Untu adalah band yang menganut konsep experimental death thrash, yang memadukan extreme metal gaya lama dengan instrumentasi gamelan Jawa.
Pengagasnya adalah vokalis, gitaris sekaligus komposer, Sean Hayward, yang kini menetap di Yogyakarta, Indonesia. Ia meraih gelar Doktor Seni Musik dari California Institute of the Arts dalam bidang performance dan komposisi.
Sean juga pernah menjadi dosen di California Institute of the Arts (komposisi dan gamelan kontemporer), UCLA (gamelan Jawa) dan ISI Yogyakarta (etnomusikologi/komposisi).
Di luar itu, sang musisi juga merupakan penerima dua kali hibah Fulbright, yang ia gunakan untuk mempelajari musik bambu dari Banyumas.
Disamping merakit eksistensi Untu, Sean juga aktif menggubah musik untuk film, merekam suara alam serta menciptakan efek suara untuk instalasi seni.
Cikal bakal Untu sendiri sebenarnya sudah menggeliat sejak 2015 silam di Los Angeles, AS sebagai ansambel besar di California Institute of the Arts, dimana Sean bertindak sebagai pendiri sekaligus komposernya.
Bahkan Sean sempat merilis album mini (EP) “Rats of Oran” pada 13 April 2019 silam (bisa didengarkan di laman Bandcamp), bekerja sama dengan vokalis dan komposer Jessika Kenney.
Pada 2025 lalu, proyek Untu dibentuk kembali di Yogyakarta dalam format yang lebih ramping dan agresif. Sean menggali mitologi Indonesia dan filosofi eksistensialis di tema lagunya. Mengeksplorasi tema takdir, ritual dan kesia-siaan.
Di versi terbaru ini, Sean mengajak dramer Aryo Kusumojati, bassis Aristo Axel Tanor, pemukul gong Mustika Garis Sejati serta dua pemain demung (salah satu instrumen dalam keluarga gamelan), Suseno Setyo Wibowo dan Susilo Nugroho untuk memperkuat formasinya.
Keselamatan, Penundaan
“Batara Kala”, menurut Sean, mengeksplorasi konsep Ruwatan, sebuah ritual untuk memohon perlindungan dari dewa yang namanya menjadi judul lagu ini.
“Kita bisa memohon, kita bisa berdoa, namun pada akhirnya, waktu melahap kita semua. Kami ingin lagu ini terasa tak terelakkan,” cetusnya.
Dalam mitologi Jawa, dewa Batara Kala adalah dewa kehancuran dan waktu, lahir dari benih yang tumpah dari Batara Guru (Siwa), cacat dan rakus, dikutuk untuk melahap segalanya.
Satu-satunya perlindungan darinya adalah Ruwatan, sebuah upacara ritual yang bertujuan untuk menenangkan sang dewa dan melindungi yang rentan dari laparnya.
Separuh pertama lagu “Batara Kala” mengikuti struktur ruwatan: penjelasan tentang asal-usul Batara Kala, diikuti dengan permohonan dari dhalang untuk mendapatkan perlindungan.
Separuh kedua mengeksplorasi kesia-siaan ritual tersebut dari sudut pandang eksistensialis.
“Kamu bisa memohon, mempersembahkan dan menjalankan setiap upacara dengan benar, namun pada akhirnya waktu melahap segalanya. Ruwatan bukan keselamatan. Ia hanyalah penundaan.”
Tema itu, lantas disampaikan lewat gemuruh keberingasan death dan thrash metal dalam tradisi Sepultura awal, Demolition Hammer serta Carcass era album “Heartwork” yang dirilis pada 18 Oktober 1993.
Lalu dibaluri elemen gamelan Jawa yang dijalin ke dalam riff, namun bukan sekadar dijadikan ornamen. Hasilnya adalah sesuatu yang terasa kuno sekaligus brutal.
“Batara Kala” sudah tersaji di berbagai gerai digital, yang disertai video klip. Lagu ini juga merupakan menu pembuka dari EP “Yet, I Smile” yang dijadwalkan rilis pada Desember 2026 mendatang.

Tikus Membusuk
Lebih jauh di balik pembentukan Untu serta perumusan konsep musiknya, berikut ulasan Sean Hayward kepada MUSIKERAS:
Ceritakan proses kreatif saat menjalani produksi rekaman “Batara Kala”….
“Lagu ‘Batara Kala’ dikomposisikan pada bulan Oktober dan November 2025. Biasanya, dalam proses menulis lagu Untu, aku bolak-balik antara gitar dan demung. Kadang gamelan yang lebih dulu, kadang gitar, kadang keduanya muncul bersamaan.
Setelah komposisi selesai, kami mencoba main lagunya bersama selama beberapa bulan, mencari bagian mana yang berhasil dan mana yang tidak. Revisi-revisi.
Untuk rekaman, kami merekam gitar, dram dan vokal di Watchtower Records di Yogyakarta. Satu-satunya studio di Jogja yang saat ini memiliki (ampli) Peavey 6505 yang masih berfungsi.
Bagiku, sangat penting untuk menggunakan amplifier sungguhan dan bukan ampli simulasi pas rekaman. Lalu gamelan dan bass direkam di studio rumahku yang kecil, Nowhere Found Studio.
Untuk video klip, semua time-lapse footage dan wayang direkam di depan rumahku. Itu proses yang cukup tidak nyaman, bisa dibayangkan bagaimana bau tikus mati yang membusuk setelah tiga hari (video klip ini menampilkan footage wayang kulit, time-lapse pembusukan tikus dan buah).
Footage band direkam di Balai Budaya Karangkitri. Keseluruhan proses akhirnya selesai pada awal Mei 2026.”
(Tonton video musiknya di tautan kanal YouTube ini)
Deskripsikan konsep musik yang diterapkan di “Batara Kala”!
“Secara musikal, kami berusaha menemukan keseimbangan antara dua bahasa musik yang sangat berbeda ini. Aku tidak mau memaksa band untuk hanya main karawitan, dan aku tidak mau gamelan hanya ‘mengikuti’ riff-riff metal.
Jadi sering sekali, aku secara sengaja menggali bentuk-bentuk musikal dari wayang atau jathilan yang sudah cocok dengan metal, seperti gangsaran, imbal dan lain-lain.”
Apa yang menjadi tantangan utama dalam penggabungan elemen metal dengan gamelan? Khususnya dalam hal teknis perekaman, sinkronisasi notasi, tangga nada (scale) dan lainnya….
“Mengenai scale dan tuning, pelog sudah terasa sangat ‘metal’, meskipun hanya memiliki tujuh nada (aku tidak suka menganggap ini sebagai keterbatasan).
Ketika aku menulis dari gitar, skala itu selalu dipikirkan sebagai kerangka kasar. Tuning (penalaan) yang kami gunakan untuk gamelan adalah tuning standar (RRI Solo). Kami menyesuaikan gitar dan bass untuk mencocokkan satu atau dua nada; untuk nada-nada lainnya, kami membiarkan disonansi tambahan itu membuat suaranya semakin brutal dan ‘crunchy’.
Bagian paling eksperimental dalam lagu ‘Batara Kala’ mungkin bridge-nya yang ada mantra ruwatan. Ini mainnya sangat non-konvensional untuk gamelan, berfokus pada disonansi-disonansi yang sangat dekat dan disengaja biar ada efek mengkilap.
Untuk notasi, gamelan menggunakan notasi kepatihan untuk mempelajari lagu baru (lama-lama dihafalkan), sementara musisi metal belajar langsung tanpa notasi.
Salah satu tantangan yang terus ada dalam latihan adalah soal memulai sebuah bagian lagu, karena dalam metal ‘satu’ adalah ketukan kuat. Sedangkan dalam gamelan ketukan kuatnya yaitu ‘empat’. Tetapi pada saat ini kami sudah cukup terbiasa.
Mengenai rekaman, ada dua tantangan utama. Pertama adalah soal keseimbangan keseluruhan. Metal sudah sangat keras dan memiliki spektrum frekuensi yang sangat penuh, jadi menemukan ruang untuk gamelan pasti rumit.
Bagi metalhead, gamelan akan terasa terlalu keras. Bagi pemain gamelan, band metal yang akan terasa terlalu keras.
Pada akhirnya, kami harus hati-hati dalam membagi ruang frekuensi untuk semua instrumen dan merencanakan bagian-bagian tertentu, di mana kami ingin gamelan ditonjolkan, dan di mana kami tidak masalah kalau gamelan hanya mengambil peran tekstural atau ambiens.
Tantangan kedua adalah soal low end. Gong adalah Boom sub yang sangat ‘gwuedhe’ (gong kami berdiameter 1 meter)! Mencari cara agar gong bisa bekerja dengan baik bersama kick drum dan bass adalah perjuangan yang terus berlanjut, dan membutuhkan penggunaan kompresi dan gating yang kreatif dan mungkin kurang biasa.
Namun, aku rasa jika Anda mendengarkan dengan speaker yang memiliki sub yang lumayan oke, kami berhasil menemukan keseimbangan yang cukup kuat dalam rekaman ini.”
Menurut Anda, apa yang menarik dari musik gamelan dan apa alasan di balik pembentukan band ini?
“Menurut aku, gamelan Jawa adalah salah satu bentuk kesenian paling kompleks dan indah yang pernah diciptakan manusia. Gamelan mampu mengekspresikan berbagai macam emosi dan keadaan jiwa yang sangat variatif.
Aku harus mengakui kalau sebenernya sedikit khawatir Untu mungkin akan memperkuat persepsi (yang keliru) bahwa gamelan itu hanya menyeramkan. Padahal gamelan bisa mengekspresikan banyak hal.
Gamelan bisa romantis, inspiratif, lembut, dan sebagainya. Tetapi dalam konteks Untu, kami memang biasanya mengeksplorasi sisi agresif dan megah.
Sejak pertama kali aku mulai main gamelan, rasanya sudah cukup ‘metal’ bagi aku. Gong-gong besar, ukiran naga, legenda buto dan perang epik. Semuanya sangat teatrikal dan berlebihan, tetapi membawa tema-tema filosofis yang sangat dalam, dengan cara yang mengingatkan aku pada metal.
Ketika aku sudah cukup menguasai gamelan untuk merasa nyaman berkomposisi, ide menggabungkannya dengan metal sudah terasa kayak hal yang jelas harus dicoba.
Alasan aku membentuk Untu sama dengan alasanku untuk membuat musik apapun: aku ingin tahu seperti apa suaranya!”
Sejauh ini, bagaimana progres persiapan menuju perilisan EP “Yet, I Smile”?
“EP ‘Yet, I Smile’ akan berisi empat lagu, masing-masing dengan video klipnya sendiri. Semua lagu ini dianggap sebagai bab-bab dalam sebuah karya yang lebih besar; sebuah meditasi tentang mitos, ritual, kesia-siaan, dan keteguhan jiwa manusia dalam menghadapi absurditas; kejawen yang dilihat melalui lensa eksistensialisme.
Semua lagu sudah selesai (tahapan) mixing dan mastering, sementara video klip saat ini masih dalam proses produksi. Satu lagu akan dirilis setiap dua bulan, dengan EP lengkap tersedia pada awal Desember.” (@mudya_mustamin/MK01)