Album Debut dan “The Best of ROTOR” Dirilis dalam Format Kaset

Untuk kedua kalinya, album rekaman metal fenomenal “Behind the 8th Ball” karya Rotor pada 1992 silam kembali dirilis ulang. Setelah diluncurkan dalam format cakram padat (CD) oleh label Zim Zum Entertainment pada 10 November 2018 lalu, kini giliran label independen RabonSick Records yang mengemasnya kembali. Tapi kali ini hanya dalam format kaset.

Selain itu, RabonSick juga sekaligus merilis kumpulan lagu-lagu terbaik Rotor – setidaknya menurut versi pihak label – yang diberi judul “The Best of Rotor”. Kompilasi ini juga disuguhkan dalam format kaset dan diedarkan dalam jumlah terbatas. Hanya sebanyak 150 keping. Ada 12 lagu yang terpilih untuk menyesaki kemasannya, di antaranya komposisi “Behind the 8th Ball”, “No War Always Peace”, “Curse of Leak”, “Peluit Phobia”, “My Name is Santet”, “Diplomasi Gila” hingga “Sejatining Manungso”.

Amunisi tersebut dicomot dari empat album studio Rotor, yaitu “Behind the 8th Ball”, “Eleven Keys” (1995), “New Blood” (1996) dan “Menang” (1997). Oh ya, rilisan lain yang memuat lagu-lagu dari empat album tersebut juga pernah diedarkan oleh Rotorcorp Records dalam format dobel CD pada 2010 silam. Sementara pada Maret 2019 lalu, pihak Warner Music Records juga memberikan kontribusinya dengan merilis resmi versi digital album “Eleven Keys”, “New Blood” dan “Menang” di Spotify, Joox dan Apple Music, dengan kualitas suara remastered

Menurut informasi yang disampaikan vokalis, gitaris dan pendiri Rotor, Irfan Sembiring kepada MUSIKERAS, pemilihan lagu-lagu “The Best of Rotor” tersebut diserahkan sepenuhnya kepada pihak RabonSick dan direstui oleh Rotorcorp dan Warner Music Indonesia sebagai pemegang lisensi. “Gue pikir gue udah lama nggak terjun di skena metal Indonesia, jadi gue anggap mereka lebih tahulah selera metalheads,” ujar Irfan beralasan.

Rotor yang terbentuk di Jakarta pada 1991 silam, meroket namanya setelah sukses menjadi band pembuka konser monster metal asal Amerika Serikat, Metallica di stadion Lebak Bulus, Jakarta pada 1993. Momen istimewa yang terjadi tak lama setelah mereka merilis “Behind the 8th Ball” via Airo Records, label rekaman independen milik pengusaha, musisi dan budayawan Setiawan Djody.

Usai melahirkan empat album, Rotor dinyatakan bubar. Apalagi setelah bassisnya, Juda Pranyoto meninggal dunia karena kelebihan dosis narkoba. Setelah itu, menyusul pula vokalis Jodie Gondokusumo. Irvan sendiri lantas gantung gitar dan memutuskan menekuni kegiatan-kegiatan dakwah. Pada 2011, sebenarnya Irvan sempat berniat menghidupkan Rotor kembali dengan menggaet personel-personel baru, namun terhambat sulitnya membagi waktu antara aktivitas dakwah dan band.

Oh ya, kisah tentang “Behind the 8th Ball” sendiri ternyata masih terus bergulir. Setelah rilisan versi RabonSick, bakal menyusul lagi versi dari Elevation Records, yang untuk pertama kalinya bakal mengabadikan album “Behind the 8th Ball” dalam format piringan hitam (vinyl). Irfan memberi bocoran, bahwa kini prosesnya sudah melewati tahapan mastering di London.   Jika tak ada kendala, vinyl Rotor tersebut bakal bisa dikoleksi oleh metalheads mulai Januari 2021 mendatang.

Ketika ditanya bagaimana ia melihat “Behind the 8th Ball” yang sampai saat ini masih saja menjadi perbincangan di kalangan pemuja musik keras sejak dirilis pertama kali pada 28 tahun silam, Irfan menjawab enteng, “Rasanya ya biasa aja. Kan kami yang bikin album itu. Nothing special. Gue malah suka berangan-angan album ‘Reign in Blood’ (Slayer) atau album pertama Rage Against the Machine itulah album perdana Rotor… hahaha!” (mdy/MK01)

.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Related Posts
carousels
Read More

CAROUSELS: Metalcore, Synth, Saksofon!

Gagasan lama yang muncul di 2019 silam, akhirnya diwujudkan Carousels di lagu terbarunya. Mengombinasikan synthwave, metalcore dan saksofon!
rahasia intelijen
Read More

RAHASIA INTELIJEN: Berharap Bisa Merilis EP

Unit metal alternatif Jakarta, Rahasia Intelijen akhirnya menguak kasus baru lagi, lewat lagu berlirik tajam, tentang narasi religius yang berlumuran darah.
hellcrust
Read More

Ini Perbedaan HELLCRUST dan DARKSOVLS

Bangun dari hibernasi, Hellcrust rilis lagu terbaru, “Rekonstruksi Kerak Neraka”. Tapi yang mengejutkan, kali ini formasinya sama persis dengan Darksovls!
splitfire
Read More

SPLITFIRE: Dari Club/Cafe ke Panggung Rekaman

Kenyang manggung di berbagai cafe dan club di Indonesia, bahkan hingga ke kawasan Asia Tenggara, kini Splitfire makin mantap selami industri musik rekaman.