“Kami tidak hanya mengejar kecepatan atau agresi, tetapi juga membangun suasana yang imersif melalui dinamika, tekstur gitar yang luas dan komposisi yang berkembang secara bertahap.”
Namun yang membuat konsep Sangkal berbeda, adalah cara mereka menyeimbangkan atmosfer dan agresi. Kata Iqbal, kebanyakan band post-black metal cenderung bergerak ke arah yang lebih melankolis atau shoegaze.
“Sementara kami tetap mempertahankan karakter gelap, dingin dan brutal dari extreme metal. Di saat yang sama, kami memberi ruang bagi bagian-bagian yang reflektif dan emosional untuk memperkuat narasi setiap lagu.”
“Niskalafana” juga bukan sekadar perpaduan genre, tetapi sebuah perjalanan antara kehancuran, kontemplasi dan harapan yang samar. “Kontras itulah yang menjadi identitas album ini!”
Membangun konsep semacam itu, dan menerapkannya di tujuh lagu yang menyesaki album, tentu tidak mudah. Misalnya di salah satu komposisi yang paling menonjol di album ini, yang berjudul “Pirau”.
Secara musikal, tutur Iqbal, lagu tersebut dibangun dengan pendekatan yang lebih disonan, progresif dan tidak terikat pada pola tempo yang konstan.
“Struktur yang panjang dan terus berkembang sengaja kami gunakan untuk menciptakan rasa tidak nyaman serta ketegangan yang semakin menekan seiring perjalanan lagu.”
Sementara dari sisi lirik, “Pirau” juga merupakan karya paling gelap dalam kemasan album “Niskalafana”. Lagu tersebut ditulis dari sudut pandang orang pertama yang berada dalam titik terendah kehidupannya.
Seseorang yang perlahan kehilangan harapan, mengalami penderitaan yang berkepanjangan, hingga keyakinan dan imannya mulai terkikis oleh realitas yang dihadapinya.
Inspirasi utama “Pirau” diungkapkan Iqbal berasal dari refleksi pihak band terhadap penderitaan masyarakat di sekitar kawasan tambang, yang harus hidup berdampingan dengan berbagai dampak sosial dan lingkungan.
“Namun alih-alih sekadar menjadi kritik langsung, ‘Pirau’ berusaha menghadirkan pengalaman emosional dari mereka yang merasakan luka tersebut secara nyata, seolah pendengar berada di dalam pikiran dan perasaan mereka sendiri.”

Interpretasi, Eksplorasi
Dalam peracikan komposisi serta aransemen lagu-lagu di album, Sangkal yang kini juga diperkuat gitaris Marthin Yudha dan bassis Angga Prasetyo tidak menampik adanya beberapa acuan atau referensi dari luar.
Menurut Welby, referensi utama paling banyak memengaruhi proses penulisan datang dari band-band seperti Deafheaven, Deftones dan Russian Circles (AS) serta Der Weg einer Freiheit (Jerman) dan Oathbreaker (Belgia).
“Masing-masing memberikan pengaruh yang berbeda, mulai dari pendekatan terhadap nuansa, dinamika komposisi hingga cara membangun emosi dalam sebuah lagu.”
Namun Welby yang tercatat juga tergabung di band BongaBonga ini, pun menegaskan bahwa “Niskalafana” tidak dibangun sebagai reproduksi dari referensi-referensi tersebut.
Pengaruh yang mereka ambil lebih berupa pendekatan bermusik dan cara mereka membangun identitas karya.
“Bukan formula yang kemudian disalin mentah-mentah. Sejak awal, fokus utama saya adalah menciptakan identitas yang kuat dan karakter yang jelas bagi ‘Niskalafana’!”
Karena itu, meskipun pendengar mungkin dapat menemukan benang merah dengan beberapa band yang Welby sebutkan, album ini tetap lahir dari proses interpretasi dan eksplorasi dirinya sendiri.
“Pada akhirnya, referensi hanyalah titik awal; identitas ‘Niskalafana’ dibentuk oleh visi musikal yang saya kembangkan selama proses pengerjaan album ini.”
Sejak 15 Mei 2025 lalu, “Niskalafana” sudah bergolak di berbagai gerai digital. Termasuk di laman Bandcamp serta kanal YouTube. (@mudya_mustamin/MK01)
Susunan lagu: